Tampilkan postingan dengan label life story. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label life story. Tampilkan semua postingan

Agustus 14, 2022

Malam Senin di Bulan Agustus

@popartjakarta2022

Hai, ini aku seorang yang kini khawatir akan dirinya. Bagaimana tidak. Umurnya sudah lebih seperempat abad. Sudah hampir tiga dasawarsa. Ia lantas belum tahu akan seperti apa jalan ceritanya. Padahal sejatinya ia memang tidak akan pernah tahu sama seperti para lakon lainnya di belahan bumi manapun.

Aku yang dulu berambisi ini itu. Kini sekadar bisa melakukan aktivitas kesibukan di akhir pekan. Mondar-mandir ke satu tempat ke tempat lain. Singgah ke sekian tempat. Bertemu kawan lama maupun orang baru. Dulu dengan pongahnya, memandang orang yang menjalani kehidupan dengan nerimo apa adanya sebagai hal yang kurang greget. Nyatanya, aku sekarang seolah mengalaminya. Aku tak lagi berambisi ingin ini itu. Rasanya hidup sederhana yang penting dekat dengan keluarga sudah bahagia. Toh banyak kenikmatan yang berujung membosankan. Bukannya aku kurang bersyukur, namun memang kecukupan itu datangnya dari diri kita sendiri. Meski sering inginnya dinamis.  

Jadi kemarin aku baru saja mengalami kegagalan untuk mendapat beasiswa ke luar negeri. Sebelumnya pula, aku gagal meraih nilai yang mumpuni di ujian SKD ASN. Selisih 5 poin saja memang untuk bisa maju ke SKB. Ya namun memang belum jalannya saja untuk kesana. Bukankah dulu kamu ingin untuk bekerja pindah kesana dan kemari. Sekarang dikabulkan toh. Sedari lahir di Sidempuan, lantas pindah ke Purwokerto untuk lanjut SMA, bekerja di Bintaro Sektor 9, lanjut ke Batam dan Pulau Posek bersama ENJ, lalu bekerja kembali di Ciracas, sempat ke Kutai Barat, Subang, Batang, dan kini di Karawang. Selain itu bukankah sudah banyak kota dan tempat yang sudah disinggahi meski hanya sekadar untuk berlibur atau menenangkan diri dari kesibukan.

Yuk bisa, khawatir boleh saja. Tapi semua akan ada jalannya. Jangan lama dan keseringan melihat pencapaian orang lain. Bukankah kamu juga sudah cukup awesome bisa pergi kemana-mana yang mungkin orang lain ingin pergi ke tempat itu. 

Kini aku sedang berada di angkot Cikampek menuju ke Cilamaya. Beruntung sekali bukan, kamu masih bisa pergi-pergi. Bertemu keluargamu meski libur hanya sehari seminggu. Lihat di luaran sana. Banyak yang tidak seberuntung kamu. Yang harus mengais rezeki di malam hari seperti supir angkot yang kamu naiki. Ibu paruh baya yang harus belanja ke pasar untuk bisa berjualan esok hari. Bersyukurlah banyak. Sekarang kamu sedang ditempa untuk menjadi kuat dan tetap melihat orang-orang di bawah.

Tak usah risau dengan hari esok. Namun tetap saja. Kekhawatiran itu sering hadir. Khawatir akan jodoh dan rezeki. Astahgfirullah. Padahal semuanya telah digariskan. Yuk kurang-kurangi resah dan gundah. Mending fokus dengan apa yang sedang dijalani sekarang. Perihal itu, biarkan saja Tuhan yang menuntaskan garisan takdirnya. Yang penting tetap berusaha dan berdoa. Sembahyang lima kali sehari. Bersedekah. Berpuasa. Ibadah tetap yang utama.

Bahkan tadinya aku khawatir angkot ini tidak akan sampai ke Cilamaya karena sedikitnya sisa penumpang. Sebab kebanyakan penumpang biasanya turun di pantura atau sebelum Pasar Gempol. Nyatanya kekhawatiran itu terselamatkan dengan takdir Tuhan. Ada nenek paruh baya dan bapak yang turun sekitaran Cilamaya. Lihat, Tuhan itu Maha Baik kan. Selalu saja memudahkan urusanmu. Tapi kau selalu teledor untuk bersyukur dan khawatir akan hidupmu.

Baiklah. Aku hendak turun sebentar lagi. Kita sudahi kegelisahan malam ini. Esok senin banyak deadline pekerjaan. Semoga hidupmu baik dan bahagia ya.
Share:

Juli 04, 2022

Awal Penantian


Penantian kian menuju kenyataan. Awal Juli mendapat sekilas jawaban. Aku tidak tahu bagaimana, kapan dan dimana. Yang aku yakin, suatu hari kan sampai. Kian hari, yakin akan berjumpa. Menyemai kisah dan kasih. Merajut cinta dan bahagia.

Kamu berhak bahagia. Aku kan berusaha membuatmu bahagia. Kau yang terindah. Izinkan aku dapat menjagamu. 

Untukmu yang kelak menemani jiwa dan raga ini. Teruntuk kamu yang hari ini bersinar. Terima kasih telah hadir di jalanku. Dimana pun kamu hari ini, jaga diri dan teruslah berarti. Jalanku kini juga jalanmu. Jalan kita berdua. 

Dahulu persimpangan banyak telah ku tempuh. Aku teramat bersyukur akhirnya bertemu denganmu. Aku beruntung memilikimu. Tuhan Maha Baik membuat kisah manusia. Aku dan kamu, kita berjumpa di persimpangan ini.

Aku yang dulu merasa sepi, sendiri dan sunyi. Hadirmu membuatku merasa damai dan nyaman. Jika aku tidak sempurna, ku mohon terima lah kekurangan diri. Maafkan aku jika membuatmu marah, sedih dan kecewa. Tolong juga aku untuk terus belajar mengerti dan memahami. Bantu dan kuatkan aku jika nanti merasa lemah tak berdaya. 

Aku bukan manusia yang hebat. Bukan pula seperti apa yang kau harap. Tapi sabarkan aku dengan kata manismu. Mohon doakan aku setidaknya seperti yang kau mau. Aku membawa kita ke jalan yang lurus hingga ke alam abadi. Semoga dipertemukan kembali.

Kelak kita akan berpisah di suatu persimpangan lainnya. Maafkan aku jika meninggalkanmu sendiri. Jangan bersedih dengan perpisahan nanti. Kisah kita abadi di takdiri Tuhan. 

Cinta di dunia dapat hilang. Orang-orang yang kita cintai dapat pergi dan juga hilang. Hilang kembali menghadap Tuhan. Aku dan kau, kita akan pergi tuk kembali.


