Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Traveling. Tampilkan semua postingan

November 30, 2022

Trekking ke Sunan Ambu - Sunrise Spot Kawah Putih Ciwidey

Agenda perjalanan ke Sunan Ibu menjadi momen yang saya tunggu-tunggu karena sudah diagendakan sejak Bulan September lalu namun gagal karena saya sempat bedrest. Aktivitas perjalanan kami mulai sehabis subuh, rencananya. Realisasinya kami berangkat dari penginapan jam 5 kurang kala ufuk mulai mejingga. Untungnya jarak dari tempat kami menuju ke titik poin tidak terlalu jauh. Membutuhkan waktu sekitar 15 menit saja.

Kami memasuki gerbang Taman Wisata Alam Ciwidey. Suasana pagi itu masih sepi sekali. Melewati pintu masuk kedua lalu belok kiri. Lah jalannya diportal besi. Waduh. Celingak-celinguk menyorot ke pusat informasi tapi masih tutup kantornya. Untungnya ada bapak paruh baya sedang berjalan ke arah kami. Bertanya perihal jam buka dan tiket masuk. Lalu mohon izin untuk masuk kawasan tersebut. Si bapak yang bekerja di perkebunan Perhutani disana mengangkat portal itu, sehingga ada celah untuk motor kami bisa lewat di bawahnya.

Perjalanan berlanjut dengan kondisi terang pagi. Kanan kirinya vegetasi hutan. Akses jalannya ada banyak titik yang sedang dicor, namun hanya setengah sisi dan hanya puluhan meter saja. Sebagain besar kondisinya kurang mulus. Kemungkinan itu jadi alasan mengapa pengunjung yang datang diharuskan menaiki angkot warga lokal untuk menuju kesana dari area parkiran depan.

Tidak jauh untuk sampai di area kebun teh yang letaknya bersebelahan persis dengan glamping camp area. Kami bertemu dengan pekerjanya. Saya sudah lupa namanya. Jelasnya, kami meninggalkan kartu identitas sebelum naik ke atas. Kartu tersebut akan diambil saat membayar retribusi masuk yang harus dibayar di gerbang depan.

Sekilas tentang Sunan Ambu

Sunan Ambu adalah salah satu bagian dari sekian titik puncak Gunung Patuha. Berada di ketinggian 2.343 mdpl. Terdapat sebuah petilasan di atasnya. Letaknya di sebelah barat Kawah Putih. Jika sedang berada di sekitaran kawah, kita akan melihat puncak perbukitan yang menjulang di sebelah kiri. Disitulah titik Sunan Ibu berada. Ditumbuhi batang cantigi yang terbakar dan jenis tumbuhan pakis-pakisan.

Kami memulai pendakian pukul 5.25 di mana langit sudah dominan terang. Apalagi semalam diguyur hujan lebat yang lama. Sisa-sisa awannya masih tersisa. Sorot matahari membuat rona pagi itu agak kelabu. Kami trekking ke atas dengan jalur yang sudah tertata rapi. Tangga bersemen. Lebar jalur 1,5 meteran. Kontur naiknya relatif aman. Jaraknya sekitar 200 meter saja untuk sampai ke puncak. Pada sisi kanan-kiri tangga, vegetasi pakis hutan banyak sekali disela-sela pohon yang meninggi.
Lima menit berjalan, kami sudah sampai di shelter pertama. Disini semacam deck kayu yang pemandangannya sudah wow sekali. Ah serius kawan. Kalau kalian suka berada di ruang alam terbuka, ini beneran indah banget. Kawah putih agak toska di bawah sana. Punggungan bukit dihiasi pepohonan bekas terbakar juga meranggas. Semak rerumputan hijau coklat padu jadi belukar. Suara burung-burung bersiul nyaring. Gudang oksigen nan sejuk. Matahari terus berpendar, walau memang tidak secantik parasnya kala di musim kemarau. Itu tandanya saya kudu balik lagi kesana saat musim penghujan usai.
Kami lanjut naik ke atas. Tangganya makin menanjak berada di bahu bukit. Disini cantigi dan pakis menyambut kedatangan kami. Seperti pager ayu dan pager bagus. Makin ke atas makin cihuy pemandangannya. Apakah ini hukum keindahan muka bumi. Entahlah. Ini hanya perspektif saya yang terkagum-kagum jika melihat apa yang di bawah dari ketinggian.
Rupanya cuma membutuhkan 15 menit saja untuk sampai di titik puncak. Awalnya saya mengira akan berjalan setidaknya satu atau dua jam. Ternyata tidak perlu waktu lama untuk menyaksikan view yang memukau disana. Bayangkan saja. Di sisi barat atau belakang, perkebunan teh Rancabali dengan pola yang rapi. Di sisi timur, perbukitan berlapis-lapis dan beberapa atap gunung menjulang. Berselimut kabut tipis di bagian bawahnya.
Di puncak Sunan Ibu, ada dataran sekian meter persegi. Terdapat petilasan yang ditandai oleh susunan batu. Ada bakaran dupa dan sajen di atasnya. Ditaruh oleh peziaraha atau juru rawat situs disana. Kami sempat bertemu mereka saat melawat di puncak.

Karakterisik lain adalah tidak adanya tumbuhan rapat di puncaknya. Beberapa pohon tumbuh jarang sehingga bisa melihat sudut 360 derajat. Bendera merah putih berkibar di atas plang bertuliskan Puncak Sunan Ibu 2.343 mdpl. Suasananya membuat betah duduk berlama-lama. Menikmati alam semesta. Angin sepoi-sepoi menggerakkan daun-daunan. Udara terhirup segar. Terasa damai dan menenangkan. Alam memang tempat terbaik untuk mencari ketenangan. Memberi energi yang baik dari penatnya kesibukan sehari-hari.
Saya menyusur ke sisi jalur yang arahnya dari pemukiman warga. Disana dipenuhi semak belukar tumbuh merapat. Sedangkan di sisi jurang, cerukan antara dua bukit nampak seperti sabana. Cerukan itu memisahkan antara Sunan Ibu dan puncak Gunung Patuha. Sementara sisa pohon-pohon bekas terbakar menghiasi konturnya yang miring.
Di atas sana selain kami, ada beberapa rombongan pengunjung yang datang pagi itu. Ada yang naik dari jalur belakang dan mereka bermalam disana (camping). Mereka dari Cianjur. Kata mereka butuh dua jam perjalanan untuk sampai ke atas. Melewati jalur rumah warga dan juga perkebunan teh.
Saking betahnya, kami jadi pengunjung yang paling terakhir turun. Dua jam menikmati pemandangan Sunan Ambu memberi kepuasan yang sangat berkesan. Sebenarnya pengen berlama-lama disana. Amat merasa puas dan penuh syukur. Diberi waktu kesempatan melihat tempat indah yang tercipta.

