Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Desember 20, 2017

Agama Warisan? Sudahkan Kita Beriman Kepada Tuhan?

Assalamua'laikum warahmatullohi wabarakatuh.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit opini saya mengenai sebuah tulisan opini yang sempat viral di dunia maya hingga diliput media pada tahun 2016 lalu. Ya, ketimbang tulisan ini hanya tersalin di buku catatan alangkah baiknya saya menulis ulang ke blogpost ini. Padahal mah saya belum dapat konten yang enak dituliskan untuk menambah jumlah postingan.

Oke bicara sesuatu yang viral. Sadar gak sih kalau di Indonesia, sangat mudah sekali sebuah berita atau hal yang kadang tidak terlalu penting namun viral di dunia maya hingga dapat diketahui banyak orang. Entah ini impact penggunaan gadget pada millenials era, jelasnya terkadang ada sesuatu hal yang viral atau persebaran informasi, namun tidak berisi informasi positif (bernilai guna) untuk diketahui atau bahkan terkadang hal biasa yang viral sebaiknya kita hanya cukup tahu saja agar tidak ketinggalan informasi.

Oke, ceritanya begini. Sebelumnya saya akan memulai dari apa yang paling saya syukuri hingga nafas detik terkahir ini adalah tentang takdir di mana saya terlahir di keluarga penganut Muslim, yang menjadikan saya sebagai penganut Islam hingga sekarang yang mengimani bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Alhamdulillah Ya Allah atas takdir ini.

Kenapa saya bilang begitu. Sebab begini, dulu saya pernah berpikir menyoal hal yang sangat liberal sekali dalam kehidupan saya tentang adanya agama dalam kehidupan manusia. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa semua agama mengajarkan hal-hal yang baik, pada intinya sama saja kita mau beragama apa. Saya tidak setuju satu hal tentang ini. Sebab dalam agama yang anut, terdapat perbedaan mendasar dalam mengimani sebuah agama dan konsekuensinya yang berlaku menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

Jadi saya dulu pernah mengandaikan (conditional) tentang, "Jika saya dilahirkan pada keluarga non-Muslim semisal Jews atau yang lain, apakah sekarang saya masih menganut agama bawaan tersebut ?".

Lalu saya mendebat pemikiran saya soal pengandaian itu. Apa iya Tuhan sebercanda itu? Ketika saya menggunakan logika, pasti dan akan selalu mendewakan akal pikiran yang saya miliki, akan terus dan selalu menjustifikasi apa yang saya setiap terima dan alami.

Pernahkah kita berpikir tentang seberapa jauh kritik kita terhadap Tuhan? Sementara dengan akal pikiran kita yang serba terbatas, mau setinggi apapun IQ kita, sejauh apa fantasi kita. Tetap otak merupakan indera utama kecerdasan yang kita miliki pun memiliki sebuah keterbatasan. Sebagi contoh, apakah kita dapat mengingat apapun yang sudah kita alamai selama hidup dari waktu ke waktu. Tentang memori sewaktu kita kecil, tentang kenangan mendaki gunung beberapa tahun lalu, atau bahkan kegiatan kita hari ini saja dengan sedetail mungkin. Nah benar kan, betapa lemahnya otak dan akal pikiran kita.

Lalu sadarkah kita tentang batasan otak kita dengan mengkritik ketentuan-ketentuan yang sudah tertuliskan (takdir) yang dalam agama saya merupakan hak preogratif Sang Maha Pencipta di Lawh Mahfudz.

Ingat kembali tentang Qadar sebagai ketentuan mutlak Tuhan tentang kehidupan manusia dan seluruh alam yang telah digariskan, seperti kelahiran, rezeki, jodoh, dan kematian. Lalu mengenai Qodo sebagai ketentuan-ketentuan Tuhan bagi setiap manusia atas pelaksanaan Qadar ketika terjadi. Dua hal ini termasuk iman dalam Islam. Ya, ketika kita sudah mengimaninya sudah selayaknya pula kita pun bersungguh-sungguh meyakini dengan sepenuh hati kita.