Share:

Februari 02, 2020

Jalanku Masih Panjang

Jalanku masih panjang. Bisikan relung hatiku berkata seperti itu. Ketika menyebrangi JPO KRL Stasiun Tanjung Barat. Aku baru saja mengakhiri zona nyamanku sebagai jongos perusahaan patungan anak BUMN dan swasta. Kerja sama operasi istilahnya. Disingkat KSO. 

Tidak terasa sudah 17 bulan aku bekerja disana sebagai pegawai yang mengurusi adminitrasi terkait perpajakan perusahaan. Melelahkan? Tidak juga. Sesekali iya. Konflik batin? Masih bisa teratasi. Lantas apa? Gaji lumayan. Benefit oke. Pekerjaan tidak terlalu berat. Intinya hal yang plus minus dari pekerjaan. Positifnya lumayan baik. Negatifnya tentu lebih dominan. Setelah ditimbang dan memutuskan.

Keputusan yang cukup cepat bisa dibilang kawan. Faktornya ada banyak sekali. Dari tawaran sahabatku. Dia sohib banget denganku semenjak kuliah. Mencari pembelajaran baru di proyek baru. Mendapat warna baru di awal tahun 2020. Selebihnya mendapatkan tantangan dan harapan baru di Borneo. Ya, proyekku esok di Melak Kalimantan Timur.

Sohibku bilang, "gak usah terlalu ga enakan sama orang lain". Ketika menanyakan tentang perihal resign di akhir tahun 2019 kemarin. Hari Senin Tanggal 23 Desember 2019 akhirnya ku ajukan surat resign ke manajerku. Setelah mendengar kabar itu, sohibku langsung lega. 

Ceritanya masih panjang. Aku masih harus berproses tahap awal di kantor sohibku. Mengikuti alur lamaran kerja yang seharusnya. Meski aku melalui SJOD (sistem jurusan orang dalam) tetapi manajer HRD bersikap adil. Pertama kali, aku wawancara dengannya. Saat itu aku jiper. Ekpektasinya lumayan tinggi untukku. Yang ku ingat dari pertanyaannya diantaranya mengapa mau diajak sohibku padahal kan belum fix jadi karyawan tetap, tahu apa tentang perusahaan itu, mau jadi apa nanti kalau bergabung, apa masih ingat tentang proses akuntansi, apa betah tinggal di proyek seberang pulau dan entah apa lagi yang kami bahas. Sejam lamanya kurang lebig kami melakukan wawancara.

Tahap selanjutnya, aku harus mengikuti MCU,  interview manajer sahabatku/presentasi, dan psikotes. Jadi prosesnya bisa dibilang acak. Sebab aku pun masih bekerja di kantor lamaku.

Ketika MCU, aku izin seharian. Sekaligus presentasi di sore harinya. Nah pas psikotes aku sudah free dari kantor lamaku. Hari Selasa setelah hari kerja terakhirku. Dan hasilnya masih belum tahu, semoga saja berhasil. Kalau semua hasilnya bagus, bisa diangkat jadi karyawan tetap di kantor pusat. Kalau pun tidak, ya kembali jadi karyawan kontrak proyek. Bismillah.

Pukul 10.19 Hari Minggu pertama Bulan Februari. Sudah berlalu saja Januari dengan hektiknya pekerjaan/penyelesaian PR di kantor lama. Februari menjadi awal harapan baru. Tadi aku baru saja meninggalkan rumahku, ibuku, keponakanku, kakakku dan juga Purwokerto. Berangkat kembali ke ibukota. Tapi kini merantau lebih jauh lagi. Menuju calon ibukota baru Indonesia kelak. Meski aku bukan di Penajam maupun Kukar. Melainkan Kutai Barat. Aku akan berangkat awal pertama minggu ini. Kemungkinan Hari Kamis esok menuju Samarinda. Lalu ke Tenggarong. Dan menuju ke Melak.

Proyekku disana adalah pembangunan jalan hauling untuk tambang batubara. Kami membangun infrastruktur dari area tambang menuju ke akses kapal sungai atau bisa jadi smelter. Semoga saja Tuhan masih memberikan kekuatan dan daya upaya untukku dimanapun nanti berada. Bismillah, Jalanku masih panjang kawan. Aku pun berharap masih diberikan kebahagiaan teruntuk ibuku, keluargaku. Semoga proyek ini berproses lancar dan sukses. Aamiin.

Vino beli Roti O. Memori bersama keponakan tersayang, karena dia paling kecil.
Share:

September 17, 2019

Apa Yg Dicari

Terlahir aku bernafas
Tumbuh aku berjalan
Berkembang aku berlari
Seperti bulan dan matahari

Mencari-cari arti
Di bayang kelabu jiwaku
Hentakkan gelora nestapa
Kemana dunia kan membawa

Semua fana dan distorsi
Menyerang membabi buta
Gelap relung batinku
Rabun mata hatiku
Sakit sudah ragaku

Tentang apa yang dicari
Makna kisah yang panjang
Bergelut dengan waktu
Menyesal kan sia-sia

Apa yang dicari
Sakit menggerogoti
Hampir seluruh tubuhku
Rapuh seakan mati


Ditulis 9 September 2019. Di atas pembaringan menuju dini hari saat mata, otak, hati dan tangan belum mau beristirahat dari gemerlapnya dunia ini. 
Share:

Cerita Malam Minggu Kemarin

Dava, Kevin, Nindy, & Saya

Kali ini, aku ingin bercerita sedikit. Momen malam minggu kemarin. Ya. Sederhana saja kenapa aku ingin menuliskannya. Jadi begini awal ceritanya sobat.

Sabtu 14 September 2019 adalah hari yang sudah ku siapkan jauh-jauh hari untuk bertemu dengan sahabatku semasa kuliah. Sudah lama aku tidak berjumpa mereka. Kami meet-up di Kokas saat makan siang hingga menjelang sore hari. Aku memang sudah punya lis acara setiap akhir pekan. Maka, untuk sekadar bertemu sahabat ataupun keluarga di Jakarta harus diagenda dari jauh-jauh hari. 

Menjelang maghrib, pulang dari Kokas, saya naik ojol menuju Halte Kuningan Barat. Melanjut naik Transjakarta, lalu turun di Jembatan Dua. Dari halte, saya berjalan menuju ke masjid di depan Taman Kalijodo untuk sholat sebentar. Saya melihat ada bus tingkat rute ke Monas di seberang. Ide mendadak muncul tiba-tiba. 

Sampai di rumah kakakku. Mereka semua sedang bersantai di ruangan bawah. Lalu aku salim, karena sudah hampir sebulan lebih tidak mampir kesini, dan ponakanku pun ikutan salim. Perutku pun lapar. Akhirnya aku mengajak ponakanku Dava untuk jalan keluar. Rencana awal kita mau ke Monas naik bis tingkat. Keluar dari rumah, ada Kevin (teman Dava) di depan rumah. Kakakku menawarkan Kevin untuk ikut ke Monas. Dia langsung masuk ke rumahnya dan mengganti bajunya yang sebelumnya berantakan. Ia baru saja pulang setelah menginap di rumah teman sekolahnya di Cengkareng.