Saat di bawah, kami ngobrol ngalor ngidul dengan si aa' pekerja Perhutani. Sempat disuguhi kopi olehnya. Pun masih antusias dengan perkebunan teh persis di dekat area parkiran.
Kami berjalan menuju kesana. Ada telaga kecil dan ternyata rombongan yang kami temui tadi sedang masak di area telaga. Saat memasuki lorong-lorong kebun teh. Sajian kontur perkebunan kehijauan yang tertata apik.
Di bawah sana, Situ Patenggang dan bangunan tampak kecil seperti miniatur. Langitnya sedikit membiru. Begitu mentari mulai meninggi karena sudah menyoroti wajah kami. Tak lama, kami beranjak menuju ke Kawah Putih (ceritanya bisa dibaca disini).

Share:

Oktober 27, 2022

Wisata Ranca Upas : Kabut, Rintik Hujan dan Sekawanan Rusa

Selamat Hari Blogger Nasional, kawan-kawan blogger. Semoga tetap konsisten ya berbagi informasi yang bermanfaat dalam karya tulisan. Kali ini saya ingin berbagi kisah perjalanan bulan sepuluh tahun 2022. Tepatnya saat libur tanggal merah memperingati Maulid Nabi dua minggu lalu. Saya kembali mengunjungi wisata yang ada di sekitaran Ciwidey, Bandung. Dua tahun sebelumnya saya pernah menginap di eMTe Highland Resort yang lokasinya berseberangan dengan pintu masuk Kawasan Wisata Alam Kawa Putih. 

Part time jadi pawang

Saya memulai perjalanan dari Cilamaya Karawang. Menaiki angkot biru menuju ke Simpang Jomin. Lanjut berpindah angkot menuju Cikopo. Dari Cikopo, saya naik bus Primajasa jurusan Cikarang - Bandung seharga Rp40.000. Saya turun di terminal Leuwi Panjang. Sayangnya, naik transportasi publik ini membuat perjalanan menjadi lebih santai dan lama sampainya karena bus keluar masuk tol di Purwakarta dan sesekali masuk ke rest area untuk mengangkut/menurunkan penumpang. Pengalaman naik transportasi umum ini saya tuliskan disini. Saya berangkat dari kost sekitar pukul 8.30 pagi. Kondisi Tol Cipularang saat itu cukup padat pula dipenuhi mobil berplat B. Cuaca mendung menyelimuti langit di sepanjang jalan tol. Setibanya di terminal Leuwi Panjang jam 12 siang, saya langsung pesen grab menuju ke Sate Jando Gasibu. 

Udara Bandung siang itu mendung putih kelabu. Hawanya tidak pengap seperti di Karawang. Terasa adem meskipun di luar pas siang bolong. Bisa jadi karena relatif banyaknya pohon di sempadan jalan. Ditambah banyaknya ruang publik yang tersedia. Sampainya di Sate Jando, saya bertemu dengan Fajar yang sudah datang lebih dulu. Ia mengantre disana sedari jam 11 kurang. 

Mula cerita, kami sudah mengagendakan untuk hiking ke Sunan Ibu sedari lama. "akhirnya kejadian juga ya Jar." Sebelum berangkat, kami mengisi perut lebih dahulu. Sedikit informasi, Sate Jando ini pernah viral di sosial media. Hampir selalu ramai pengunjung. Tersedia menu sate jando (lemak sapi), sate sapi dan sate ayam. Saya mencoba sate campurnya. Dengan baluran bumbu kacang yang agak pedas manis, tentu lezat rasanya. Bakul sate ini buka hingga jam 5 sore. Siap-siap untuk antre lama ya, terlebih saat weekend. Antriannya mengular.

Perjalanan pun dimulai. Kami melewati Margaasih, nyebarang tol ke arah Taman Kopo Indah, berhenti sebentar di Masjid Jami Nurul Huda, lanjut ke arah ke Stadion Jalak Harupat, sampai di Soreang dan terus melaju ke Pasir Jambu. Kontur jalanan semakin menanjak kala memasuki area Ciwidey. Beruntungnya cuaca di perjalanan sangat mendukung. Berdasarkan prakiraan cuaca, hujan akan turun sore menjelang malam hari. Awan putih sudah menyelimuti kolong langit di atas kami. Udara semakin terasa dingin mengenai kulit. Satu jam setengah laju perjalanan dengan motor matic Beat Street. Kami tiba di Reddoorz near Kawah Putih Ciwidey sekitar pukul tiga sore. Ulasan mengenai penginapan bisa kalian baca disini.

Singgah sebentar menaruh barang. Istirahat sejenak meregangkan badan. Melihat pemandangan di balkon belakang. Rumah-rumah penduduk diantara lembah perbukitan yang berundak. Cukup menarik untuk difoto. Meski menurut Fajar, pemandangan itu pun udara disana hampir sama seperti di sekitar rumahnya di Cianjur. Membuat malas bergerak karena dingin. Hahaha.

Selepas ibadah sholat ashar lanjut pergi menuju ke penangkaran rusa Ranca Upas. Sore sekitar pukul empat, masih banyak pengunjung yang masuk ke kawasan penangkaran ini. Dengan bus, mobil pribadi juga kendaraan motor. Tak sedikit dari mereka membawa peralatan camping dengan tas gunung. Di gerbang pos, petugas menagih tiket masuk. Dua orang dengan kendaraan motor dipatok sebesar Rp58.000. Tarif ini berbeda apabila kalian hendak berkemah. Selain penangkaran rusa, disana ada juga onsen, igloo camp dan penginapan  ala-ala cabin di bawah rindang pepohonan.

Jalan tapak di penangkaran. Rumput ijo-ijo aja estetik.

Masuk ke area penangkaran, kalian akan menaiki bangunan semi permanen kayu. Di dalamnya, kita bisa membeli wortel untuk memberi makan rusa. Harga satu ikatnya 10 ribu. Ada juga yang dijual seharga 20 ribu. Jadi bangunan ini seperti ruang balkon memanjang sebelum menurun masuk ke penangkaran. Seketika turun dari tangga. kawanan rusa timor akan reflek mendekati kita apabila membawa wortel. Seolah wortel sudah menjadi menu favorit sehari-hari mereka. Sangat lahap sekali. Satu potongan wortel bisa dilahap dalam sekejap saja. 