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya, mereka itu orang yang tulus hati (pecinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka." Al-Hadid : 57

"Dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka." Muhammad : 3

Iman adalah tentang kepercayaan dan keyakinan, bahasa mudahnya dalam akal pikiran saya. Lantas sudahkan kita memiliki kepercayaan dan keyakinan setulus hati terhadap eksistensi kita di muka bumi ini. Siapa sebenarnya jati diri kita? Apa sebenarnya tujuan kita ada di muka bumi ini? Apa iya, kita hidup dimulai dengan lahir, tumbuh kembang, bersekola mengenal dunia, jalan-jalan di akhir pekan, bekerja, menikah, mempunyai keturunan lalu kemudian mati? Dengan proses yang begitu panjang pada umumnya kehidupan seseorang, tidakkah kita berpikir tentang, "Dimana kita sebelum keluar dari rahim ibu kita? dimana keberadaan kita saat tertidur? sadarkah kita? Atau ingatkah kita? Atau tentang kejadian sehari-hari yang dimulai dari sebangun tidur hingga sampai tidur kembali menjelang malam. Ingatkah kita?".

Adakah terlintas di benak hati kita yang terdalam, bahwa semuanya ada yang maha mengatur segalanya. Tentang kuasa dan kebesaran. Raja penguasa alam semesta diantara milliaran manusia di penjuru dunia yang memiliki hampir rupa dan bentuk yang sama.

Dulu ketika kecil, saya pernah memikirkan hakikat kelompok manusia yang dipimpin oleh penguasa tertinggi di dalam golongannya. Tentang sebuah kerajaan-kerajaan yang berkuasa dengan kelompok masyarakatnya hingga di galaksi lain. Saya pernah pula memikirkan tentang reinkarnasi. Jadi saya dapat menyimpulkan, otak yang berfungsi untuk berpikir memang teramat liar sebab mampu memikirkan hal-hal imajinatif semacam itu. Namun kembali lagi kepada pertanyaan saya tentang siapa sebenarnya kita di kehidupan ini? Oke. Mudah sekali menjawabnya. Siapa kita tergantung siapa orang di sekitar kita.

Tetapi bukan itu yang saya maksudkan. Siapa kita versi saya adalah akan saya jawab sebagai seorang mahluk yang disebut hamba yang dimiliki Sang Maha Pencipta Alam Semesta beserta seisi-Nya. Lalu mengapa saya ada bersama manusia-manusia lainnya adalah tentang apa yang hanya bisa kita tahu dari tuntunan kehidupan seseorang yang beragama. Saya percaya Al-Qur'an sebab kalam Allah sangat jelas sekali menyatakan tentang agama dalam QS. Asy-Syura : 13 yang artinya, "Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya)  bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

Hakikatnya manusia hanya diberikan sedikit waktu saja untuk mengabdikan atau menghambakan dirinya untuk Sang Khalik sesuai dengan ajaran dan tuntunan kehidupan sebagai seorang khalifah di atas muka bumi, selain diberikan kesenangan dan permainan yang menyenangkan belaka. Manusia menjalani kehidupan bagaikan sebuah ujian/cobaan sebelum kembali ke kehidupan yang kekal. Lantas dengan waktu yang sedikit saja (umumnya 60 tahun), dunia teramat sebentar seperti persinggahan sementara namun dapat melalaikan, lalu saya malu menanyakan diri saya sendiri, "sejatinya usia ini telah dihabiskan untuk apa?" Astaghfirullah.

Wassalamua'laikum .
Share:

Maret 17, 2016

R.U.M.A.H

Rindu. Aku rindu pada rumah.

Dulu gue pernah berpikir untuk tetep stay di rumah bersama kedua orang tua tercinta agar bisa tahu segala kondisi dan keadaan orang tua gue. Namun sebelum gue wisuda, tekad untuk hijrah (red:merantau) ke kota lain sangat kuat. Ego mengalahkan apapun. Gue pun tersadar, fase yang kakak-abang lebih dulu alami bakal datang juga ke kehidupan gue saat ini. 

Merantau bukanlah pilihan yang mengenakkan (baru terasa). Banyak hal yang berbeda dari kehidupan di rumah saat tinggal dan berkumpul bersama orang tua. 