Kami berjalan ke halte di depan Taman Kalijodo. Sudah tidak ada bus di halte. Kami menunggu-nunggu bus yang tak kunjung datang. Sampai pun adzan isya berkumandang. Kami sholat lebih dahulu. Selesainya kembali ke halte. Bus tingkat pun tidak nampak sama sekali. Mungkin sudah bukan jam operasionalnya. 

Saya menawarkan dua anak itu untuk ke Mall Season City saja. Mereka pun menurut. Kami pergi naik G****ar. Hanya sekitar 10 menit saja karena memang dekat jaraknya. Sampai disana, saya mengajak keponakan tertua, Nindy (Kakaknya Dava) untuk menyusul. Dia pulang bekerja pun langsung menyusul. 

Saya bersama dua bocil ini berkeliling mall. Ke lantai atas melihat-lihat ada kuliner apa saja disana. Lalu dua bocil ini mengajak main time-zone. Tapi saya mengajak mereka makan karena saya merasa lapar. 

Setelah bertemu Nindy, kami pun makan di So***ia. Dava dan Kevin menikmati momen malam minggu itu. Ini pun kali pertama saya menghabiskan malam minggu bersama mereka di luar. 

Saat memesan makanan, Dava memilih makanan yang pernah ia makan dulu bareng Nindy. Sedangkan Kevin ikut saja apa pilihan Dava. Mereka memang karib. Pernah dulu, saya ingat sekali saat Kevin selalu membuntut kemana saja Dava main. Mungkin sejak itu pula lah mereka akrab. Dimana ada Dava, disitu ada Kevin. Dava pernah mengeluh karena Kevin selalu ada di sampingnya. 

Saya informasikan fisik dua bocah ini. Dava berbadan gempal, sedang Kevin badannya kurus. Dava berkulit gelap, Kevin berkulit terang. Seperti kopi dan susu ketika mereka duduk bersampingan. Mereka, teman juga tetangga karib. 

Mereka ibarat kakak beradik lah. Pas naik eskalator, Kevin memprotes Dava untuk tidak melihat ke bawah nanti bisa jatoh (sisi luar). Dava tak mau kalah memprotes tingkah laku Kevin. Jadi kakinya dinaikkan ke atas kursi. Dava memprotes, "kakinya gak sopan. emangnya di warteg". Lalu saat saya membayar pesanan di meja kasir. Tahu-tahu mereka membuntuti saya dari belakang. Ada-ada saja dua bocah ini. Memenuhi area kasir saja pikirku. Apalagi Kevin celamitan memegang mesin EDC, mungkin dia penasaran.

Ketika makanan datang, Kevin bilang, "nasinya kok dikit". 
Dava langsung menimpali,"itu mah banyak, karena dicetak aja". 

Iya jadi nasinya berbentuk gitu kan ya. Lalu kami pun berdoa masing-masing. Kevin membaca doa paling kencang. Lalu ketika makan, mereka menyantap makanan dengan segera. Saya pun memperhatikan dua bocil yang ada di hadapan saya.

"Hari ini menyenangkan!", seru Kevin sambil tersenyum. 
Kami semua bertanya heran, "emang kenapa?". 
"Iya, soalnya malam ini makan gratis!", jawabnya. 

Sesederhana itu alasanku menuliskan kisah malam minggu kemarin. Tak lain karena ucapan Kevin yang sedikit indah terdengar.

Singkat cerita, orang tua Kevin itu sudah berpisah. Dia tinggal bareng kakek-neneknya yang juga sekarang sudah berpisah. Sesekali ibunya pulang ke rumah untuk melihatnya. Katanya sih ngekos kerja entah dimana. Sekarang, ayah baru (pacar ibunya) berlaku baik ke Kevin. Suka mengasih uang jajan. Hidup Kevin di masa kecilnya mungkin agak keras, tanpa adanya dukungan kasih sayang kedua orang tua. 

Hal yang lumrah memang. Sebab aku pun punya ponakan yang mengalami kisah yang sama. Teriris hati si empati melihat kenyataan anak-anak broken-home. Sebab saya sangat benci sekali perceraian, ujungnya yang jadi korban adalah anak-anak yang masa depannya masih panjang. Terlepas apa masalah orang tua setelah menikah mengikat janji untuk bersama sampai selamanya, nyatanya, rapuhnya pernikahan siapa yang menyangka. 

Ini pula alasan saya masih berserah dan juga masih mencari orang yang benar-benar tepat untuk mengisi hari-hari saya sampai akhir nanti. Bukan seperti membeli kacang, tidak main-main, apalagi serampangan. Asal cocok, nyambung, nyaman lalu menikah. Tidak hanya itu. Tapi ada hal lain yang harus disamakan, visi, misi, tujuan, dan cita-cita kehidupan yang sama-sama ingin diraih. Saling mendukung, saling memahami, saling menjaga, saling mengalah, saling mengisi satu sama lain. Tidak ada yang benar-benar sempurna memang. Tapi setidaknya kriteria itu harus tetap ada. Sama seperti filosofi Jawa; bobot, bibit, bebet. 

Selesai makan, kami mampir sebentar di P***a**t untuk kakak-dan iparku di rumah, Lalu saya memesan G**b lagi. Bertemu dengan driver berkaki palsu. Ia bercerita kakinya diamputasi karena ditabrak lari tahun 90-an saat tinggal di Sumatera. Sekarang si bapak tinggal di Serpong. Namun ia jarang pulang. Tidur di sekitaran Taman Grogol. Ngegrab sampai larut malam. Begitu terus sampai malam lagi, katanya.

Di sepanjang jalan, kami banyak mengobrol. 
"sudah punya anak berapa mas?", tanyanya. 
"hm belum pak, ini keponakan saya yang di belakang". 
Si bapak terheran, "loh sudah umur berapa mas". 
"25 pak".
"segera lah mas. kan sudah pas waktunya. sudah ada calon? jangan lama-lama mas. nunggu apa lagi?", katanya.
"iya pak segera, insyaa allah".
"tahun ini mas?", masih belum puas dengan jawaban.
"belom pak, doakan saja".

Saya pun terdiam. Sudah hampir sampai juga. Teralihkan dengan pembicaraan lain. Di akhir, si bapak menawarkan pengisian uang elektronik. "Saya baru aja transfer dari mobile banking, terus tidak pegang uang tunai". Si bapak tetap menawarkan, bayarnya ditransfer saja. Saya pun mengiyakan. Menyelesaikan transaksi dan menunjukkan bukti transfer. Ia memakai kacamata plusnya untuk melihat bukti transaksi di gawai saya. 