Rusanya ada yang bertanduk. Kalau diamati seperti ranting kayu. Bercabang meruncing ke bagian atas kanan dan kiri. Bagus bentuk polanya. Ada yang lapuk juga loh ternyata. Bisa jadi sudah berumur atau karena rusa jantan suka adu kekuatan dengan tanduknya. Beberapa ada yang kulitnya terluka. Jadi menurut informasi yang saya baca, rusa bertanduk itu yang jantan, begitu kebalikannya rusa betina tidak memiliki tanduk. Bulu rusa berwarna sama seperti warna bajing/tupai. Lebih dominan kecoklatan.

Saat kami disana, sebagian rusa ada yang duduk bersantai. Seolah mager-mageran memejamkan mata. Ada pula yang mengejar wortel di tangan wisatawan. Lalu ada yang dijadikan obyek foto oleh wisatawan. Dan mereka punya insting. Jika diajak foto tanpa diberi wortel, mereka akan cuek dan tak acuh dengan pengunjung yang mendekatinya. Berbeda dengan wisatawan yang memberi wortel, mereka akan welcome untuk diajak berfoto. Berkunjung Ranca Upas seru sekali. Terlebih jika membawa anak-anak untuk berinteraksi dengan hewan yang cenderung jinak ini. Namun tetap hati-hati ya, mereka juga bisa agresif menanduk pengunjung. Saya melihat ada wisatawan yang dikejar dan ditanduk hingga tergopoh.

Di pematang sekitar penangkaran, padang rumput berparas kehijauan tumbuh sangat alami sekali. Pohon-pohon tumbuh rapat di perbukitan yang nampaknya kabut semakin pekat. Terbawa angin. Bergerak dramatis. Tentu kalian pernah melihat kabut yang menambah suasana semakin terasa syahdu.  Momen sendu yang saya saksikan kala sore itu. Beberapa tenda berwarna-warni terpasang di padang rumput dekat pepohonan nan jauh sana.

Lama kemudian, titik-titik air membasahi tanah Ranca Upas. Hujan lebat membuat rembesan air hujan menguapi aroma bau tanah. Mungkin ditambahi campuran bau kotoran rusa pula. Beruntungnya tereduksi dengan oksigen juga tanaman yang tumbuh subur disana. Udaranya jadi segar nan sejuk. Hawa dingin menjulur ke sekujur kulit. Setengah jam sudah, derasnya titik air yang jatuh mulai merintik. Kami pun menunggu momen hujan di kala senja. Suasana makin damai saat bersama nuansa alam.

Ketika hujan mereda menjelang masuk waktu maghrib. Kami keluar taman penangkaran. Mlipir sebentar ke warung kopi gunung. Kafe estetik diantara pohon-pohon tinggi besar. Kabut sehabis hujan dengan rintik sedu mendayu gelap malam yang akan tiba. Kami minum kopi sebentar untuk menghangatkan badan. Segelas kopi dan sepiring mendhoan. Lantas hujan mendera kembali dengan intensitas yang semakin deras. Menunggu satu jam lamanya namun tak kunjung reda. Akhirnya kami menerobos rintik yang tersisa sedikit. Nyatanya perkiraan kami salah besar. Jalan ke bawah dekat penginapan,  hujan justru masih turun amat deras. Pakaian dan sepatu kami basah kuyup karena hanya memakai jas hujan satu dibagi dua. Saya memakai bagian atasnya. Sedang Fajar memakai bagian celananya. Masih ada untungnya, ada air hangat di penginapan.

Sekian cerita saya berkunjung ke Ranca Upas. Mari menunggu kisah perjalanan berikutnya ke Sunan Ibu. Selamat malam. 


 

Share:

Juni 01, 2022

Kembali ke Gunung Parang

Gunung Parang
Minggu, 29 Mei 2022 kemarin, masih terbayang keindahan lanskap dari atas Gunung Parang. Gunung batu yang berlokasi di Kampung Cihuni, Kecamatan Sukatani, Purwakarta. Berada di atas sana, saya dan teman-teman berdecak kagum melihat pemandangan Waduk Jatiluhur, hamparan sawah yang menghijau, Gunung Lembu dan undakan perbukitan yang tertata apik di sekitaran. Masyaa Allah.

Lanskapnya ciamik luar biasa
Mengunjungi Gunung Parang bukanlah hal yang direncanakan sejak jauh-jauh hari. Awal ceritanya begini kawan. Semenjak tinggal dan bekerja di Karawang dan mempunyai waktu libur hanya di hari minggu, membuat saya susah bepergian jauh-jauh. Beberapa kawan sering mengajak untuk jalan bersama dan pergi liburan ke luar kota namun seringnya saya menolak tawaran mereka. Sampailah pada, saya mengajak kawan semasa kuliah untuk beriwsata ke Purwakarta sebab jaraknya hanya sejam setengah dari lokasi saya bekerja sekarang. Kenapa Purwakarta dibanding Karawang? Purwakarta punya Sate Maranggi, Hutan Jati, Waduk Jatiluhur dan wisata alam lain yang bisa dijadikan referensi kawan-kawan saya. 

Pada akhirnya, dua hari sebelum hari H, saya membahas destinasi yang kiranya dapat menarik minat mereka. Saya buatkan itinerary sementara karena kawan saya berangkat dari Depok, Tangerang dam Jakarta. Jatuhlah pilihan kepada Gunung Parang dan Hutan Jati sebagai destinasi #OneDayTripPurwakarta kemarin. 

Esok harinya saya mencari penyewaan mobil untuk kebutuhan transportasi. Sedangkan teman-teman saya, berangkat menaiki KRL menuju Cikarang dan melanjutkannya dengan Kereta Api Walahar dari Stasiun Cikarang menuju Purwakarta. 

Nah karena perjalanan ini cuma sehari tanpa menginap, saya menyarankan agar mereka berangkat di waktu subuh agar tidak kesiangan dan mengejar jadwal kereta lokal jam 7 pagi. Drama pun dimulai, sebut saja Iyus, bukan nama yang sebenarnya, dia mengabarkan tidak akan keburu sampai di Cikarang sebelum pukul 7. Sedangkan dua teman lagi, Putra dan Manah meraka aman menaiki KRL yang tiba di Cikarang setengah tujuh. Jadi Iyus bukannya ngaret, tetapi saat berangkat, hujan melanda Depok di waktu Subuh sehingga dia jadi terlambat. Untungnya, dia sudah lihai dengan drama perjalanan. Ia pun menyusun rencana, dengan turun di Stasiun Buaran yang pintu keluarnya cukup efektif diaskses, menurutnya. Ia langsung pesan taksi online aka Gocar. Saat menaiki taksi, jam sudah menunjukkan 6.30. Sedangkan durasi perjalanan di maps sekitar 37 menit. Bapak supir sudah pesimis untuk mengejar waktu tersebut. 

