September 12, 2022

Sentiaki Coffee : Rekomendasi Coffee Shop di Cilamaya

Beranda Sentiaki Coffee
Memasuki tanggal 15 Bulan Shafar, di beranda Sentiaki Coffee, saya mencicipi kopi robusta terbaik se-Jawa Barat. Mengapa kopi ini terbaik? Jadi begini ceritanya kawan. Bulan Juni lalu, Pemprov Jawa Barat mengkurasi 166 sampel kopi untuk dipromosikan pada Event World of Coffee di Milan, Italia. Dari ratusan sampel tersebut, terpilih sepuluh sampel kurasi terbaik diantaranya enam kopi arabika, tiga kopi robusta dan satu kopi liberika. Fakta menariknya Kopi Sanggabuana yang ditanam para petani di Gunung Sulah, bahan dasar espresso yang saya nikmati malam ini, meraih poin tertinggi yakni 83,625 poin untuk jenis kelas robusta.

Setelah saya cari informasi tentang kopi ini. Tanu Wijaya, pengirim sampel kopi tersebut tidak mengirimkan 5kg biji kopi Sanggabuana yang disyaratkan Pemprov Jabar untuk dipromosikan ke Milan. Sebab ia hanya memiliki sisa biji kopi 500 gram saja. Hal itu bukan menjadi poin penting menurutnya. Tanu sudah berpuas diri dengan kurasi tim ahli kopi Jawa Barat yang menilai kopi robusta Sanggabuana menjadi yang nomor satu. Sebuah pretasi yang membanggakan memang.

"Di Pegunungan Sanggabuana banyak petani kopi, namun belum dikenal banyak orang," cerita Jaber, pemilik Sentiaki Coffee. Saya bahkan baru tahu kalau Karawang mempunyai varietas kopi unggulan di daerah Loji Sanggabuana.

Ruang itu bernama Sentiaki

Sentiaki sendiri dicatut dari salah satu tokoh pewayangan Mahabharata, Satyaki. Muncul dari ide seorang habib pada suatu momen kala progress awal pembangunan tahun 2021 di kediaman sang pemilik. Satyaki memiliki karakter yang bagus. Meski sedikit diubah menjadi Sentiaki, bisa juga memilki arti senang, setia dan kopi. Diharapkan konsumen yang berkunjung bisa merasakan kesenangan dan loyal untuk ngopi di kafe yang baru dibuka 29 Agustus 2022 silam.

Sentiaki hadir dengan konsep consumer experience dapat mengenal dan mencicipi kopi Sanggabuana Karawang yang menjadi bahan dasar menu yang ditawarkan. Dua menu signature kafe ini yakni Mazagran dan Djitumangkiang. 
Proses penyajian Mazagran
Tentang Mazagran & Djitumangkiang

Mazagran terinspirasi dari kopi Portugis. Sajian kopi espresso hangat yang diseduh diatas perasan buah lemon, rasa mint dan es batu. Jika ditilik lebih lanjut, Masagran memiliki nilai sejarah yang panjang. Berasal dari negeri Aljazair. Kala pengepungan Benteng Mazagran, koloni Perancis disuguhkan sirup kopi dan air dingin untuk menghilangkan dahaga/hawa panas. Ketika kembali ke Perancis, para prajurit tersebut menyarankan kafe disana untuk menyajikan kopi tersebut. Sampai digemari banyak orang. Bahkan menyebar sampai ke Austria yang biasanya ditambahkan rum dan gula cair. Sedangkan di Catalonia dan Valencia, kopi ini ditambahkan dengan kulit lemon.
Mazagran Signature
Mazagran versi Sentiaki memilki cita rasa yang enak di lidah juga di perut. Racikan gula aren, ekstrak mint, perasan lemon, batu es, seduhan espresso Kopi Sanggabuana beserta brown sugar menjadi menu kopi yang patut untuk dicoba. Paduan kopi dan lemon menjadikan minuman ini sehat untuk dicerna oleh tubuh kita. Saya dan teman saya pun merasa ketagihan mencicipi Masagran malam ini. Kalian kalau nongkrong ke Sentiaki, bisa banget mencoba Masagran. Perhatikan pula cara pembuatannya yang membutuhkan olahan yang pas hingga membuat ketagihan saat diminum.
Coffee Bar Sentiaki
Pilihan menu khas lainnya adalah Djitumangkiang. Kalau nama ini sedikit ada cerita lucunya kawan. Jadi owner Sentiaki dulunya anak teater di masa SMA. Pernah suatu kisah, ketika hendak tampil di Gedung Rumentang Siang. Jaber salah menyebutkan nama gedung itu dengan sebutan Djitumangkiang. Sontak kawan-kawan dan pembina teaternya tertawa mendengar salah penyebutan itu. Lantas dengan momen itu, ia memakai Djitumangkiang sebagai nama panggungnya di dunia seni teater. Sekarang, ia pun menggunakan kosakata itu menjadi nama menu andalannya. Lain kesempatan, saya akan mencoba kopi yang difermentasi selama satu hari ini. 

