Tampilkan postingan dengan label Wisata Purwokerto. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wisata Purwokerto. Tampilkan semua postingan

Juni 28, 2018

Jembatan Kaca Magnet Caping Park Purwokerto

Jembatan kaca Caping Park
Geliat pariwisata Purwokerto semakin hits dengan hadirnya obyek wisata Caping Park di Desa Kebumen Baturraden. Obyek wisata ini dibuka sejak awal Juni 2018 lalu dengan menawarkan konsep wisata edukasi sekaligus wahana bermain dengan alam dan lingkungan. Dengan pemandangan lanskap Purwokerto di sebelah selatan, Gunung Slamet di arah utara, momen sunrise maupun sunset.
Area ternak hewan dan kebun bunga
Jembatan kaca lantas menjadi magnet yang paling digemari pengunjung untuk dapat menjajal sensasi di atas jembatan sepanjang 17 meter yang mengarah ke tebing jurang dengan view yang indah bila cuaca sedang cerah. Untuk mencoba jembatan ini, kita diharuskan melepas alas kaki dan menggunakan sandal yang disediakan disana. FYI gaes, khusus untuk mencoba wahana ini kita membayar lagi sebesar Rp10.000.  
Swafoto dengan latar lanskap Purwokerto
Obyek wisata ini memang masih baru banget. Pembangunannya pun belum rampung total seperti di area parkiran yang belum beraspal. Nantinya akan ada agrowisata dan penginapan yang sedang dibangun. Namun pengunjung tetap bisa mencoba area wisata yang sudah ada seperti spot swafoto dengan bermacam properti, kebun bunga, camping ground, dan peternakan mini dengan hewan seperti burung, kelinci, domba, sapi dan ikan.

Hewannya ada di dalam kandang
Tempat wisata ini juga punya teater alam (area tanah lapang) yang saat pembukaan kemarin menyajikan kenthongan Banyumasan. Selain itu, Caping Park menyajikan festival kesenian lainnya jika dilihat dari akun instagramnya seperti Sendratari Ramayana, Kamandaka atau ceritera lainnya. Wisata ini memang cocok untuk dijadikan sebagai tujuan wisata pilihan keluarga, apalagi membawa anak-anak pasti akan senang berinteraksi dengan alam juga hewan yang ada disana.

Areanya cukup luas
Harga tiket masuk yang dipatok sebesar Rp20.000 saat hari biasa, sedangkan saat weekend Rp25.000 dengan waktu operasional pukul 08.00 - 20.00 WIB. Beralamat di Jalan Raya Baturraden Barat Km 08 Desa Kebumen, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah. Yuk berlibur ke Purwokerto Banyumas.

Share:

Mei 23, 2018

Rekomendasi Villa di Baturraden


Kalau kalian ingin berlibur ke Purwokerto, maka Baturraden merupakan destinasi wajib yang dapat kalian jelajahi karena disana ada banyak wisata alam menarik dan cantik. Tentunya membuat waktu liburan kalian semakin menyenangkan. Jarak Baturraden dari pusat Purwokerto sendiri hanya sekitar 30 menitan saja, tetapi suasana dan lingkungan yang berada di lereng pegunungan memberikan kesan yang berbeda untuk dicoba.

Banyaknya penginapan dan villa yang terdapat di lokasi wisata ini, ada satu rekomendasi yang dapat kalian jadikan bahan referensi untuk tempat menginap. Villa yang dikelola oleh Palawi dengan beragam fasilitasnya akan membuat kalian nyaman dan betah untuk leye-leye manja selama berlibur disana. Anak perusahaan Perhutani ini memang fokus dalam mengembangkan wisata alam yang berada di area hutan. Jadi sudah bisa dibayangkan, bagaimana sejuknya, damainya, dan segarnya tinggal di area hutan di mana kalian dapat menenangkan diri sejenak dari kesibukan pekerjaan sehari-hari.

Palawi sendiri mempunyai tiga jenis Villa sebagai berikut:

1. Villa Ebony



Villa bertingkat dua ini memiliki jumlah kamar sebanyak 14 ruangan. Terdapat 4 ruangan superior dengan tipe single bed, 8 kamar deluxe dengan tipe single maupun twin bed, dan 2 kamar eksekutif dengan kasur double. Villa ini memiliki balkon yang menghadap ke selatan. View Purwokerto akan menjadi pemandangan yang jelas terlihat dari lantai dua villa ini. Untuk harga per malam menginap di villa ini budget yang diperlukan sebesar 9,4 juta rupiah. Villa ini cocok untuk kalian yang memiliki anggota keluarga besar, acara outing bersama teman-teman kantor kalian, atau acara reunian bersama teman yang sudah berkeluarga.