Sontak Iyus menyampaikan unek-uneknya ke bapak supir, "pak, saya mengejar kereta pukul 7 pagi." 
Si bapak supir langsung menyela, "lah di maps aja 37 menit mba". 
"iya pak, saya gak mau tahu, yang penting kereta saya berangkat jam 7", seru Iyus lagi. 
Tanpa menjawab, bapak supir memburu waktu memacu gas mobilnya di jalan tol. Mungkin ia membatin, sepertinya saya keliru mengambil penumpan hahaha. 

KA Lokal Walahar bergegas untuk berangkat. Lihainya lagi, Putra dan Manah melobi bapak walka (petugas kereta) menyampaikan kalau Iyus, sahabat kentelnya sudah sampai di parkiran stasiun, sedang lari terbirit-birit menaiki tangga. Ia dengan sigap memindai tiket kereta dan memasuki peron. Entah jurus apa yang membuat Iyus akhirnya bisa masuk ke kereta di saat kereta berangkat pukul 7.07 pagi. Jelas terdengar di telepon, tawa lepas bahagia mereka bisa bersua di dalam kereta itu. Terkadang di perjalanan emang ada aja ceritanya ya. Alhamdulillah, Tuhan masih merestui sisa perjalanan kami yang bisa kalian baca sampai di akhir. Sedang saya sudah di mobil melaju ke Stasiun Purwakarta sejauh 1,5 jam melewati Pantura, belok kiri di Simpang Jomin untuk sampai ke Purwakarta. 

Sampailah mereka, kawan-kawanku di Purwakarta. Kesempatan meet up lagi setelah sekian lama sehabis momen tersesat ke Curug Hordeng Bogor pun terjadi. Mereka tampak happy saat keluar stasiun sembari tertawa-tawa lepas mengingat perjuangan tadi pagi. Keliatan banget sih, mereka happy ketemu aku lagi sepertinya hahaha. Kami pun lanjut berangkat ke arah Polsek Plered, karena jalur dari Pasar Anyar Sukatani ada jalanan amblas. Kami berhenti sebentar sarapan soto. Soto ayam tapi kayak opor soalnya pakai kupat. Tak lupa membeli jajan dan minuman untuk bekal di perjalanan. 

Memasuki jalur pedesaan, jalanan menanjak curam, melewati sawah, hutan dan perkampungan. Gunung-gunung batu menyapa kami. Sama seperti udara sejuk yang menyambut kedatangan kami. Sampailah di lokasi Gunung Parang Badega tepat pukul 11 siang. Molor sejam dari rencana jadwal. Kami pun sudah sepakat men-skip Hutan Jati kalau tidak sempat. Kami naik ke basecamp Gunung Parang untuk beristirahat sejenak. 

Pendakian dimulai sehabis sholat dzuhur, sekitar pukul tengah 1. Semuanya memakai carabiner, body harnest dan helm. Selain itu, kawan-kawan saya sudah sedia suncreen entah merk apa saja, maklum lah ya, biar gak kebakar dan belang. Sayang juga ya kan, harga kolagen relatif mahal katanya.

Kami pun memulai trekking menuju titik awal pendakian. Sempat berfoto-foto di lokasi camping ground, yang mana disana saja kami sudah terpukau sama pemandangannya yang keren banget. Ini foto lanskapnya, luar biasa banget bukan. Kami pun diberi briefing dan juga berdoa supaya dikasih selamat dan kelancaran. Aamiin! Perjalanan menuju ke starting point melewati jalanan tanah melewati pohon-pohon. Lalu agak sedikit menanjak sekitar 10 menit. Melewati jalanan bambu di pinggir celah bukit tepat di bawah Gunung Parang. 

Kami pun memulai via ferrata. Saya di depan, Manah, Iyus, Putra dan dua orang Mba-Mba dari Karawang Kota. Bersama guide kami, Mas Baban, yang memandu pendakian. Jadi unsur safety sangat diutamakan di kegiatan outdoor via ferrata ini. Sebagai informasi, ferrata adalah tangga besi. Sebagai pionir jalur ferrata pertama di Indonesia, Gunung Parang mereplikasi wisata adrenalin ini dari Italia. Terdapat dua rute yang ditawarkan disana yaitu 300 m dengan durasi normal pp selama 3 jam, sedangkan rute 900 m normatif pp bisa ditempuh selama 6 jam. Kami tentu memilih jalur yang pertama. Sebelumnya saya sudah pernah mencoba kegiatan ini di tahun 2016. Kalian bisa membaca pengalaman saya disini
Gunung Parang itu sejenis gunung batu. Mencapai puncaknya, pengunjung dapat mencoba via ferrata berupa besi yang dibor menancap ke dalam batuannya hingga tersusun menyerupai tangga. Itulah maksud nama ferrata. Selain mengakomodir pendaki pemula yang memiliki antuasiasme terhadap kegiatan pendakian, namun tidak seprofesional pemanjat tebing (wall climbing). Sebelum memulai pendakian, diwajibkan sekali nih, untuk yakin kepada diri sendiri. Menghilangkan rasa takut, cemas dan khawatir akan berada di ketinggian. Kuncinya adalah kita harus menjaga unsur keamanan saat menaiki juga menuruni tangga, dengan memasang carabiner di sling kawat dan di tangga besi. Secara bergantian melepas-memasang kembali carabiner yang terdiri dari dua bagian, satu untuk sling kawat dan satunya lagi dipasang di tangga besi. Just in case, keamanan double ini dipakai supaya lebih aman. Jalur ferrata sendiri arahnya tidak selalu vertikal, ada juga yang horizontal atau acak susunannya. 


Pada awalnya kita mungkin akan kagok untuk dapat terbiasa memainkan peran tangan yang melepas carabiner dan juga memegang tangga besi. Namun, lama-kelamaan akan mulai terbiasa dan tetap fokus, satu titik, titik itu, kita kejar. Maksudnya saat kita menaiki tingkatan tangga. Makin ke atas, makin indah pula suguhan pemandangannya. Mata kita seperti drone yang sedang melayang di ketinggian. Untung gak ditabrak burung ye kan. 