Sampailah kami di jalan dekat gang tempat tinggal kakakku. Kami turun, lalu berjalan menyusuri gang. Sampai depan rumah. Kevin melongos langsung masuk ke rumahnya. Kami pun masuk ke rumah Dava. Usai pula cerita tentang malam minggu kemarin. Saya hanya ingin mengenang momen lewat tulisan ini. Sebab otak saya tak lagi mampu mengingat memori jangka panjang. Sekian dan terima kasih. 

Semoga banyak pelajaran yang bisa diambil. Kisah rahasia tidak lama lagi akan terbuka satu per satu.
Share:

Agustus 15, 2019

Menuju ke Harapan

Goncangan kapal ini berlayar
Menabrak ombak lautan lepas
Menuju kemana ke pulau-pulau
Mengantar kami para penumpang

Sudah empat jam di atas laut
Kepala pusing perut pun mual
Tercium bau tak sedap
Tak karuan bau perjalanan


Pergi berlibur ke Pulau Harapan
Melintas samudera birunya lautan
Toska warnanya indah dipandang
Singgah sebentar di Pulau Panggang


Reot kayu kapal motor
Bunyi berderit seperti irama
Menyaut suara mesin kapal
Tak mau kalah menyambut Harapan


Langit cerah matahari bersinar
Di lambung kapal aku tergeletak
Di atas pelampung oranye
Mual pusing kembali menyerang
Semoga segera sampai


Ditulis di atas KMP Harapan ketika berlayar dari Dermaga Muara Angke menuju ke Dermaga Pulau Harapan, tanggal 28 Juli 2019, sekitar pukul sebelas siang ketika kapal terombang-ambing di atas lautan. Jadi inspirasi menulis di atas kendaraan menjadi suatu energi positif yang sedang saya coba dan asah. Menarik memang ketika kita berada di keramaian suasana transportasi umum lalu kata-kata sajak ini muncul begitu saja di benak pikiran. Mari bermain kata-kata. 

Beruntunglah manusia mempunyai privilese akal pikiran, perbuatan dan kata-kata - rizkichuk

Share:

Juni 24, 2019

Mendadak ke Indofest

11 Maret 2019

Hari ini ada kecelakaan kereta listrik di Bogor. Anjlok dari perlintasan. Membuat dua gerbong paling depan keluar jalur. Tiang listrik turut roboh. Evakuasi gerbong baru dilakukan malam ini. Nan jauh di Addis Ababa, pesawat Boeing 737 Max jatuh setelah lepas landas menuju Nairobi Ethiopia. Semua awak kabin dan penumpang hampir tiga puluhan negara tewas. Kurang lebih 130-an orang berada di pesawat yang menyisakan puing di lahan tanah yang berserakan.

Tentang kecelakaan, semalam terlintas ketika aku pulang menuju mess kantorku. Aku turun di Tanjung Barat dengan ojek online. Ketika memutar balik melewati jalur rel, alarm kereta sudah berbunyi. Sepertinya kereta terakhir menuju Bogor karena sudah pukul 12 malam. Aku melongok kanan kiri. Lampu sorot kereta nampak di jalur tikungan. Belum dekat memang. Namun imajiku resah kalau terjadi yang tidak baik. Tak dinyana, rupanya pikiran negatif itu terjadi di pagi ini. Berita kecelakaan KRL menjadi headline media online.

Kamu tau. Aku sedang menderita. Bukan sakit. Tapi penyakit yang susah untuk diobati. Rasa malas. Aku sedang malas dua hari belakangan. Alhasil aku hanya leye-leye di kamar. Keluar mess hanya mengisi perut. Tidur siang. Makan siang. Bermain game hingga sore.

Mendadak aku melihat postingan Indofest di instagram. Fiersa Besari manggung di acara outdoor malam hari. Akhirnya aku mandi pergi ke JCC bersama seorang teman. Kami pergi naik Transjakarta menjelang senja.

Ramai sekali pengunjung yang datang. Disana aku menonton Fiersa menyanyikan beberapa lagu karyanya yang lagi digandrungi banyak anak muda. Aku hanya tau satu lagunya yang melow. Ya, judulnya Waktu Yang Salah. Disana pula, aku berpapasan dengan travel influencer Schode di area stand produk ethnic craft.

****

Manusia yang tidak tahu masa depannya ini sudah berumur 25 tahun lebih sepuluh hari. Ya, aku baru saja mencapai titik seperempat. Di persinggahan ini aku merasa semakin tidak paham tentang jalan apa ke depan.

Seperempat sudah. Aku belum siap akan banyak hal. Siklus selanjutnya yang masih rahasia. Tambatan mimpi yang pernah ku derai. Apa bisa dicapai sedemikian kisah.

Malam kegelapan. Aku terbaring di atas kasur dengan hembusan kipas angin yang berdesir. Sedikit semilir dingin mengenai.
Share:

Sudah Seperempat Abad


Gila. Aku merasa ini benar-benar gila. Rasanya begitu cepat sekali sudah berada di titik seperempat ini. Kencang sekali. Ya, menjalaninya memang terasa. Pas sampai, semua sirna. Lelah sudah lupa. Bahagia jua semu. Sedih pernah meronta.

Antara sadar atau halu. Aku melihat sekelilingku. Nyatanya tidak banyak yang berubah. Ya aku masih merasa sama. Beda ketika aku melihat keluar. Mereka seolah sudah jauh pergi lebih dulu dibanding aku. Padahal setiap insan melalui proses yang tentu berbeda.

Apa yang pasti. Ingin rasanya aku mengulang. Apa iya bisa. Membuka kembali lembaran hitam dan putih sebelum tiba di jalan perempatan ini.

Dalam gerbong KRL menuju St Angke, kereta ini turut mengantarkanku menuju entah kemana. Aku berimaji kembali ke belakang. Padahal kereta melaju ke depan. Dia punya tujuan. Sedang aku entah mau kemana. Masih gelap dan belum siap. Entah belum menerima atau masih terbayang akan ketidakpastian ruang dan waktu.

Masa depan memang membuatku takut. Orang pecundang selalu takut akan ketidakpastian. Mirisnya aku mencundangi diriku sendiri. Padahal banyak kemungkinan yang belum mungkin atau bisa jadi baru akan mungkin terjadi. Apa aku lupa ada penguasa yang amat sangat besar. 

Aneh sekali manusia satu ini. Dia sama sekali tidak tahu tujuan masa depannya. Gila. Ini benar-benar parah.

9 Maret 2019 (ditulis dalam keriuhan malam)
Share:

Mei 23, 2018

BERLALU

Hampir setahun sudah.
Semuanya masih terbayang akan kesibukan kala itu.
Setahun sudah aku meninggalkan juga ditinggalkan.
Nyatanya belum juga terhapus di memoriku.
Tentang ketidaknyamanan, kerinduan, kesedihan, masa bertahan dan akhirnya memilih jalan pulang.