Pernah ketika itu, orang tua meminta agar saya kembali ke rumah dan bekerja di sekitar tempat tinggal disana. Namun, kekuatan hati dan egoisme diri untuk mendapatkan keberhasilan di luar rumah (perantauan) begitu over ekspektasi. Merasa bosan berada di lingkungan yang sama memicu hati untuk mencari dan menemukan pengganti suasana dan kehidupan yang baru lainnya.

Baru terasa. Sekarang saya merindukan rumah. Keluarga. Kegiatan yang rutin saya lakukan di rumah. Rumah dimana zona nyaman saya senyaman-nyamannya. Tanpa banyak tekanan dan juga perjuangan.

Saya rindu rumah. Tempat dimana saya bisa berekspresi sebebas-bebasnya. Tempat dimana saya menghabiskan waktu bersama mereka orang-orang tercinta.
Share:

Lakon Kehidupan


Kehidupan selalu berbeda. Ibarat bersekolah, seperti naik kelas. Beban dan tanggung jawab semakin bertambah. Tinggal bagaimana kita melakukan untuk mampu menyelesaikan setiap fase yang berbeda.

Merasakan perbedaan kadang sulit (membutuhkan penyesuaian). Terlebih di luar zona nyaman, kadang pula mengalami kebingungan akan tujuan nantinya. Sebab akal dan pikiran terbatas untuk menjangkaunya. Hanya dapat berpegang pada waktu dan kesempatan meneruskan antara pilihan dan takdir-Nya menuju jalan yang tak berujung namun sudah direncanakan dan pasti akan sampai.


Share:

Januari 28, 2014

Solo Traveling, Kenapa Engga ?

Bromo, Indonesia

Solo Traveling adalah jalan-jalan tanpa teman alias sendirian. Awal pertama melakukan ini memang ada perasaan was-was dan diperlukan persiapan sebelumnya yaitu mencari informasi destinasi yang akan kita kunjungi terkait rute, biaya, budaya, event, geografis dan transportasi untuk menuju kesana. Lalu kita bisa menuliskan informasi yang kita dapat sebagai bekal saat perjalanan. Siapkan gadget seperti  handphone sebagai alat komunikasi untuk mendapatkan banyak informasi dari jaringan internet. Tak lupa pula, kamera untuk merekan dan memotret kejadian/moment perjalanan. Selain itu, kondisi badan harus sehat. Bawalah obat-obatan yang sekiranya berguna ketika traveling. 

Menjadi solo traveler tidak sesulit apa yang dibayangkan. Kunci utamanya adalah keberanian. Mungkin banyak orang yang merasa melakukan solo traveling adalah hal yang menakutkan. Padahal dengan solo traveling, manajemen perjalanan akan lebih sesuai dan menyenangkan bagi kita. Karena kita bisa melakukan apa saja keinginan dan kemauan kita tanpa adanya pengaruh dan batasan dari orang lain. Yang terpenting kita selalu siap dengan kondisi yang akan terjadi, mawas diri dan hati-hari. Pastikan di setiap perjalanan yang kita lalui, selalu berdoa meminta keselamatan dan petunjuk dari Tuhan. Jadikan jalan yang kita lalui sebagai teman setia kita. Jadikan orang-orang yang kita temui sebagai teman baru kita. Meskipun sendirian, ingat saja selalu ada Tuhan di sisi kita.

Apa enaknya solo traveling? Ok, menurut pengalaman saya, semua keputusan dan keinginan apapun ada di diri kita. Berbeda bila kita traveling beramai-ramai bersama teman, karena diperlukan adanya musyawarah terlebih dahulu untuk kesepakatan bersama. Belum lagi perbedaan pendapat yang kadang menghasilkan hasil yang tidak sesuai harapan kita. Lalu tentang waktu dalam solo traveling akan lebih efektif dicapai dibandingkan jalan-jalan bersama teman, karena ketika banyak orang, kuantitas waktu yang digunakan akan semakin banyak. Entah itu mengobrol ngalor-ngidul, terlalu santai, menghadapi kebingungan, waktu menunggu dan lainnya. Setidaknya hal tersebut merupakan aktivitas tidak bernilai tambah dan tidak akan ditemukan banyak dalam solo traveling karena semua kegiatan yang dilakukan hanya tergantung dengan keinginan dan perasaan kita. Lainnya, kita bisa juga berkomunikasi dengan orang baru yang kita temui di tempat tertentu. Berkenalan, bertanya dan bertukar pikiran, siapa tahu dia akan memberikan informasi yang berguna bagi kita.