Mengusung konsep kafe outdoor minimalis dengan kesan yang menyatu (ramai) namun tetap memberi kenyamanan dan kehangatan bagi pengunjungnya. Ke depan, kafe ini akan terus berinovasi dan semoga menjadi space bagi komunitas lokal setempat untuk mengasah diri sembari menikmati seduhan kopi. Sebagai informasi, tanggal 24 September nanti, akan ada acara malam puisi yang akan dibawakan komunitas perpus jalanan Cilamaya. Kalian bisa banget untuk datang kesini, bertemu dan bercengkerama di malam minggu. 
Ruang outdoor Sentiaki
Kafe ini berlokasi di Jalan Syeh Quro RT.003/RW.03 Krasak, Telagasari, Cilamaya Wetan, Karawang. Kita ulas tentang harganya yang relatif amat terjangkau. Dimulai belasan ribu saja. Tersedia juga camilan seperti kentang goreng, dimsum, sosis, churros dan lain-lain. Saya sudah mencoba Kopi Susu Karamelnya. Rasanya pun lumayan oke dengan kombinasi yang pas. Kopinya terasa, karamelnya pun gak kebanyakan. Begitu pun es kopi susunya. Menurut review teman saya, kopinya masih terasa, campuran susunya gak terlalu dominan, dan rasa manisnya proper
Es Kopi Susu vs Kopi Susu Karamel
Kalian yang ingin mencoba tempat nongkrong atau penyuka kopi, Sentiaki Coffee menjadi tempat yang saya rekomendasikan untuk dikunjungi. Terlebih untuk sebuah kafe kopi di Cilamaya Karawang. Rekomendasi waktu terbaik untuk datang kesini adalah diantara jam lima sore hingga menjelang maghrib. Terlebih saat suasana matahari akan terbenam. Bila cahaya langit sedang bagus/cerah, suasana disini akan estetik dan cukup oke untuk diabadikan. 

Di kafe ini tersedia pula musholla kecil, toilet, beberapa meja outdoor dengan kapasitas kurang lebih 20 pengunjung. Letaknya dekat pula dengan masjid yang tak jauh di seberang jalan. Oh ya, waktu operasional kafe ini buka mulai pukul 16.00 sore - 23.30 malam. Kalian bisa pantengin juga akun instagramnya di @sentiaki.cofee.

Yuk silakan eksplore ke Sentiaki Coffee. Semoga kalian suka dan mari mendukung penggunaan produk lokal. Dengan mengkonsumsi atau menggunakan produk lokal menumbuhkan ekonomi masyarakat semakin kuat dan mandiri. Semoga tulisan ini bermanfaat ya kawan. Kalau kalian punya rekomendasi kafe kopi yang rekomen untuk dikunjungi juga, silakan berbagi di kolom komentar ya! 
Share:

September 04, 2022

Trekking Tektok ke Gunung Papandayan

View Papandayan dari Taman Edelweiss
Kesan beberapa orang setelah tahu kalo gue balik solo trekking ke Papandayan langsung nanya begini,"kok berani sih ke hutan sendirian?". "itu kan gunung bro, ya kalau rame-rame sih oke." "ke gunung sendirian? emang gak takut?".