Kini aku sudah berada di titik luar yang lain.
Masih saja terbayang.
Padahal ingin ku kubur semua cerita masa itu.
Jalan ini masih ingin ku lalui lebih jauh.
Meski entah kapan akan bertemu.

Pilihan memang kadang tidak semudah semau kita.
Inginnya lurus, kadang berbelok.
Kadang terjatuh menabrak kerikil.
Sama seperti jalan menuju Semeru.
Naik turun semangatnya.
Letih untuk terus melangkah hingga sampai ke Ranu Kumbolo.

Bahkan berhenti di titik yang belum jua sampai.
Terlalu lama.
Diam, sesekali bayangan masa lalu kembali terbayang.
Rasa bersalah.
Menyesal karena salah.
Membela, manusia gudangnya salah.

Perjalanan lain ini nyatanya belum selesai.
Jalan yang dulu kau yakin sampai.
Tujuan, cita-cita, harapan dan impian.
Masih jauh dari kenyataan.
Aku masih di seperempat jalan.
Atau masih di luar titik balik.
Entah kapan akan sampai.
Semoga saja, waktu yang terbaik.

Share:

April 03, 2018

Kursus Bahasa Inggris Sampai ke Pare Kediri

Hello gengs, this time I would like sharing about my experiences when I spend for 2 months in Pare. Why Pare become so interested as a place for learning another language, especially English. My goal for going to Pare is strengthening my English skill at all. You know gengs that my moms asked me “why so far? Is not here you can take courses too? What is everyone like seller there speaking in English?” I just answer, “I think it will different when I learn in Pare, because many people coming from everywhere. And not everyone, but when in courses area maybe”. Finally, I booked a grammar course via website and also train ticket for the transport.

Oke, kayaknya lebih enak bahasa Indonesia. Satu paragraph di atas cuma sebatas pencitraan aja. Wkwk. Jadi ekspektasi saya pun tidak terlalu banyak, tetapi ada banyak sekali yang saya dapatkan sepulang dari Pare. Waktu selama dua bulan bagi saya cukup terlalu singkat untuk mengkhatamkan bahasa internasional hingga level advanced. Padahal tujuan awal saya kesana ingin belajar IELTS, tapi saya mengambil kursusan dari level dasar jadi rasanya kurang banget.

Dimulai keberangkatan pada awal bulan Desember 2017, perjalanan pertama saya dari Pwt menuju Jogja naik kereta Joglokerto . Disana transit dua hari, emang niatnya mau eksplore beberapa candi di Jogja. Prinsip sekali dayung dengan dua tiga pulau terlampaui, memang sering saya lakukan dalam kehidupan. Dari Jogja saya menuju ke Kediri naik kereta Kahuripan, kereta baru berangkat sekitar pukul 2 dinihari dan sampai di Kediri sekitar jam 7 pagi. Dari Stasiun Kediri, ada tiga opsi: naik angkot, naik kendaraan yang mangkal depan stasiun 60 ribu per orang, dan saya malah pesen gocar tarifnya 70ribu. Enaknya lagi sih kalau datang ke Pare sendirian, nyari temen di Stasiun yang mau ke Pare juga baru pesen gocar biar lebih irit, prinsip sharecost! Pas mesen gocar, kita harus jalan dulu agak jauh ke jalan depan stasiun soalnya kecemburuan sosial era digital ini cukup menjadi gap yang mau tidak mau ya bakalan terjadi. Bahkan, di stasiun Pwt sendiri ada yang pernah dipalak sama orang sekitar disuruh bayar 250 ribu sama ojek di stasiun, dan itu dialami sama ojol yang anter ke stasiun. Regulasi digital memang rasanya sudah urgent banget nih. Kan kasian kalo masalah ini berlarut-larut.

Dari stasiun ke Pare sekitar 45 menit. Jalanan kota Kediri cukup lengang. Kami melewati Gumul lalu mengarah ke utara dengan ruas jalan cukup lebar. Pada sisi kiri jalan terdapat bekas jalur rel zaman Belanda. Sepanjang jalanan, banyak areal perkebunan tebu dan sawah. Peninggalan Belanda dengan hasil komoditas gula sendiri masih beroperasi di Kediri yang sekarang dikelola PTPN.

Sampai di gerbang Desa Tulungrejo, lokasi di mana Kampung Inggris berada. Saya menuju ke Jalan Aster kos-kosan yang sudah saya booking. Tak dinyana, ibu pemilik kosan mengkonfirmasi kalau kosnya hanya kosong seminggu seharga 150 ribu. Kos tingkat dua ini terbilang mahal. Jadi sebaiknya, ketika kalian datang ke Pare, lebih enaknya cari kos-kosan di TKP langsung karena biar bisa compare harga dan mengukur kenyamanan kos-kosan untuk ditinggali. Jadi kemarin saya cari info di internet, karena takut penuh musim liburan akhirnya saya langsung deal-kan saja untuk stay di kosan itu. Toh saya masih buta informasi. Di depan kosan itu juga terdapat warung makan dan tempat sewa sepeda, jadi pikir saya cukup strategis. Sewa sepeda seharga 80ribu sebulan. Sekali makan rentang harga 8ribu hingga 12 ribuan.

Dua hari pertama, saya belum mendapat teman akrab disana. Hanya beberapa teman baru di kosan yang sebagian mereka juga baru datang atau baru menetap dua minggu. Sekedar obrolan basi-basi ketika berpapasan hingga sharing tentang kursusan.

Satu bulan pertama, saya mengambil kelas E-Fast 1A di Elfast. Kelas ini mengajarkan tentang grammar seperti tenses yang sudah saya pelajari sekian lamanya dan materi Part of Speech (POS). Jadwal kelas setiap harinya ada 5 kelas, terdiri dari 4 kelas grammar dan 1 kelas speaking durasi 1,5 jam. Alasan saya mengambil kelas ini adalah untuk bekal dasar sebelum mengambil kelas lanjutan sekaligus refreshment  materi.

Hari pertama masuk kursus, kelas pertama pukul 5.30 selepas subuh. Dua kelas berikutnya pukul 7 hingga 10.30 pagi.  Lalu kelas speaking pukul 12.00 selepas dzuhur. Kemudian kelas terakhir pukul 4 sore. Tutor saya di kelas adalah Mr. Ilyas asalnya dari Gorontalo, Ms. Dian dari Bengkulu, dan Mr. B orang Surabaya yang dulunya adalah seorang chef. Jadi tutor di Kampung Inggris, beberapa dari mereka ya dulunya juga pembelajar yang datang untuk belajar ke Pare.

