Agustus 14, 2022

Malam Senin di Bulan Agustus

@popartjakarta2022

Hai, ini aku seorang yang kini khawatir akan dirinya. Bagaimana tidak. Umurnya sudah lebih seperempat abad. Sudah hampir tiga dasawarsa. Ia lantas belum tahu akan seperti apa jalan ceritanya. Padahal sejatinya ia memang tidak akan pernah tahu sama seperti para lakon lainnya di belahan bumi manapun.

Aku yang dulu berambisi ini itu. Kini sekadar bisa melakukan aktivitas kesibukan di akhir pekan. Mondar-mandir ke satu tempat ke tempat lain. Singgah ke sekian tempat. Bertemu kawan lama maupun orang baru. Dulu dengan pongahnya, memandang orang yang menjalani kehidupan dengan nerimo apa adanya sebagai hal yang kurang greget. Nyatanya, aku sekarang seolah mengalaminya. Aku tak lagi berambisi ingin ini itu. Rasanya hidup sederhana yang penting dekat dengan keluarga sudah bahagia. Toh banyak kenikmatan yang berujung membosankan. Bukannya aku kurang bersyukur, namun memang kecukupan itu datangnya dari diri kita sendiri. Meski sering inginnya dinamis.  

Jadi kemarin aku baru saja mengalami kegagalan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Sebelumnya pula, aku gagal meraih nilai yang mumpuni di ujian SKD ASN. Selisih 5 poin saja memang untuk bisa maju ke SKB. Ya namun memang belum jalannya saja untuk kesana. Bukankah dulu kamu ingin untuk bekerja pindah kesana dan kemari. Sekarang dikabulkan toh. Sedari lahir di Sidempuan, lantas pindah ke Purwokerto untuk lanjut SMA, bekerja di Bintaro Sektor 9, lanjut ke Batam dan Pulau Posek bersama ENJ, lalu bekerja kembali di Ciracas, sempat ke Kutai Barat, Subang, Batang, dan kini di Karawang. Selain itu bukankah sudah banyak kota dan tempat yang sudah disinggahi meski hanya sekadar untuk berlibur atau menenangkan diri dari kesibukan.

Yuk bisa, khawatir boleh saja. Tapi semua akan ada jalannya. Jangan lama dan keseringan melihat pencapaian orang lain. Bukankah kamu juga sudah cukup awesome bisa pergi kemana-mana yang mungkin orang lain ingin pergi ke tempat itu. 

Kini aku sedang berada di angkot Cikampek menuju ke Cilamaya. Beruntung sekali bukan, kamu masih bisa pergi-pergi. Bertemu keluargamu meski libur hanya sehari seminggu. Lihat di luaran sana. Banyak yang tidak seberuntung kamu. Yang harus mengais rezeki di malam hari seperti supir angkot yang kamu naiki. Ibu paruh baya yang harus belanja ke pasar untuk bisa berjualan esok hari. Bersyukurlah banyak. Sekarang kamu sedang ditempa untuk menjadi kuat dan tetap melihat orang-orang di bawah.

Tak usah risau dengan hari esok. Namun tetap saja. Kekhawatiran itu sering hadir. Khawatir akan jodoh dan rezeki. Astahgfirullah. Padahal semuanya telah digariskan. Yuk kurang-kurangi resah dan gundah. Mending fokus dengan apa yang sedang dijalani sekarang. Perihal itu, biarkan saja Tuhan yang menuntaskan garisan takdirnya. Yang penting tetap berusaha dan berdoa. Sembahyang lima kali sehari. Bersedekah. Berpuasa. Ibadah tetap yang utama.

Bahkan tadinya aku khawatir angkot ini tidak akan sampai ke Cilamaya karena sedikitnya sisa penumpang. Sebab kebanyakan penumpang biasanya turun di pantura atau sebelum Pasar Gempol. Nyatanya kekhawatiran itu terselamatkan dengan takdir Tuhan. Ada nenek paruh baya dan bapak yang turun sekitaran Cilamaya. Lihat, Tuhan itu Maha Baik kan. Selalu saja memudahkan urusanmu. Tapi kau selalu teledor untuk bersyukur dan khawatir akan hidupmu.

Baiklah. Aku hendak turun sebentar lagi. Kita sudahi kegelisahan malam ini. Esok senin banyak deadline pekerjaan. Semoga hidupmu baik dan bahagia ya.
Share:

Instagram