Kontur Gunung Parang sendiri pun tidak melulu vertikal, terdapat sisi dataran di mana kita bisa beristirahat sejenak sambil menikmati pemandangan di sekitar sana sambil menikmati lagu Westlife yang putar Mas Baban. Indah banget! Terpukau... Karena posisi saya di paling depan, sesekali saya mengambil foto kawan-kawan yang amat serius menaiki tangga. Awalnya mereka terlihat deg-degan. Kian naik, kian bisa melepas senyuman, amat sangat menikmati suasana di atas tebing yang momennya luar biasa. Saya pun turut senang bisa membawa mereka ke tempat seindah yang bahkan tidak bisa lagi diungkapkan dengan kata-kata. Sebuah pencapaian mereka dapat mengalahkan rasa ketakutan yang muncul sedari semalam suntuk sebelum keberangkatan ke Purwakarta. Meski alasan yang saya dengar, mereka mau kesini karena ajakan saya, kalau bukan saya yang mengajak mereka tidak akan mau. Klasik terdengar memang. Padahal usaha melawan ketakutan itu muncul dari diri mereka sendiri bukan.


Mentari begitu bersahabat dengan kami. Hari di mana semesta ibarat mendukung pula pertemuan kami disana. Tentu perjalanan ini juga dilancarkan atas doa-doa orang terdekat kami. Terima kasih! Di atas sana, kami banyak mengabadikan momen saat menemukan dataran diantara tebing-tebing. Berhenti menghela napas. Beristirahat. Memandang ke arah jauh. Bukan arunika, sesuatu yang adiwarna dan dikara. Voilaaa ku sajikan foto ini sebagai gambaran otak kalian jika ingin kesana.



Dersik angin sesekali terdengar diantara hembusan nafas yang makin tersengal. Jenggala di Gunung Lembu dan sekitaran lagi-lagi menjadi buruan mata, bentuk sawah meliuk-liku seperti terasering, ada cerukan air nampak seperti telaga, rumah-rumah warga berpola mengikuti jalanan pedesaan, keramba-keramba ikan tak mau kalah menghiasi pola permukaan air yang amat luas di Waduk Jatiluhur. Enceng gondok tak mau kalah eksis tumbuh di atasnya. Meski mereka dianggap sebagai limbah sebab masifnya tumbuhan ini memenuhi permukaan air waduk. Saujana, bumi ini teramat selesa. Kami berdiri di atas tebing seperti nagkring menuju jumantara.



Di titik dataran terakhir kami berhenti. Disana berbincang bersama entah membahas topik (gak) penting apa saja. Aku pun sempat mengirimkan foto lanskap ke wa ibuku. Begitupun Iyus sempat video call dengan ibunya memperlihatkan lanskap keindahan itu.  

Lanjutlah kami di titik mendekati spot 300 m. Disana terdapat ujung tebing yang menjorok. Kami melewati celah tebing satunya. Hanya Iyus sendiri yang tidak foto karena sudah lelah, lantas ingin segera minum es teh manis. Sedangkan aku juga sudah lapar sangat karena sudah melewati waktu ashar. Perut keroncongan. Kami hanya berbekal minuman. Pas awal pendakian kami tidak makan dahulu karena agar perut tidak kembung/sengkil.


Sampai di titik terakhir. Sesi foto-foto dengan plang yang menunjukkan lokasi ketinggian 300 m berada. Kami tidak berlama-lama, aku pun langsung menuruni tangga. Proses menuruni ferrata memang harus lebih ekstra hati-hati. Karena otot kaki harus kuat menahan beban hidup, maksudnya beban badan. Apalagi rutenya cukup vertikal ke bawah. Rasa ngilu kadang muncul sesekali. Turun perlahan dan sembari mengatur napas. Matahari sudah mengarah ke ufuk barat. Sorot senja mulai menampakkan auranya. Sisi tebing bagian bawah sudah gelap ketiadaan cahaya. 


Oh ya kawan, hal terpenting lain selain safety equipment adalah outfit yang digunakan termasuk dari kaki hingga ke kepala. Aku sudah berpesan kepada kawan-kawan agar memakai celana longgar, baju panjang/sport, sepatu atau sandal gunung, topi, jas hujan, obat-obatan pribadi, dan tumbler. Supaya kegiatan pendakian kami berjalan nyaman dan aman. Tak dinyana, sandal gunung Iyus, pada bagian jahitannya lepas. Ini epic momen sekali. Hahahaha. Ada saja ceritanya. Maklum saja, sandalnya sudah berumur sehingga jahitannya tak lagi kuat menahan pijakan dan hentakan saat menaiki ferrata. Akhirnya aku menawarkan sepatuku untuk dipakainya supaya nyaman. Aku memakai sandalnya. Tidak lama saat hendak sampai di titik 300 m, eh memang sudah usang, sandal bagian kanan pun ikutan lepas jahitannya sehingga sudah tidak bisa dipakai. Aku pun turun nyeker beralaskan kaos kaki dengan rasa ngilu ketika menginjak besi. Iyus berulang kali minta maaf merasa tidak enak hati. Padahal yang lebih penting, supaya hati-hati di jalan, namun bukan seperti maksud lirik lagunya Tulus.

Sampailah kami di bawah menginjak tanah sekitar pukul 5 sore. Alhamdulillah ya napak juga di tanah. Hai kawan, pencapaian mendaki Parang via Ferrata ini amat berkesan sekali bukan. Bisa jadi ini pengalaman sekali seumur hidup yang memang rekomen sekali untuk dicoba. Saya pun masih tertantang untuk mendaki kembali menjajal rute 900 m yang tampak memanggil saya untuk menjajahinya.


Satu fakta dari kawan saya Manah, "ia sebelumnya tidak pernah dan berani untuk manjat pohon meskipun itu pendek. Bermodalkan keyakinan, alhamdulillah dia bisa naik ferrata 300 m di Gunung Parang."
Kesan dari Iyus dengan pengalamannya mendaki, "lelah, berat, tapi kalah sama perasaannya saat melihat pemandangan dari atas tebing yang luar biasa bagus dan rasa bangga ketika sudah turun sampai ke tanah lagi. A whole new feeling."

Putra berkesan, "seru banget, ia tidak menyangka bisa sekeren kemarin. LAKI banget lah ya kegiatan outdoornya. Hahahaha."

See you guys di perjalanan selanjutnya....

Fyi, biaya one day trip ke Gunung Parang seharga 200k. Ini cukup terjangkau dengan pengalaman yang akan sangat berkesan sekali di lembaran cerita kita dan kalian yang akan berkunjung kesana. Sedangkan biaya total kami sekitar 500ribuan/orang (termasuk sewa mobil, bensin, tiket kereta lokal, sarapan, jajan di warung, makan dan minum, minuman di rest area, dan juga driver).