Bangun pagi, sholat, mandi, lalu mengayuh sepeda ke tempat kursus sekitar 10 menit adalah kesibukan setiap Senin hingga Jum’at yang saya lalui. Kelas pagi pertama dirasa cukup berat, karena mata masih mengantuk, meski otak lagi fresh. Materi pembelajaran masih enteng di minggu awal. Minggu kedua, kami diajarkan tenatang tenses. Minggu ketiga masuk ke BP2, dan minggu ke empat berakhir begitu cepat materi akhir POS.

Di kelas ini saya mendapat teman baru dari mana-mana. Ada Ken dari Aceh yang selalu duduk di depan, Marikh dari Jkt biasanya dia duduk sebelah Ken, terus Aqwam yang termuda dan polos kek bakso dari Sidrap, Adi Akbar dari Makassar, Kak Ida sekarang di Gorontalo, Laya dari Jakarta, Delfi orang Majalengka tapi ngakunya orang Bandung, Bang Aldi orang Bandung juga, terus ada Bang Budi orang Jkt juga, Khotim dari Ponorogo, Zul wong Tegal, Edo orang yang di kelas sok cool terus sok kalem dari Jambi, siapa lagi ya? Oh si Erdin Selayar sama sohibnya si Rian yang paling diem di kelas. Ada Ceppy dan Putra juga dari Bandung. Sandu asal Lombok. Yusron dari Bekasi, dll yang tidak disebutkan karena cuma sebentar di kelas jadi lupa namanya.

Satu bulan berinteraksi dengan mereka di kelas selama lima pertemuan membuat rasa kekeluargaan itu muncul. Kadang kami banyak menghabiskan banyak waktu luang bareng-bareng. Makan bareng di Bonbin, ngetansu, ke CFD, renang, sepedaan ke Candi Surowono, jalan Ke Bromo, Ke Ijen, Ke Festival Durian di Jombang, belajar bareng di Kilisuci, ngopi di kafe, makan di angkringan. Ya sebulan itu sama mereka terus, lagi, dan lagi. Keintiman sebulan bareng mereka memberi kesan selama masa perkursusan di Pare. Bahkan saat beberapa ada pulang, kek ngerasa kehilangan aja gitu. Ya people come and go. Mau gak mau. Ya harus mau. Toh sudah rumusnya begitu.

Pada bulan kedua, saya mengambil kelas speaking di Daffodils, kelas writing dan translation di Elfast. Di periode ini, jadwalnya 6 kelas sehari. Lebih padat dari bulan pertama. Belajar writing dan translation diajarkan Ms. Santi, Mr. Son dan Mr. Andre cukup menambah pengetahuan saya dalam stuktur penulisan dalam Bahasa Inggris. Kelas ini pengembanagan dari kelas yang saya ambil dari bulan sebelumnya. Buku level advanced ‘American History’ menjadi santapan di kelas translation. Di kelas ini diajarkan bermain intuisi tetapi harus tetap menjaga meaning dari sebuah tulisan. Di kelas ini saya mengerti, bahwa perbedaan struktur penulisan Indonesia dan Bahasa Inggris sangat ketara sekali. Satu bulan belajar di kelas ini, tingkatan writing cukup baik. Sedang translation, saya rasa masih kurang, sebab pemahaman vocab advanced membuat kesulitan pemahaman dalam sebuah tulisan. Sedang di Daffodils saya diajar oleh Ms. Agustin. Cara mengajarnya cukup menarik bagi saya karena saya dituntut memahami vocab baru, pronunciation, dan grammar dalam speaking. Kelas ini cukup efektif meski sampai akhir kelas tinggal beberapa orang yang tersisa. Dari belasan hanya tinggal tujuh orang.

Sistem pembelajaran di Pare dalam pandangan saya, apa yang berbeda adalah tentang lingkungan dan lingkaran. Maksudnya adalah durasi intens belajar bahasa diantara orang-orang yang juga ingin meraih tujuan yang sama, jadi kayak nyaman dan asik aja gitu. Ditambah sistem pengajaran di Elfast yang menuruk saya berbeda dari apa yang saya pelajari di sekolahan. Materinya padat, tapi cara mengajarnya mudah untuk dipahami. Kalau menyoal pemahaman  tergantung individunya apakah sering mengulang atau mereview materi yang diajarkan. Memang ada ujian atas materi yang diajarkan untuk mengetahui pemahaman. Cuma bagi saya proses lebih penting dibandingkan hasil, terlebih ini pendidikan formal di mana pembelajar tidak dituntut untuk berhasil tetapi setidaknya paham akan materi yang diajarkan.

Oya di Pare sendiri ada banyak lembaga kursus bahasa yang gak melulu Bahasa Inggris, tapi ada Arab, Korea, Mandarin, dan lain-lain. Memilih tempat kursus yang memiliki kredibilitas dan berkualitas merupakan hal terpenting. Setidaknya kita harus tahu keunggulan yang ditawarkan oleh kursusan yang akan kita pelajari. Jangan sampai setelah kita belajar berbulan-bulan, tetapi ketika pulang tidak mendapat hasil apa-apa. Penting juga bagi kita menentukan capaian apa yang ingin diraih, apakah sebatas jago speaking, TOEFL, IELTS, dan sebagainya. Memang semuanya berbalik lagi ke diri kita masing-masing.

Tujuan orang datang ke Pare pun beda-beda. Ada yang memang mau belajar, ada yang pengen jalan-jalan, ada yang mengisi waktu liburan dengan belajar hal baru dan kemandirian, ada yang penelitian, dan lain-lain. Bahkan durasi mereka datang ada yang paling minimal dua minggu hingga berbulan-bulan tidak pulang. Kalau saya sendiri merasa betah namun dengan aktivitas yang padat. Karena tidak semua pembelajar memiliki jam kursus yang padat dalam sehari, tergantung kemampuan dan motivasi masing-masing individu.

Banyak operator tour yang menyediakan paket murah ke tujuan wisata. Maka tidak heran, ketika akhir pekan, Pare cenderung sepi karena banyak pembelajar yang refreshing atau jalan-jalan entah kemanapun.  Kafe dan tempat nongkrong pun cukup menjamur disana. Maka tepat ketika Pare saya sebut juga sebagai tempat berlibur. Godaan liburan bahkan menjadi satu-satunya tantangan ketika kalian mengambil kursus disana. Terlebih bagi mereka yang dari luar Pulau Jawa,. Mengunjungi berbagai tempat wisata adalah satu hal kesempatan yang harus dicoba. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui lah.