Solo traveling banyak memberikan kita pengalaman dan pembelajaran. Kita diharuskan menjadi berani, pintar memutuskan, menyesuaikan sikap dan perilaku, komunikasi yang baik, sopan santun dan lain-lainnya. Pengalaman dalam solo traveling kadang memberikan gambaran bahwa untuk melakukan sesuatu kalau bisa dilakukan dengan sendiri mengapa tidak. Toh kita punya kemampuan masing-masing. Pelajaran dalam solo, kita bisa implikasikan dari pengalaman yang mungkin kurang berkenaan atau buruk bagi kita saat traveling. Dari hal itu kita bisa berkaca untuk tidak mengalami hal sama dan melakukan hal yang berbeda. Dalam menghadapi permasalahan yang muncul, kita pula sebisa mungkin harus analitis dan kreatif memecahkan masalah tersebut.


Intinya solo traveling tidak selamanya menakutkan kalau kita belum mencoba. Banyak pengalaman yang kita petik setelah melakukan solo traveling. Bahkan melatih kepribadian dan perilaku kita pula. Kalau pun tersesat di kota orang, kita bisa bertanya dengan orang-orang yang kita temui untuk mendapatkan informasi yang benar dan mengarahkan kita. Ok selebihnya, segeralah rasakan pengalaman solo traveling anda supaya tahu bagaimana sensasi solo traveler.

Salam Traveling !
Share:

Januari 27, 2014

Traveling Itu ?

Pantai Menganti, Kebumen, Indonesia


Sekarang ini, jalan-jalan (traveling) sudah menjadi kebutuhan banyak orang. Tidak hanya mereka yang mempunyai uang berlebih, tidak hanya orang dewasa, bahkan segala umur sangat menyukai jalan-jalan. Sampai-sampai ada yang menjadikan traveling sebagai hobi, minat, dan  juga tantangan untuk mendapatkan pengalaman yang baru tentunya. Traveling identik dengan mengunjungi tempat wisata ataupun hiburan yang memiliki ciri khas tertentu entah dengan wahananya ataupun dengan keunikan akan tempat tersebut. Biasanya para penggila traveling mencari suatu hal baru yang berbeda tentang keindahan alam, kelestarian budaya, teknologi modern, dan tradisi yang alami. Yang jelas tujuan utama traveling bagi saya adalah menemukan kebahagiaan dari kemampuan interpersonal dengan apa yang dihadapi di setiap kaki melangkah di suatu tempat yang tidak bisa diprediksi.

Hal utama dalam traveling adalah membuat agenda, rencana, itinerary. Baik rencana perjalanan, rancana keuangan, dan rencana apapun yang akan kita lakukan ketika di tempat yang akan kita tuju. Tuliskan rencana kita dalam sebuah kertas/catatan kecil agar bisa kita jadikan dasar saat traveling. Ketika rencana yang kita tuliskan tidak sama dengan kenyataan yang kita hadapi, hal tersebut adalah sesuatu yang wajar. Kembali lagi pada takdir meskipun kita bisa saja menuliskan rencana yang indah sekalipun. Bahkan, sesuatu yang di luar dugaan kadang memberikan sesuatu yang lebih mengesankan bagi kita. Seperti saya, sudah sering merencanakan akan jalan-jalan ke Bromo namun dua kali rencana saya gagal dan akhirnya di Januari 2014 saya bisa melakukan resolusi tersebut dengan bonus kunjungan ke beberapa tempat indah yang sebelumnya tidak saya idam-idamkan. Oya berhubungan dengan kesempatan tidak datang dua kali memang benar adanya. Namun ketika kita tidak mendapat atau sengaja melewatkan kesempatan itu, maka tugas kita adalah membuat kesempatan yang sama untuk diri kita dan traveling lah ketika kita sempat/lapang.