Sekian cerita perjalana saya, sampai jumpa di lain cerita. Yuk berwisata di Indonesia Aja, turut bangkitkan ekonomi lokal. Demi eksistensi keberlanjutan pariwisata Indonesia yang lebi baik lagi.
Share:

Oktober 16, 2021

Kenangan Berlibur ke Danau Toba

April 2021 lalu, saya berkesempatan mengunjungi Danau Toba setelah sekian lama mengimpikan destinasi satu ini ke dalam wishlist saya. Saya berangkat dari YIA menuju Kuala Namu. Singgah di Kota Medan lalu memulai perjalanan dari sana. Dari Medan, saya berangkat menggunakan kendaraan KPT (Kevin Pratama Trans) bersama teman saya menuju ke Parapat dengan tarif Rp45.000. Sampainya di Parapat, kami menginap di Hotel Sedayu yang saya pesan melalui online.
Lanskap Kaldera Toba dari Tele

KMP Ihan Batak

Esok harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Samosir melalui Pelabuhan Ajibata. Kami menaiki KMP Ihan Batak untuk menyebrang ke Pelabuhan Ambarita. Tarif untuk orang dewasa adalah Rp10.000 , sedangkan kendaraan motor sebesar Rp15.000.

Penyebrangan kala itu cukup ramai dipenuhi wisatawan lokal. Geladak kapal dipenuhi kendaraan roda empat dan roda dua yang hendak ke Samosir. Kapal yang saya naiki dikelola oleh PT. ASDP Indonesia Ferry. Kapalnya tergolong bagus dan tampak baru. Dilengkapi fasilitas ruang utama, deck luar, toilet dan kantin yang membuat saya merasa nyaman berada disana Penyebrangan ke Samosir ditempuh selama satu jam lamanya.

Tiba di Pelabuhan Ambarita
Sampai di Samosir, saya mulai terpukau dengan lanskap alamnya. Jalanan di pulau itu sangat halus dan lebar. Dengan kontur berkelok. Di sebelah kanan pemandangan danau, sedangkan pada sisinya perbukitan Samosir. Tujuan pertama, kami mampir ke Masjid Al Hasanah di Pangururan untuk beribadah sholat Jumat. Sebelum berangkat. saya mencari informasi dan lokasi masjid melalui G-Maps yang hanya ada satu-satunya di Pulau Samosir.

 Masjid Al-Hasanah

Selesai ibadah, kami berangkat ke Menara Pandang Tele. Perjalanan ke Tele, topografi yang dilalui adalah perbukitan dengan tanaman rerumputan dan sebagian pohon besar. Jalan yang dibangun berkelok-kelok mengikuti punggungan bukit. Tampak Pusuk Buhit meninggi nan cantik. Saya terkagum dengan lanskap yang terpampang disana.

Tak lama kami sampai di Spot Tele. Dari sini, kami memandang Pulau Samosir dari arah barat yang menghadap ke Bukit Sibea-bea. Pada sisi kanan, bukit yang megah meninggi dan tampak datar pada bagian atasnya. Pada satu bagian di bawahnya, terdapat sebuah air mengalir jatuh tepat diantara apitan bukit. Pemandangannya sangat indah sekali.

Destinasi selanjutnya menuju ke Bukit Sibea-bea. Lokasi ini viral di media sosial karena lanskapnya yang apik. Pengembangan wisata religi sedang dibangun yakni Patung Yesus sebagai atraksi yang melengkapi pesona Danau Toba dari Kecamatan Harian. Akses jalan yang berkelok-kelok di atas bukit menjadi spot yang menarik pula untuk menangkap momen. Lagi-lagi saya terkagum dengan Wonderful-nya Indonesia di Tanah Toba.

Pengunjung sedang berfoto di depan Patung Yesus
Air Tejun Efrata
Tidak jauh dari Sibea-bea, kami pergi ke Air Terjun Efrata yang kami lihat dari atas Puncak Tele. Air terjun ini menyuguhkan pesona dengan debit air berwarna kecoklatan yang cukup deras. Pada bagian dasar sungainya tidak terlalu dalam. Di sekeliling areanya, pepohonan hijau meranggas tumbuh diantara bukit. Awan putih dengan paduan langit biru menambah keeksotisan air terjun ini. 

Sayangnya akses menuju lokasi ini, jalanan warga yang kami lewati rusak berbatu. Banyak pula, batuan besar berserakan di tengah area ladang persawahan tersebut. Aktivitas penduduk lokal sedang bertani. Saya sangat kagum dan ingin lama-lama berada disana. Di bawah ujung jalan sana, jutaan kubik air mengisi pandangan mata saya.

Destinasi Desa Tomok khas dengan rumah adat bolon dan pertunjukkan Patung Sigale-gale. Sebelum mencapai lokasi ini, kami melewati pasar oleh-oleh khas Pulau Samosir. Beragam kriya dan kuliner bisa kita temukan di tempat ini. Sore itu, hanya sedikit wisatawan saja yang ada disana. Kami menikmati pertunjukkan sigale-gale. Musik gondang sembilan menjadi pengiring tarian tor-tor yang dibawakan pengunjung. Kami turut memakai kain ulos mencipta momen yang berkesan.

Desa Wisata Tomok pasca Covid-19

Seharian mengelilingi Pulau Samosir memberikan pengalaman indah dalam hidup saya. Bahkan saya ingin sekali untuk kembali lagi ke Danau Toba. Mengunjungi destinasi lainnya yang belum sempat saya singgahi. Toba tak hanya sebongkah Pesona Indonesia di Pulau Sumatera, namun lebih dari sekadar itu. Toba berpotensi maju menjadi destinasi yang berkelas jika dikemas dengan baik dan tepat. Pada akhirnya Toba akan mewarisi alam budayanya bagi wisatawan dunia.

Patung Yesus Kecil Bukit Sibea-bea
Jalanan berkelok Bukit Sibe-bea

Kaldera Toba : Destinasi Super Prioritas Untuk Menjadi Destinasi Global

Danau Toba tak sekadar menyajikan pemandangan alam yang biasa. Lanskap Kaldera Toba tidak diragukan lagi keindahannya. Dari sisi manapun wisatawan berpijak, pengunjung bisa mendapatkan sudut pandang yang berbeda-beda. Budaya yang ditawarkan pun sangat menarik. Kearifan lokal dan budaya Batak melekat berdampingan dengan kehidupan masyarakatnya. Masyarakat yang tersebar di tujuh kabupaten sekitaran Danau Toba sejak dulu melestarikan tradisi leluhur mereka sehingga Heritage of Toba dapat eksis di masa kini hingga untuk generasi selanjutnya.