Oke sekian saja yang ingin saya share tentang #LifeinPare , meski masih banyak lagi cerita yang belum tersampaikan, insyaa allah di tulisan selanjutnya. Pesan saya untuk kalian  yang akan kesana, gali dan cari informasi sebanyak-banyaknya tentang lembaga kursus (yang terutama) agar kalian membawa hasil ketika selesai belajar disana. Lalu terkait tempat tinggal, kalian bisa menyesuaikan apakah akan tinggal sendiri (ngekos) atau nge-camp (sepaket dengan lembaga kursusnya). Untuk kos-kosan kalian bisa cari yang murah sesampaintya di Pare. Tenang disana ada banyak banget sewa kos-kosan. Mau yang sharing seperti di camp atau dengan fasilitas kayak hotel bintang 3 juga ada. Atau tidak mau ribet, ya booking sekalian tempat camp di lembaga kursus. Disini kelebihannya kalian dapat program dari lembaga seperti speaking, skoring toefl, dan sebagainya. 



Sekian, Wassalamualaikum.
Share:

Desember 20, 2017

Agama Warisan? Sudahkan Kita Beriman Kepada Tuhan?

Assalamua'laikum warahmatullohi wabarakatuh.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit opini saya mengenai sebuah tulisan opini yang sempat viral di dunia maya hingga diliput media pada tahun 2016 lalu. Ya, ketimbang tulisan ini hanya tersalin di buku catatan alangkah baiknya saya menulis ulang ke blogpost ini. Padahal mah saya belum dapat konten yang enak dituliskan untuk menambah jumlah postingan.

Oke bicara sesuatu yang viral. Sadar gak sih kalau di Indonesia, sangat mudah sekali sebuah berita atau hal yang kadang tidak terlalu penting namun viral di dunia maya hingga dapat diketahui banyak orang. Entah ini impact penggunaan gadget pada millenials era, jelasnya terkadang ada sesuatu hal yang viral atau persebaran informasi, namun tidak berisi informasi positif (bernilai guna) untuk diketahui atau bahkan terkadang hal biasa yang viral sebaiknya kita hanya cukup tahu saja agar tidak ketinggalan informasi.

Oke, ceritanya begini. Sebelumnya saya akan memulai dari apa yang paling saya syukuri hingga nafas detik terkahir ini adalah tentang takdir di mana saya terlahir di keluarga penganut Muslim, yang menjadikan saya sebagai penganut Islam hingga sekarang yang mengimani bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Alhamdulillah Ya Allah atas takdir ini.

Kenapa saya bilang begitu. Sebab begini, dulu saya pernah berpikir menyoal hal yang sangat liberal sekali dalam kehidupan saya tentang adanya agama dalam kehidupan manusia. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa semua agama mengajarkan hal-hal yang baik, pada intinya sama saja kita mau beragama apa. Saya tidak setuju satu hal tentang ini. Sebab dalam agama yang anut, terdapat perbedaan mendasar dalam mengimani sebuah agama dan konsekuensinya yang berlaku menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

Jadi saya dulu pernah mengandaikan (conditional) tentang, "Jika saya dilahirkan pada keluarga non-Muslim semisal Jews atau yang lain, apakah sekarang saya masih menganut agama bawaan tersebut ?".

Lalu saya mendebat pemikiran saya soal pengandaian itu. Apa iya Tuhan sebercanda itu? Ketika saya menggunakan logika, pasti dan akan selalu mendewakan akal pikiran yang saya miliki, akan terus dan selalu menjustifikasi apa yang saya setiap terima dan alami.

Pernahkah kita berpikir tentang seberapa jauh kritik kita terhadap Tuhan? Sementara dengan akal pikiran kita yang serba terbatas, mau setinggi apapun IQ kita, sejauh apa fantasi kita. Tetap otak merupakan indera utama kecerdasan yang kita miliki pun memiliki sebuah keterbatasan. Sebagi contoh, apakah kita dapat mengingat apapun yang sudah kita alamai selama hidup dari waktu ke waktu. Tentang memori sewaktu kita kecil, tentang kenangan mendaki gunung beberapa tahun lalu, atau bahkan kegiatan kita hari ini saja dengan sedetail mungkin. Nah benar kan, betapa lemahnya otak dan akal pikiran kita.

Lalu sadarkah kita tentang batasan otak kita dengan mengkritik ketentuan-ketentuan yang sudah tertuliskan (takdir) yang dalam agama saya merupakan hak preogratif Sang Maha Pencipta di Lawh Mahfudz.

Ingat kembali tentang Qadar sebagai ketentuan mutlak Tuhan tentang kehidupan manusia dan seluruh alam yang telah digariskan, seperti kelahiran, rezeki, jodoh, dan kematian. Lalu mengenai Qodo sebagai ketentuan-ketentuan Tuhan bagi setiap manusia atas pelaksanaan Qadar ketika terjadi. Dua hal ini termasuk iman dalam Islam. Ya, ketika kita sudah mengimaninya sudah selayaknya pula kita pun bersungguh-sungguh meyakini dengan sepenuh hati kita.

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya, mereka itu orang yang tulus hati (pecinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka." Al-Hadid : 57

"Dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka." Muhammad : 3

Iman adalah tentang kepercayaan dan keyakinan, bahasa mudahnya dalam akal pikiran saya. Lantas sudahkan kita memiliki kepercayaan dan keyakinan setulus hati terhadap eksistensi kita di muka bumi ini. Siapa sebenarnya jati diri kita? Apa sebenarnya tujuan kita ada di muka bumi ini? Apa iya, kita hidup dimulai dengan lahir, tumbuh kembang, bersekola mengenal dunia, jalan-jalan di akhir pekan, bekerja, menikah, mempunyai keturunan lalu kemudian mati? Dengan proses yang begitu panjang pada umumnya kehidupan seseorang, tidakkah kita berpikir tentang, "Dimana kita sebelum keluar dari rahim ibu kita? dimana keberadaan kita saat tertidur? sadarkah kita? Atau ingatkah kita? Atau tentang kejadian sehari-hari yang dimulai dari sebangun tidur hingga sampai tidur kembali menjelang malam. Ingatkah kita?".

Adakah terlintas di benak hati kita yang terdalam, bahwa semuanya ada yang maha mengatur segalanya. Tentang kuasa dan kebesaran. Raja penguasa alam semesta diantara milliaran manusia di penjuru dunia yang memiliki hampir rupa dan bentuk yang sama.

Dulu ketika kecil, saya pernah memikirkan hakikat kelompok manusia yang dipimpin oleh penguasa tertinggi di dalam golongannya. Tentang sebuah kerajaan-kerajaan yang berkuasa dengan kelompok masyarakatnya hingga di galaksi lain. Saya pernah pula memikirkan tentang reinkarnasi. Jadi saya dapat menyimpulkan, otak yang berfungsi untuk berpikir memang teramat liar sebab mampu memikirkan hal-hal imajinatif semacam itu. Namun kembali lagi kepada pertanyaan saya tentang siapa sebenarnya kita di kehidupan ini? Oke. Mudah sekali menjawabnya. Siapa kita tergantung siapa orang di sekitar kita.