Gue cuma jawab, "lah emang kenapa? lagi gue juga tektok, gak camping di atas. Lagi juga Papandayan juga trek pendek, rame yang kesana. Kecuali gue camping ke puncak ya, itu mah emang baiknya ramean ya."

Petualangan Dimulai

Agenda trekking ke Papandayan ini udah lama banget masuk ke wishlist destinasi #DiIndonesiaAja. Selain pengen nyobain KA Cikuray yang baru diresmikan jalur keretanya di Maret tahun ini. Buat kalian warga Jabodetabek, mau ke Garut bisa banget naik kereta ini. Sayangnya jadwal perjalanan kereta ini masih satu kali perjalanan dan jadwalnya kurang fleksibel. Berangkat dari Pasar Senen 17.55 pas maghrib sampai di Garut itu pukul 00.53 dini hari. Sedangkan jadwal keberangkatan dari Garut pagi banget pukul 07.05 dan sampai di Pasar Senen 13.32 siang. Jadi kalau kalian mau kesana, minimal meluangkan waktu 3 hari atau bisa saja dua hari namun pulangnya naik dari Stasiun Leles dengan kereta Serayu.

Di Garut gue nginep di Pondok Kost Aulia, booking online di Traveloka. Ini rumah kost-an. Untungnya gue udah konfirmasi ke pemilik kost bakalan sampe tengah malam. Dan bener gue baru sampe sana jam 1 malam. Rumahnya udah ditutup pagernya. Akhirnya gue nunggu di sofa depan rumahnya dan gak lama bapaknya kebangun soalnya gue telepon berkali-kali, sorry banget ya pak.

Niatnya mau jalan sehabis subuh, eh baru keluar penginapan jam 9. Ngegojek ke tempat penyewaan motor lalu cus ke arah Papandayan. Dari pusat kota sekitar satu jam untuk sampai kesana. Aspal jalanan kota ini terbilang kurang baik sebab banyak jalan-jalan yang ditambal dan tidak sedikit yang berlubang. Terlebih ketika memasuki jalan pertigaan ke kanan, desa tepat di bawah kaki Papandayan, jalannya banyak yang kurang alus atau layak. Hanya beberapa ratus meter memasuki kawasan wisata saja yang jalannya mulus.

Wisata Gunung Papandayan terbilang ramai siang itu. Banyak rombongan ibu-ibu naik bis. Dan melasnya, bisnya gak nanjak sampai ke area parkiran. Jadi lah mereka jalan sampai ke area parkiran. Dan gue sampai sekitar pukul setengah sebelas siang. Setelah membayar retribusi seharga Rp30.000 untuk pengunjung nusantara, ditambah biaya masuk roda dua Rp14.500. Jadi total biaya masuk ke gunung ini sebesar Rp44.500. 

View Papandayan dari Menara Pandang
Area parkirannya cukup lapang. Banyak warung berjejeran menjajakan makanan. Saya pun menuju ke menara pandang untuk melihat-lihat sekitaran. Mengarah ke arah kawah bekas letusan tahun 2002. Gunung Papandayan mengeluarkan asap belerang yang putih mengudara. Beberapa lubang kawah yang terpencar mengeluarkan asapnya masing-masing. Waaahh, punggungan bukit menjulang di sisi kirinya. Sedangkan punggungan kaki gunung berwarna seperti tanah liat dan belerang, nampak merah kecoklatan. Saya pun tidak sabar untuk segera mendaki ke atas sana.