Pemandangan Danau Toba dari Bukit Sibea-bea

Pesona Danau Toba sebagai warisan dunia semakin nyata dengan label “UNESCO Global Geopark” pada tanggal 2 Juli 2020. Sertifikasi tersebut menjadi langkah awal yang positif untuk menyusun strategi pengembangan destinasi yang akan diterapkan. Dengan adanya pengakuan ini, Danau Toba diharapkan akan semakin berkembang. Menyolek potensinya dengan peningkatan sumber daya manusia yang berdaya saing. Berinovasi dan berkreativitas sebagai destinasi super prioritas. Mempersiapkan destinasi yang ada di Danau Toba sebagai pilihan tujuan wisata yang memikat. Lantas kemudian bersiap untuk menjadi destinasi global yang berkualitas dan berkelanjutan.

Konsep pariwisata berkualitas dan berkelanjutan merupakan hal penting yang harus diterapkan. Konsep ini mengacu keberpihakan akan lingkungan, sosial budaya, dan ekonomi agar berjalan secara beriringan dan seimbang. Hal ini merupakan wujud gagasan Sustainable Development Goals (SDGs) yang telah disepakati negara-negara dunia. Bertujuan untuk menjaga eksistensi pariwisata masa kini, masa depan dan untuk generasi mendatang.

Setelah ditetapkan menjadi salah satu destinasi super prioritas oleh pemerintah melalui Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Berbagai pengembangan dilakukan sampai dibentuk suatu Badan Otoritas Pengembangan Danau Toba (BOPDT) untuk mengelola destinasi yang diharapkan menjadi penggerak ekonomi lokal. Aksesibilitas, amenitas, kualitas sumber daya lokal, industri kreatif, dan atraksi wisata digeber dalam beberapa tahun terakhir. Keseriusan pemerintah menggarap Danau Toba dilakukan sebagai upaya untuk mempersiapkan Danau Toba sebagai destinasi wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.

Strategi pengembangan Danau Toba oleh pemerintah sudah cukup baik meskipun belum memberi keuntungan yang optimal. Upaya tersebut diantaranya dimulai dengan penguatan konektivitas dan infrastruktur dengan dibukanya Bandara Internasional Silangit. Pembangunan dermaga dan penyediaan kapal penyebrangan KMP Ihan Batak. Pengembangan wisata nomad yang menyasar milenial dengan wisata glamping dan desa wisata. Strategi tersebut dilakukan agar tetap menggenjot geliat pariwisata di kancah nasional.

Upaya pemerintah sempat mengalami tantangan dengan munculnya wabah Coronavirus. Wabah ini berdampak pada anjloknya kuantitas wisatawan lokal maupun mancanegara. Yang mana mempengaruhi pertumbuhan ekonomi pada lini bisnis pariwisata. Pemerintah dengan sigap membangkitkan kembali gairah sektor ini. Kiat yang dilakukan seperti Beli Kreatif Danau Toba yang mengkampanyekan Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia untuk menyelamatkan para pelaku ekonomi kreatif dalam menghadapi pandemi. Selain itu, penerapan protokol CHSE yakni kebersihan (cleanliness), kesehatan (health), kemanan (safety), dan kelestarian lingkungan (environment sustainability) pada suatu destinasi wisata merupakan hal yang wajib diterapkan sehingga pelaku wisata dan wisatawan dapat beradaptasi di era pandemi. Hal ini bertujuan untuk menciptakan rasa aman, nyaman, dan pulang dengan membawa kenangan yang berkesan.

Kampanye berwisata dengan tagar #DiIndonesiaAja pun turut digaungkan untuk membangkitkan gairah sektor pariwisata Indonesia pasca pandemi. Potensi wisatawan domestik memberi semangat baru terhadap pelaku wisata dan ekonomi kreatif.  Meskipun turun sebanyak 30% dari tahun 2019, total wisatawan lokal pada tahun 2020 sejumlah 198.246.000 adalah peluang yang sangat menjanjikan. Strategi ini diharapkan akan memberikan hasil yang positif. Namun yang perlu dihadirkan adalah strategi ciamik apa yang harus dipromosikan sehingga mampu menarik pasar wisatawan domestik yang sebelumnya suka bepergain ke luar negeri menjadi beralih untuk menjejalah destinasi dalam negeri. Terlebih Indonesia memiliki segudang destinasi apik yang tersebar di seluruh penjuru negeri.

Pengembangan Kawasan Danau Toba yang Berkualitas dan Berkelanjutan

  • Kaldera Toba Trail

Point of interest Kaldera Toba terdapat pada suguhan alam dan budayanya. Pada kesempatan berkunjung ke Danau Toba pada Bulan April lalu, saya melewatkan kesempatan melihat lanskap Tao Toba dari sisi barat secara keseluruhan. Sebelumnya saya melihat ulasan di Google Maps yang menunjukkan foto masing-masing destinasi yang ada disana.

Pusuk Buhit, pemandangan menuju ke Tele

Menurut saya, jalur pendakian dari sisi barat menawarkan wisatawan dengan pemandangan yang luar biasa jika dieskplorasi. Pendakian ini ditujukan kepada pegiat wisata alam khususnya wisatawan milenial. Pengembangan jalur pendakian dapat dibuat dari titik awal Paropo, Pulau Silalahi, berlanjut ke Bukit Pemandangan Pulau Tulas, kemudian ke Pusuk Buhit, mengarah ke Sibea-bea, Bukit Holbung, Batu Maroppa, berakhir di Bukit Sipatungan. Jalur pendakian dikombinasikan dengan melewati punggungan bukit, jalan pedesaan, dan ladang pertanian warga. Dibutuhkan pula, pembangunan shelter untuk tempat beribadah dan tempat istirahat di setiap spot tertentu. 

Jika dirunut dari Google Maps, jarak antara Paropo menuju ke Sipatungan membutuhkan waktu selama 20 jam perjalanan dengan jarak tempuh 91 km. Sedangkan jika diambil dari titik Bukit Pulau Tulas akan membutuhkan waktu 11 jam perjalanan dengan jarak tempuh 46 km. Jarak ini merupakan estimasi sementara karena jalurnya masih menggunakan acuan jalan raya.