Traveling tidak selamanya tentang menghambur-hamburkan uang. Sesungguhnya tergantung dengan perilaku dan kebiasaan kita. Kita bisa menghemat pengeluaran kita dengan cara jitu masing-masing. Kalau saya biasanya memilih sesuatu yang murah namun tetap layak untuk digunakan/dikonsumsi. Membuat perencanaan anggaran sangat membantu sehingga kita bisa mengeluarkan uang dengan tepat. Kita bisa mengulik informasi dari internet ataupun pengalaman orang lain untuk membuat perencanaan dengan matang. Ya kalaupun itu sulit, kita bisa memperkirakan pengeluaran normal yang harus kita anggarkan. Intinya dalam traveling, keluarkanlah uang sehemat mungkin karena kita bisa saja mengunjungi tempat yang sebelumnya tidak kita rencanakan.

Dalam traveling kita bisa menemukan banyak hal :

  1. Tantangan dimana kita harus memutuskan beberapa pilihan di hadapan kita. Sebagai contoh, ketika akan menaiki transportasi ke suatu tempat yang akan kita tuju dengan memutuskan kendaraan apa yang paling efisien, aman dan juga nyaman.
  2. Pengalaman baru dalam setiap waktu yang kita habiskan. Dalam traveling tentunya kita banyak mengalami keadaan dan kondisi yang tidak pernah kita bayangkan sebelumnya. Semua momen yang terjadi mengalir sesuai kemana keinginan kita untuk melakukan setiap tindakan. Contoh konkritnya ketika kita di sebuah bis/angkutan yang penuh sesak penuh penumpang adalah sebuah momen yang tak biasa. Pengalaman traveling akan berbeda dengan kegiatan sehari-hari yang biasa kita lakukan. Atau ketika kita di suatu desa tertentu dengan aturan-aturan leluhur yang berlaku disana, mau tidak mau kita harus bisa menyesuaikan kebiasaan seperti orang-orang disana. Toh dari pengalaman yang kita dapatkan tentunya memberikan pembelajaran dan pengetahuan akan kejadian yang telah kita alami. Yakin pula, bahwa pengalaman adalah guru terbaik untuk diri kita.
  3. Sebuah masalah bisa datang kapan saja tanpa mengenal waktu. Dengan adanya sebuah masalah, lagi-lagi kita harus bisa menjadikannya sebagai sebuah tantangan yang harus dicari titik temunya. Contohnya, ketika kita kehilangan sebuah dompet dalam sebuah bis. Hal tersebut tentu sangat mengecawakan hati kita padahal seharusnya merasakan kebahagiaan dalam traveling. Masalah bisa timbul dari sisi kita maupun eksternal. Menyangkut masalah yang datangnya dari diri kita, hal ini bisa diantisipasi sebelum terjadinya. Sedangkan masalah yang terjadi di luar tindakan kita adalah sebuah takdir Tuhan berikan kepada kita, mungkin sebuah ujian. Yakinkan saja masalah harus dihadap bukan dihindari. Kalau Tuhan menghendaki suatu masalah yang mungkin bagi kita menyedihkan, masa iya kita sebagai ciptaan-Nya tidak percaya bahwa hal tersebut adalah takdir indah-Nya.
  4. Dalam traveling kita bisa melakukan apa saja yang kita mau dengan harus tetap bisa menjaga sikap dan perilaku agar tetap sopan dan santun. Sering dalam traveling, kita melihat orang mengekspresikan kebahagiaannya dengan berteriak, berfoto, lompat-lompat atau yang lainnya.
  5. Pribadi saya sendiri biasanya mencari Tuhan dari tempat indah ciptaan-Nya. Kenapa saya mencari Tuhan di tempat yang belum pernah saya kunjungi? Alasannya adalah saya ingin mengetahui dimanapun kita berada ternyata Tuhan sangat dekat dengan kita. Mengunjungi Maha Karya-Nya di alam ini adalah keberuntungan yang harus disyukuri. Kita bisa merenungkan betapa besar keagungan-Nya, kekuasan meliputi langit dan bumi, dan betapa diri kita sungguh kecil di hadapan-Nya yang penuh dengan dosa-dosa. Hal lainnya masih begitu banyak sesuatu yang bisa kita dapatkan dan setiap orang mempunya tujuan yang berbeda pula.


Salam Traveling !
Share:

Instagram