Jalur pendakian menuju Kawah - sebelah kanan ada Tebing Sunrise
Siang sebentar lagi sudah waktu dzuhur, saya makan sebentar di salah satu warung yang penjualnya seorang ibu paruh baya. Disana saya makan ayam goreng dan lalapan. Bincang sekenanya dengan ibu yang menjelaskan apa saja yang harus saya datangi. Ia menyarankan untuk ke taman bunga dan kolam air hangat lebih dulu. Sebab kalau menanti turun, biasanya pengunjung sudah lelah.

Lepas setelah makan, saya ibadah sebentar dan setelahnya menuju ke taman edelweiss yang dibudidayakan dengan beberapa bunga-bunga dan pohon cantigi. Tamannya berada dekat dengan cottages/penginapan. Terdapat pula masjid, toilet dan gazebo untuk bersantai. 

Udara disana segar sekali tentunya dengan kualitas air yang bersih pula. Saya merasa betah sekali, meskipun masih berada di bawah, pemandangan di sekitaran yang juga sangat indah memanjakan mata.

Tepat jam 12 lebih sekian menit, saya mulai berjalan santai menuju ke atas. Jalanan aspal menanjak sedikit berakhir ke jalanan tanah pegunungan. Matahari cukup terik kala itu, namun awan sedikit menutupi setengah bagian atas area disana. Saya merasa hangat dan angin yang berhembus memberi suasana kesejukan. Di sisi bawahnya, langit biru sedikit memberikan warna langit menjadi kontras. Saya trekking sendiri dan bersama pendaki lain yang hendak berkemah. Pengunjung lain tak sedikit juga yang tektok untuk sekadar melihat-lihat kawah. 

Tebing batuan yang di peta disebut dengan Tebing Sunrise ada di sebelah kanan. Bekas kontur gunung yang sudah runtuh menyisakan sedikit bagian menjulang ke atas. Aliran air gemericik di sela-sela antara celah gunungan yang berasal dari kawah atau hulu gunung. Bekas belerang tampak ada dimana-mana. Bekas lubang kawah kecil pun masih tampak terlihat menganga. Ada banyak sekali. Sementara cerukan gunung di ujung kiri tampak lebih panjang mungkin di sisi itulah puncak gunung ini berada. Warna coklat kehijauan, kokoh dan membentengi kawah.

Trek pendakian menuju ke Kawah & Bunderan
Sesekali menghela nafas dan mengatur jejak langkah. Saya masih bersemangat untuk menuju ke hutan mati. Saya beristirahat sebentar setelah menaiki jalur agak menanjak. Tepat setelah posko ojek masyarakat lokal, terdapat gazebo kecil di atasnya. Disana saya beristirahat sebentar. Salam sapa sebentar dengan pengunjung lainnya yang juga beristirahat. 10 menit berlalu, saya melanjutkan perjalanan. Jalur menurun sedikit saja, lalu menanjak lagi. Sampailah saya di bunderan alias pertigaan. Saya mengambil jalan ke kiri mengarah ke hutan mati. Kalau mengambil arah ke kanan akan lebih jauh lagi jaraknya menuju ke Ghober Hoet. Bisa selisih sejam sendiri jika memilih jalur ke kanan.Jalanan setapak mulai terus menanjak. Sebelah kiri areal kawah masih mengepul asapnya. Sebenernya saya mencari-cari keberadaan Danau Kawah Biru namun tidak menemukan jalur mengarah kesana. Kalau diperhatikan, di seberang sana ada semacam cerukan di sebelah kawah. Bisa jadi itu tempatnya meski kurang yakin juga. Saya memperhatikan jalur setapaknya memang terlihat seperti garis tapak yang bekas dilewati, namun entah bercabang dimana untuk menuju kesana. 
Trek menuju ke Hutan Mati


Saya terus melanjutkan perjalanan ke atas. Melewati varietas pohon cantigi di kanan kirinya. Pohon ini tumbuh meninggi sekitar dua hingga tiga meter. Sepi, hanya satu-dua orang yang lewat. Makin naik ke atas. Terasa juga ngos-ngosan melewati anak tangganya. Akhirnya saya mencapai atasnya. Dan memasuki areal hutan mati yang menyajikan warna putih dan bekas pohon cantigi yang terbakar. Menyisakan batang pohon yang masih menancap di dalam tanah. Ini alami sekali kawan. Arealnya pun cukup luas. Kalau tidak salah, ini lukisan alam bekas letusan 2002. Kepulan asap atau kabut terbang di atas pepohonan gunung.