Hal yang akan didapatkan wisatawan selama melewati jalur pendakian diantaranya akan menemukan keragaman pesona wisata Danau Toba baik dari segi alam, budaya, sosial, kuliner, dan tentunya pengalaman yang sangat berkesan. Apalagi kontur perbukitan di area ini masih tergolong bersahabat untuk didaki wisatawan dengan rata-rata ketinggian bukit mencapai 1.000 – 2.000 mdpl.

Dengan dibangunnya jalur pendakian tersebut akan mendorong peran aktif masyakarat lokal agar bekerja sama, menumbuhkan kreativitas dan inovasi wisata dengan memanfaatkan potensi yang ada dengan baik sehingga mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar.

  • Ruang Kreatif

Sektor pariwisata tumbuh berkualitas dan berkelanjutan jika didukung oleh sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Sedangkan sumber daya manusia dapat menjadi unggul jika berproses dan terus dididik dengan baik. Oleh karena itu, diperlukan tersedianya ruang kreatif untuk penduduk lokal di Kawasan Danau Toba sebagai tempat masyarakat dan wisatawan saling belajar, bertukar pikiran, mengembangkan ide, inovasi dan kreativitas.

Dengan munculnya fasilitas publik yang mendukung dan adanya fasilitator penggerak maka akan berdampak baik untuk menghasilkan pelaku wisata dan artisanal yang handal. Ruang kreatif ini nantinya dapat dijadikan semacam lokasi workshop, pertunjukkan, diskusi, event, kuliner, dan belajar bahasa asing. Apabila setiap kecamatan di sekitaran Danau Toba memiliki ruang kreatif masing-masing, maka akan mendukung kemajuan sektor pariwisata Danau Toba semakin tumbuh berkualitas dan berkelanjutan.

  • Pengembangan Edukasi, Penelitian, & MICE

Danau Toba mempunyai sejarah panjang yang luar biasa. Memiliki narasi yang berkaitan dengan proses terbentuknya yaitu dari ilmu sains dan legenda masyarakat yang melekat. Potensi sains berkaitan dengan pengembangan edukasi dan penelitian, di mana letusan supervolcano yang meletus 74.000 tahun silam menjadikan Toba sebagai danau vulkanik terbesar di dunia. Adapun keragaman geologi, mahluk hidup dan budaya menjadi sesuatu yang relevan untuk mengembangkan wisata edukasi dan penelitian, baik bagi pelajar, mahasiswa, maupun para ilmuwan dari dalam dan luar negeri.

Pengunjung sedang berfoto dengan Sigale-gale

Wisata MICE di Indonesia memiliki peluang yang besar untuk dikembangkan. Termasuk destinasi Danau Toba yang mempunyai paduan kultur dan alam yang menakjubkan. Dengan menyajikan latar panggung yang alami. Wisata MICE Danau Toba yang dapat dikelola diantaranya festival dan kompetisi musik, seni, paduan suara dalam tingkat internasional. Mengingat banyaknya musisi Indonesia yang berasal dari Tanah Toba. Selain itu, pertunjukkan kisah legenda asal muasal Tao Toba yang epik dan pertujukkan lain yang dapat mengangkat budaya lokal setempat. Kemudian pengembangan sport tourism yang menjual pemandangan sebagai daya tarik seperti olahraga paralayang, balap sepeda, marathon, dan pendakian ultralight.

  • Wisata Gastronomi

Wisata gastronomi tidak hanya berkaitan dengan tata boga, namun seni menyiapkan hidangan yang lezat, mengulik sejarah dan budaya makanan, kandungan nutrisi, dan tata saji. Wisata gastronomi dapat dikembangkan sejalan pada dunia kuliner yang sedang digemari wisatawan Indonesia. Berburu kuliner bukan sekadar mecicipi makan, namun juga mendapatkan pengalaman menarik lain di balik kelezatan sebuah hidangan dengan wisata gastronomi.

Toba pun mempunyai beragam kuliner yang menarik untuk dikemas menjadi wisata gastronomi. Diantaranya pengembangan wisata kopi dari kebun sampai menjadi produk minuman kopi. Kemudian sajian kuliner tradisional seperti mie gomak, ikan mas arsik, andaliman, kacang sihobuk, itak gurgur, lappet, ombus-ombus, dan lain sebagainya.

  • Pengembangan Wisata Halal

Peringkat Wisata Halal Indonesia berada pada peringkat keempat pada tahun 2021 berdasarkan skoring Global Muslim Travel Index (GMTI) dari total 140 negara. Peringkat ini turun tiga peringkat di mana pada tahun 2019, Indonesia meraih peringkat pertama. Indonesia dengan mayoritas penduduk muslim terbesar di dunia memberikan poin plus untuk mengembangkan destinasi wisata halal. Di mana penduduk muslim dapat menjadi penggerak wisata yang terampil dalam mengembangkan wisata halal.

Kriteria destinasi halal diantaranya aksesibilitas, komunikasi pemasaran, lingkungan, dan pelayanan. Dalam indeks GMTI tersebut, Indonesia memiliki keunggulan pada lingkungan dan pelayanan yang layak menyuguhkan wisata halal. Sedangkan untuk askesibiltas dan sarana komunikasi masih perlu ditingkatkan secara maksimal. Wisata halal setidaknya mencakup keamanan, kenyamanan dan terpenuhinya syarat sebagaimana wisatawan muslim saat pergi melancong. Tersedianya makanan halal, fasilitas ibadah, atraksi dan aktivitas yang halal, rekreasi yang memberi ruang privasi, penyediaan toilet dengan ketersediaan air bersih yang memadai, dan minimnya islamofobia merupakan kunci utama pengembangan wisata ini.

Pasar wisata halal adalah pasar yang menjanjikan. Di mana jumlah wisatawan muslim diperkirakan akan kembali normal pada tahun 2023. Sangat mungkin jika Danau Toba ikut mengambil kesempatan mengembangkan wisata halal. Meskipun mayoritas masyarakat di Danau Toba adalah non muslim, hal ini perlu dipertimbangkan berkaitan dengan potensi kunjungan wisatawan dari negara muslim seperti Malaysia, Arab Saudi, UEA dan Timur Tengah lainnya.

Dengan adanya pariwisata halal, restoran halal akan mendapatkan peluang dua kali lebih besar untuk menggaet wisatawan muslim dan non muslim. Terlebih, kunjungan wisatawan asing terbanyak yang datang berkunjung ke Indonesia dan khususnya Provinsi Sumatera Utara berasal dari negeri jiran, Malaysia. Dengan pengembangan wisata halal di Danau Toba maka akan menambah standar kelayakan destinasi Danau Toba untuk maju ke ranah global.

Share:

Instagram