2. Villa Accacia



     Villa ini memiliki total empat kamar tidur berjenis deluxe. Tipe kasurnya adalah double dan twin bed. Kalau villa ini kelebihannya pada ruang utamanya yang sangat lapang. Harga per malam untuk menginap disini dibutuhkan 3,4 juta rupiah.

       3. Villa Agathis

Villa Agathis
Berdekatan dengan Villa Accacia, dengan jumlah kamar sebanyak 6 ruangan bertipe superior single bed. Ruang utama villa ini menghadap ke jendela kaca dengan pintu dorong di mana viewnya adalah lanskap Purwokerto. Budget yang diperlukan untuk menginap di villa ini sama dengan Villa Accacia yaitu 3,4 juta per malam.



Fasilitas ketiga villa ini diantaranya terdapat dapur, kulkas, air panas dan dingin, pemanas air, LCD TV, full bathroom amenities, shower, make up mirror, teko kopi dan teh, sarapan gratis dan kalian mendapatkan tiket gratis masuk ke Wana Wisata (Kebun Raya Baturraden). Untuk mendapatkan paket lengkap termasuk untuk makan siang atau makan malam, kalian juga bisa mencoba beragam makanan tradisional yang disediakan.




Wisata apa yang bisa kalian kunjungi disana
  1. Pancuran Telu
  2. Pancuran Pitu
  3. Taman Labirin
  4. Telaga Sunyi
  5. Curug Telu
  6. Curug Bayan dan Curug Gede
  7. Curug Penganten
  8. Curug Jenggala
  9. Lokawisata Baturraden, dsb.

Wana Wisata Resort Baturraden
Jalan Bumi Perkemahan Wana Wisata Baturraden
Kemutug Lor, Baturraden, Banyumas, Jawa Tengah

Contact Person:
Office: (0281) 681 616
Sista: 0813 9144 2211
Fajar: 0852 2788 8030
Adi: 0812 2594 863

Share:

Mei 02, 2018

The Village, Ruang Wisata Zaman Now Purwokerto

Halaman depan The Village

Destinasi wisata The Village hadir dengan konsep baru sesuai tuntutan era milenial. Sejak dibuka Februari 2018 lalu, tempat ini cukup popular sebagai tujuan wisata pada akhir pekan. Mengusung ruang taman kota yang dibangun dengan rancang bangunan yang apik dengan bergaya Eropa membuat The Village cocok dijadikan sebagai lokasi swafoto.

Taman bunga warna-warni
Bangunan dengan arsitektur yang apik

Mudah saja untuk menjangkau lokasi ini. Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota Purwokerto, kita bisa menempuhnya dengan angkutan umum yang mengarah ke Baturraden (angkot ijo) maupun angkutan online. Berada di Jalan Raya Baturraden KM 7, Rempoah, Baturraden. Wisata ini beroperasi dari pukul 10.00 – 21.00 WIB dengan harga tiket masuk Rp 10.000 pada hari kerja, Rp 18.000 ketika akhir pekan, dan cukup Rp 5.000 saja ketika menjelang maghrib (malam hari).

Kanal dan jembatan untuk gembok cinta
Warung kopi
Konsep tempat wisata ini memang cukup menarik. Bangunan-bangunan modern dengan eksterior bata merah yang menjadi khas The Village terbilang oke untuk sekelas wisata baru di Purwokerto. Ditambah tanaman bunga berwana-warni, jalur kanal di bawah jembatan, café, pujasera, dan beberapa wahana yang bisa kita coba.

Pujasera dengan beragam kuliner yang bisa kita coba
Disana kita bisa mencoba wahana paddle boat yang mengitari kanal, membeli gembok cinta dan menguncinya di jembatan yang berada di tengah-tengah ruang wisata ini, atau mencoba menaiki mobil antik. Wisata ini sangat ramah untuk pengunjung anak-anak, seperti wahana rumah burung dengan puluhan love bird yang berkicau berterbangan, wahana berkuda, peternakan mini, rumah kelinci, ruang bermain anak-anak, dan ada juga labyrinth shipventure. Oh ya, kita juga bakalan bayar lagi untuk mencoba wahana-wahana tersebut. Jadi siapin banyak-banyak uang kalau kalian berlibur kesini. 