Tetapi bukan itu yang saya maksudkan. Siapa kita versi saya adalah akan saya jawab sebagai seorang mahluk yang disebut hamba yang dimiliki Sang Maha Pencipta Alam Semesta beserta seisi-Nya. Lalu mengapa saya ada bersama manusia-manusia lainnya adalah tentang apa yang hanya bisa kita tahu dari tuntunan kehidupan seseorang yang beragama. Saya percaya Al-Qur'an sebab kalam Allah sangat jelas sekali menyatakan tentang agama dalam QS. Asy-Syura : 13 yang artinya, "Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya)  bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

Hakikatnya manusia hanya diberikan sedikit waktu saja untuk mengabdikan atau menghambakan dirinya untuk Sang Khalik sesuai dengan ajaran dan tuntunan kehidupan sebagai seorang khalifah di atas muka bumi, selain diberikan kesenangan dan permainan yang menyenangkan belaka. Manusia menjalani kehidupan bagaikan sebuah ujian/cobaan sebelum kembali ke kehidupan yang kekal. Lantas dengan waktu yang sedikit saja (umumnya 60 tahun), dunia teramat sebentar seperti persinggahan sementara namun dapat melalaikan, lalu saya malu menanyakan diri saya sendiri, "sejatinya usia ini telah dihabiskan untuk apa?" Astaghfirullah.

Wassalamua'laikum .
Share:

Februari 16, 2017

Kepulangan Pertama : Ayahanda Tercinta

Sempat beberapa kali hal ini terlintas di pikiranku. Rasa penasaran dengan rahasia Tuhan akan kepulangan. Pernah pula aku merenungi apakah aku yang akan pulang duluan. Mengingat keluarga kami masih lengkap. Ayah dan Ibu dengan 7 anak, 6 menantu, dan 12 cucu. Kami diberikan rezeki dan nikmat garis keturunan yang saling kasih-mengasihi. Belum ada yang pulang. Sementara itu, tidak sedikit entah teman, keluarga (bukan inti), tetangga, dan para sahabat merasakan kehilangan di dalam lingkaran keluarga mereka.

Kenangan sewaktu hemodialisa di RS Wijayakusuma

Rabu, 8 Februari 2017 pukul 12.40 WIB. Kepulangan pertama akhirnya datang juga di keluarga besar kami. Allah swt memilih Ayah sebagai yang pertama untuk kembali menghadap-Nya. Ayah tersayang kami, Semoga Almarhum Ayah ditempatkan di sisi yang mulia disana serta dilapangkan kuburnya. Aku percaya semua kehendak yang tertulis di Lawh Mahfuz adalah skenario yang paling terbaik. Aku sangat percaya itu. Semoga Almarhum Ayah husnul khotimah. Allahuma Aamiin.

Banyak teka-teki Tuhan dalam kehidupan kami. Setelah merenungi kepulangan Ayah. Kami mempercayai bahwa Allah swt sangat rapi mengatur kesemuanya. Hanya sedikit saja kami mengetahui hikmah dari kejadian tetang kepulangan pertama ini. Mencoba menyadari meskipun rasio pikiran kami sebagai hamba Tuhan sangatlah terbatas.

Bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah, Tuhan menakdirkan kejadian ini di waktu yang paling tepat. Sebagaimana Allah berfirman “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang” (QS 28 ayat 11). Setelah pertama, tugas almarhum Ayah sudah selesai di muka bumi ini menghidupi Ibu dan membesarkan semua anaknya dalam keadaan dewasa juga mapan. Inshaa allah kami akan menjalankan pelajaran dan pengajaran yang Ayah berikan semasa hidup kepada kami. Sangat banyak sekali pengorbanan, kerja keras, perjuangan, membanting tulang, kasih sayang, dan aspek kehidupan yang berguna agar kami menjadi manusia yang bermanfaat.

Kenangan wisuda September 2015.
Kedua, tercapainya cita-cita Ayah akan kehidupan anak-anaknya berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibanding Ayah. Memang, aku menyadari hal ini lebih semata keduniawian, namun tujuan Ayah yang aku tangkap bukan sekedar untuk mengejar hal itu. Akan tetapi, untuk keseimbangan iman dan ilmu agar selaras menyongsong kehidupan lebih baik (istiqomah). Ketiga, Alhamdulillah ku ucapkan kembali, Tuhan memberikan umur yang panjang kepada Ayah di mana yang aku tahu, umur manusia setelah masa Nabi Muhammad saw, tidak jauh dari umur nabi yaitu 63 tahun. Allah Maha Pengasih memberikan Ayah 68 tahun untuk menyelesaikan tugas mulia yang Allah swt berikan di keluarga kami. Sungguh janji Allah Maha luar biasa. Bahkan kepulangan Ayah pun membuat keluarga besar kami dan juga para tetangga berkumpul saling silaturahim mengiringi prosesi pemakaman Ayah hingga dikuburkan ke liang lahat. Banyak sekali orang-orang yang sayang kepada Ayah memanjatkan doa.

Ayah kini sudah pulang. Pengorbanan dan jasanya tidak akan pernah lekang. Ayah sekarang sudah pulang. Hanya bisa mengingat kenangan di masa kemarin. Masa bahagia, susah, senang, sedih dan tertawa bersama Ayah. Semuanya menjadi cerita dalam memori kami. Cerita rindu untuk kami semua. Ibu sempat menuturkan kenangan selepas kepergian Ayah. Membuka lembaran catatan kehidupan di sepanjang perjalanan yang terlewati. Ibu sekarang memang sendirian. Giliran kami lah yang bertanggungjawab untuk kebahagiaan Ibu. Ayah adalah pejuang Tuhan yang dititipkan sesaat, beliau dihadirkan di keluarga besar kami.

Banyak ceritera yang bisa kami ulang. Meski hanya sekedar luapan perasaan dari rekaman memori kami masing-masing. Yang jelas, kami sangat bahagia serta bersyukur berada di keluarga ini. Terima kasih Tuhan atas segala kehendak-Mu. 

Ayah, yang selalu kami rindukan. Kami sangat sayang Ayah. Namun, Tuhan lah yang lebih dan sangat menyayangi Ayah (Arrahmanirrahim). Semoga doa-doa kami selalu sampai. Menuju tiang-tiang langit. Sampai ke bait-bait Allah melalui para malaikat-Nya. Aamiin ya robbal 'alamin.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.  Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Allaahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa 'aafihii, wa'fu 'anhuu, wa akrim nuzuulahuu, wa wassi' madkhalahuu, waghsilhu bimaa-in watsaljin wabaradin, wanaqqihii minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihii, wa ahlan khairan min ahlihii, wa zaujan khairan min zaujihii, waqihi fitnatal qabri wa 'adzaabannaar.
Share:

Instagram