Hutan Mati

Disini saya bertemu beberapa pengunjung yang hendak kemah ke Pondok Saladah. Kalau di peta, Pondok Salah bersebelahan dengan hutan mati letaknya. Tidak terlalu jauh jaraknya. Saya mengabadikan foto dan momen sebentar di hutan mati. Sembari berjalan, terus mengarahkan kaki menuju Pondok Saladah. Lurus terus ke depan lalu berbelok ke arah kanan. Disini, tumbuhan pakis dan pohon-pohonnya lebih rapat. Suasana gelap nan sepi pun terasa sekali. Setelah berjalan, terus mengikuti jalurnya, akan menemukan arah ke Pondok Saladah. Akan mulai banyak tumbuhan edelweiss dan tumbuhan khas ketinggian lainnnya. Betul saja tak jauh, sampai juga saya di Pondok Saladah. Sebuah area tanah lapang yang luas. Tempat para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam sebelum melihat sunrise di Tegal Alun, ladang edelweiss terbesar di Asia Tenggara.

Pondok Saladah
Di Pondok Saladah, ada banyak warung berjejeran. Jadi cukup tenang sekali kalau mau istirahat dan ngemil makan disana. Ada sumber air yang memadai, toilet dan musholla. Banyak tenda sudah berdiri disana. Pengunjung bercengkerama dengan teman-kawan pendakiannya. Kita bisa pula menyewa tenda disana atau memakai jasa porter yang ditawarkan warga lokal. Saya makan bubur kacang ijo dan gorengan sebentar. Lalu berkeliling di sekitaran area itu. Mengambil foto dan momen. Menghirup udara segar dan sharing dengan penjual warung. Ia banyak melihatkan foto galaksi bimasakti yang cukup keren dipotret dari lokasi itu. Menceritakan banyak hal tentang area disana, seperti padang savana yang kala musim kemarau menjadi lokasi kawin macan-kumbang atau hewan penghuni hutan Papandayan. Ia pun menceritakan kalau sekarang jarang pendaki yang ke puncak sebab jalurnya sudah sulit dilalui. Paling kebanyakan pendaki menuju ke Tegal Alun atau melihat sunrise di Ghober Hoet.

Trek dari Hutan Mati menuju Pondok Saladah
Vibes Papandayan memang asyik sekali. Suatu saat saya akan kembali dan camping di gunung ini. Tak lama, saya pun bergegas untuk pulang jam tiga kurang. Kabut mulai turun di antara semak-pohon di punggungan gunung yang masih rapat dengan tumbuh-tumbuhan. Sampainya di hutan mati, pengunjung masih ramai berpencar berfoto-foto disana. Saya singgah sebentar lalu melanjutkan turun ke bawah. Selama di perjalanan turun, saya banyak bertemu pengunjung yang baru akan naik ke atas. Saya pun menyemangati mereka yang terlihat sudah kelelahan ketika melewati anak tangga dan jalur pendakian. Satu jam lebih, saya pun tiba di pos pendakian awal. Wahhhh seru sekali mendaki tektok di gunung ini. Mata yang selalu dimanjakan dengan pemadangan yang sangat indah dan alami. Semoga saja saya bisa balik lagi ke Taman Wisata Alam Gunung Papandayan!
Kawah Papandayan yang memencar dimana-mana

Share:

favehotel Cilacap Kenalkan Menu "MABAR NUSANTARA"

Bagi pencinta kuliner, menikmati hidangan lezat bersama keluarga, teman dan kerabat kerja menjadi suatu kekhasan tersendiri dan paling dinanti. Bulan Agustus 2022 lalu, favehotel Cilacap menghadirkan paket bertiga, berenam dan berkelipatan dengan menu seafood ala pedesaan dalam tajuk MABAR NUSANTARA (Makan Bareng Menu Nusantara).