Kanal dengan wahana paddle boat
Beberapa lokasi swafoto pun bisa kita coba dengan properti yang penuh warna. Kalau cuaca mendukung, hasil foto dengan latar bangunan The Village akan ciamik loh. Ada baiknya kita berkunjung kesana ketika awal waktu operasional pukul sepuluh di saat matahari belum tepat di atas kepala atau pada sore hari. Lebih baik lagi, jika membawa payung sebab di siang hari matahari sangat terik dan masih kosongnya tanaman rindang yang ditanami disana, jadi bakalan panas banget. Kalau pun kepanasan, kita bisa ngadem di food court sekalian nyicipin beragam kuliner yang dijajakan.


Spot swafoto
Properti kapal
Kalau kalian berlibur ke Banyumas, tempat wisata ini bisa dijadikan referensi berakhir pekan di Purwokerto dengan pesona ruang wisatanya yang apik. Yuk dolan maring Pewete!
Share:

April 08, 2015

Ke Telaga Kumpe Sampai Menjadi Anak Layangan

Waktu semakin habis di kehidupanku. Tanpa terasa sudah menginjak bulan ke empat di tahun 2015. Ada banyak harapan yang harus diraih. Harapan orang tua, saudara, sahabat, dan teman-teman tercinta menjadi dorongan yang harus saya wujudkan, menambah semakin besarnya harapan saya sendiri. Malam ini sambil mendengarkan lagu-lagu karya Banda Neira sekaligus melepaskan beban pikiran dan mental untuk bisa mewujudkan harapan terbesar yaitu wisuda di Bulan September tahun ini, Aamiin Ya Allah. 

Okeeee lebih baik menulis tentang keindahan Indonesia, daripada pusing menulis skripsi yang tak kunjung rampung dengan revisi dari dosen yang sangat super baik saat bimbingan dan sangat gampang sekali untuk ditemui. Dosen juga manusia kawan, bukan malaikat. Oke lupakan !

Intronya ga enak banget ya. hahaha. 

Jadi hari sabtu kemarin (4/4/2015). Saya dan teman-teman saya mengunjungi sebuah telaga di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Awalnya saya overestimate dengan pesona Telaga Kumpe. Melihat beberapa foto di Mbah Google dan blog orang begitu terlihat ciamik dan syahdu tempatnya, bahkan sampai-sampai mantan presiden Bapak SBY saja sudah pernah mengunjungi telaga yang satu ini (katanya sih). 

Berangkat dari rumah menjelang siang sekitar jam 11.00 WIB. Menuju kesana dari Purwokerto sekitar setengah jam untuk sampai di Pasar Cilongok. Tak jauh dari situ, akan ada pertigaan lalu ambil ke kanan menuju Desa Panembangan. Ikuti saja jalannya sampai mentok pertigaan lagi. Lalu ambil ke kanan sampai melewati jembatan, ada lagi pertigaan dan ambil ke arah kiri. Terus saja mengikuti jalannya sampai ketemu lapangan bola di sebelah kiri. Nah disitu ada perempatan kecil, belok ke arah kanan. Jalan pelan-pelan saja sampai ketemu dengan perempatan lagi, tepatnya SD N 1 Sambirata, silahkan ambil ke arah kiri. Setelah itu, jalanannya mulai banyak yang rusak dengan mulai menanjaki bukit. Terus saja ikuti sampai ke atas. Melewati gerbang berbentuk bambu berwarna kuning dengan vegetasi hutan pinus. Lebar jalannya kecil dan menanjak. Suasananya sepi dan masih alami. 
Gerbang menuju Telaga
Dari kejauhan, ada bangunan seperti pos penjagaan di sebelah kanan. Tampaklah kubangan air yang tak begitu banyak volumenya. Bah, saya terkejut. Airnya surut men. Hahahaha. Sayang sekali ekosistemnya sedang tidak terjaga. Rerumputan mulai meninggi di bagian tengah dan ujung telaga itu. Untuk pemandangan sebenarnya cukup menarik. Perbukitan dengan pepohonan hijau di sekelilingnya. Ditambah udara yang sejuk, tenang, dan terasa sekali rasa alamnya yang khas dengan suara binatang hutan. Cuaca saat itu sedikit mendung. Benar-benar syahdu. Lupa sudah dengan rutinitas sehari-hari. Lupakan hari senin berikutnya.

Telaga Kumpe
Pematang sawah. Hijau men. Liat warna kuning di perbukitan.
Tidak lama kami menikmati telaga itu. Berkeliling melewati hutan, area persawahan dengan bentuk terasering, hingga perkampungan. Di kejauhan dari tempat kami berhenti terlihat pohon dengan daun berwarna kuning seperti sedang musim semi. Keren sungguh. Sampai dengan jalan belum diaspal (masih berbatu), akhirnya kami memutar arah kembali. Melanjutkan untuk ke daerah Cipendok. Bukan menuju ke air terjunnya, tetapi berniat untuk mengunjungi peternakan sapi. Kenapa? Rekomendasi dari teman saya yang katanya tempatnya apik untuk dikunjungi alias hunting foto.

Melewati Desa Karangsari. Perjalanan menuju ke Cipendok jalanan mulus tanpa halangan. Saya senang sebab pemerintah sudah sadar memperhatikan akses jalan menuju obyek wisata. Eh, tak taunya, tidak sampai di atas men. Hanya sampai di bagian tengah saja. Jalanan selanjutnya kondisinya rusak parah. Aspalnya entah kemana, ada yang tinggal batu dan berlubang. Oke mungkin diperbaikinya bertahap, semoga.

Sampai di peternakan sapi. Hasilnya nihil, karena tidak sembarangan orang boleh masuk kesana dimana harus dengan izin kepentingan resmi. Jadi di peternakan sapi ini letaknya di perbukitan dengan rerumputan gitu, seperti bukit yang ada di serial Teletubbies. 

Peternakan sapinya yang bukit sebelah sana. Kalau bukit ini tempat memojokkan diri.
Akhirnya kami pun pulang. Belum jauh berjalan, ada beberapa motor terparkir di sebelah kiri. Langsung saja kami berhenti disitu berharap menemukan sesuatu. Menebak-nebak ada apa. Apakah warga desa sedang mencari rumput? Atau orang-orang sedang memojokkan diri? Ternyata sebuah dataran di atas bukit dengan pemandangan di sekitarnya yang luas. Di bawah sana dataran rendah yang luas. Di seberang, pohon dengan bunga berwarna kuning sedang bermekaran. Entah pohon apa namanya. Yang jelas, bunganya indah dan banyak tumbuh disana. Rupanya pula bunga inilah yang tadi kami lihat dari jauh. Kami menemukan pula tiga pasang hamba Allah duduk menikmati tempat itu. Dua pasang di antaranya berseragam SMA. Ajib men. Tempat mojoknya indah sih, mana sepi pula. Ada pula suatu adegan yang tidak harus saya lihat sebenarnya. Jadi tidak enak hati. Kedatangan kami sedikit mengusik mereka yang sedang duduk-duduk manis. Maaf ya hehehe.

Di atas bukit. Bunganya indah.

Entah bunga apa namanya. Mirip edelweis hehe.

Bukitnya keren kan. Main layangan di atas sini anginnya kenceng.
Tanpa tujuan. Kami melanjutkan jalan pulang melalui jalan yang berbeda. Masih di area peternakan sapi. Jalanan menurun. Saya melihat di atas bukit, ada anak-anak sedang bermain layangan. Sontak saya tertarik dengan aktivitas mereka. Kami pun menuju kesana. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Sampai disana, anginnya lumayan kencang. Pemandangan sekitarnya menarik. Terlihat peternakan sapi yang dikelilingi pagar pembatas, lalu undakan bukit di sebelahnya, sampai dengan bukit yang tinggi di sebelah utara. Cuaca mendung dengan matahari sedikit kadang muncul. Saya mendekati anak-anak itu. Sok kenal bertanya-tanya. Mereka dengan malu-malu menjawab. 

Main layang-layang di bukit ini seru banget. Pengen lagi.

Kami bermain layangan bersama. Wahhh akhirnya bisa memainkan layangan dan merasakan menjadi kecil lagi. Benar-benar momen yang keren. Saya menjelma menjadi anak kecil lagi. Jadi layangan itu ada bagian yang menimbulkan suara pas terkena angin, bentuknya cukup besar, sayangnya benangnya tidak terlalu panjang dan bukan galasan, melainkan benang pancing hehehe. Maklum, layangan tersebut kreasi mereka sendiri. Mereka baik, ramah, kreatif, ceria, polos, berani dan sedikit pemalu. Semoga masa depan kalian sukses ya adek-adek! Aamiin . Setelah berfoto-foto banyak disana. Bercanda-canda. Seru-seruan. Kami pun pulang. Sebuah perjalanan yang benar-benar luar biasa. 

Jalan-jalan menikmati alam, bersosialiasi dengan orang baru, dan melakukan aktivitas yang tidak biasanya adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Terimakasih Tuhan ! Alhamdulillah, hidupku banyak asyiknya. Semoga masih diberikan waktu dan kesempatan untuk menikmati mahakarya Tuhan lainnya di belahan bumi lainnya, Nusantara-ku tercinta #INDONESIA.
Wefie dulu sama adek-adek

Share:

Instagram