Tema Nusantara dipilih karena Indonesia adalah negara kepulauan dengan hasil laut maritim yang melimpah. favehotel Cilacap juga menawarkan “archipelago taste” atau selera nusantara yang disajikan untuk porsi makan tengah/beramai-ramai diatas meja seperti cumi hitam yang ditumis lalu diberi tambahan cabai hijau dan kecap manis. Kudapan ini mempunyai cita rasa yang gurih, manis dan asin. Ada pula ikan gurame yang digoreng kering dengan baluran tepung dan bumbu rempah nusantara. Menu istimewa lainnya adalah ikan layur khas Cilacap yang digoreng kering dengan rasa asin dan gurih dicocol berbagai macam sambal, tempe goreng, oseng kangkung, dan dilengkapi nasi putih. Cita rasa nusantara yang dihadirkan adalah kolaborasi cita rasa sunda dan jawa dalam sajian lezat untuk pilihan menu porsi bertiga, berenam dan kelipatannya. Harga yang dipatok pun cukup hemat yakni Rp 225.000 untuk 3 porsi. Dan pengunjung bisa memesannya di Lime Resto lantai 2 favehotel Cilacap.

Rasanya enak banget, sering-sering nih favehotel bikin menu kaya gini”, testimoni Ibu Beti Dinas Perikanan Cilacap setelah mencicipi sajian Mabar Nusantara.



















Menu Mabar Nusantara dapat dipesan langsung di lime restaurant lantai 2 favehotel Cilacap dari jam 10 pagi hingga 10 mlam atau hubungi nomor official favehotel Cilacap +622825390555 (tersedia di WA).

Tentang favehotel Cilacap

Terletak hanya beberapa menit dari stasiun kereta dan bandara, favehotel Cilacap menawarkan akses mudah ke lokasi industri Pertamina, Semen Dynamix, PLTU, serta Pantai Teluk Penyu dan lokasi wisata lainnya. Dilengkapi dengan 161 kamar, hotel ini menyediakan fasilitas lengkap termasuk kolam renang, minimarket, restoran dan Skylounge Rooftop Bar bagi tamu yang ingin menikmati pemandangan laut. Untuk wisatawan bisnis, favehotel Cilacap menyediakan ballroom terbesar di Cilacap dengan kapasitas hingga 1000 orang - cilacap.favehotels.com.




-Tentang favehotels-

Pemimpin dalam akomodasi budget (dan acara kecil), favehotels adalah portofolio merek terbesar dari Archipelago International, dengan lebih dari 60 hotel yang beroperasi untuk menyambut tamu di Langkawi - Malaysia hingga ke Papua. favehotels menawarkan nilai luar biasa bagi semua orang yang menginginkan hotel yang sederhana, bersih, dan nyaman di lokasi terkemuka dengan standar kualitas tinggi dan layanan terbaik, itulah sebabnya favehotel terus berkembang dan tetap menjadi favorit semua orang. favehotels.com.

About Archipelago

Southeast Asia's largest privately owned hotel management group, operating more than 150 hotels, with a further 200 hotels under development across Southeast Asia, the Caribbean and the Middle East. A trusted hotel company with a long track record and more than 30,000 rooms operating or under development in over 60 destinations with award-winning brands including ASTON, Collection by ASTON, Alana, Huxley, Kamuela, Harper, Quest, NEO, favehotels, Nordic and powered by ARCHIPELAGO. archipelagointernational.com.

Media Enquiries:
  • Your name              : Prastio Andi Prayogi
  • Your title                 : Senior Sales Executive
  • Your hotel name     : favehotel Cilacap
  • Email address        : cilacapse@favehotels.com
  • Mobile number       : +6287821803905

Share:

Instagram