Oktober 30, 2017

Museum Kereta Api Ambarawa, Destinasi Wajib Kalau Dolan Ke Semarang !

I ♡ AmBarawa
Kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Ambarawa. Melajukan motor menuju jalanan yang aku lihat tadi ketika di spot pandang Wisata Eling Bening. Aku melewati jalanan mulus hingga bertemu perempatan. Kemudian bertanya kepada warga sekitar dan jaraknya sudah tidak jauh lagi. "Hanya sekitar sepuluh menit lagi. Lurus terus, sampai ketemu tugu belok kanan", katanya. 

Di jalan, aku melihat rel melintang di pematang sawah mengarah ke arah barat. Bertemu pertigaan, aku terus mengikuti jalan besar. Sampailah kami di Museum Kereta Api Ambarawa. Memasuki museum ini cukup membayar Rp10.000 saja. Sedangkan untuk menaiki kereta wisata biayanya sebesar Rp50.000 dengan catatan kereta tersebut hanya beroperasi pada akhir pekan dan hari libur nasional dengan batas waktu keberangkatan kereta terakhir pukul dua siang. Sungguh sayang kami melewatkan kereta wisata terakhir.
Share:

Gunung, Sawah dan Rawa - Lanskap Cantik Wisata Eling Bening

"Aku terpesona dengan keindahan alam yang sangat lestari disana. Kala itu aku merasakan nikmat keindahan alam yang tidak terkira. Ketika gunung-gunung yang menghampar ke lembah dataran luas. Di dekatnya sekumpulan air memenuhi lekukan dataran itu yang dikenal dengan nama Rawa Pening. Hamparan sawah kontras berwarna hijau sebagian ada yang menguning. Lalu semakin dekat ada pohon-pohon yang tumbuh meninggi. Di tengah lanskap itu, jalan beraspal hitam memanjang berkelok-kelok semakin mempercantik momen yang terlihat."

Oh indahnya pesona alam Ambarawa
Share:

Umbul Sidomukti, Ekspektasi dan Realita di Kaki Gunung Ungaran

Aku sekedar tahu Umbul Sidomukti sebatas kolam renang dengan view alam yang sering ku lihat di akun-akun sosial media. Tidak banyak yang aku tahu tentang tempat ini sebelumnya. Sampai temanku Desy merekomendasikan agar aku berkunjung kesana sebab ternyata wisata ini berada di Kaki Gunung Ungaran yang sempat masuk dalam list destinasi wisata perjalanan yang telah ku rencakan sebelum berangkat dari rumah. Hanya saja aku membatalkan karena alasan cuaca yang sedang tidak begitu bersahabat.
Area titik pandang
Share:

September 09, 2017

HAI BALI, AKU INGIN BERTEMU LAGI

Hai Bali. Aku menyapamu dari bilik kamarku. Meski baru seminggu yang lalu aku mengunjungimu. Rasanya rindu ini membuatku ingin bertemu kembali. Masih ada catatan memori antara aku dan kamu. Kesan mendalam mengapa banyak orang termasuk diriku, terkagum-kagum dengan keindahan alam dan budayamu yang terjaga lestari. Itu memang alasan sederhana dan sedikit klasik. Namun aku berpikir, tidak butuh banyak alasan tentang apa yang ku rasakan, kecuali tentang segudang pesonamu yang membuatku mengapa ingin segera kembali. Mungkin aku akan melepas rasa penasaranku dengan merajut kebahagiaan setelah mengunjungi setiap penjurumu.

Bali's landscape. So wonderful.
Share:

Juni 14, 2017

Makanan Khas Batak Ada di Pasar Senen


Ini bukan di pajak lama, bukan pula di pasar loak, ataupun di pasar ucok kodok. Kesemua pasar itu berada di Padangsidimpuan, Sumatera Utara. Lain dengan pasar yang terletak di tengah kota Jakarta ini, Pasar Senen dikenalnya.


Pedagang ikan rebus diserbu umak-umak. Ikan ini biasanya digoreng tepung.
Lebih enak dari ikan pindang. Serius.

Bagi perantauan (umak-umak) atau aku yang pernah tinggal di tano batak, pasar ini termasuk destinasi yang sangat menarik untuk dikunjungi. Ada area khusus barang-barang hingga makanan khas batak yang tersedia lengkap disana. Ini seperti melepas rindu akan makanan-makanan khas batak bagi kami sehingga tidak perlu jauh-jauh lagi untuk datang ke medan/kampung halaman.

Share:

April 19, 2017

Arti Kisah Legenda Baturraden dan Fenomena Pelangi di Curug Jenggala


“Hampir semua orang Jawa Tengah pasti tahu dan pernah mendengar apa itu Baturraden. Namun apakah semua orang itu tahu akan keindahan alam, budaya, dan jejak sejarah yang potensial di tanah ini, lebih tepatnya di bawah kaki Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Menelisik ke belakang, legenda Baturraden versi Kadipaten Kutaliman, memang memiliki kisah yang menarik untuk dirunut secara makna.

Alkisah, bernama Suta, seorang pemuda yang mengabdi sebagai pembantu di Kadipaten Kutaliman. Setiap harinya bertugas merawat dan membersihkan kuda milik Adipati, sebagai hewan kebanggaannya yang melambangkan kekuatan/ketangguhan ketika di medan perang.

Suatu ketika, Suta mengelilingi wilayah kadipaten untuk mencari tahu seluruh area lokasi kadipaten yang amatlah luas. Lalu, ia mendengar suara perempuan meminta pertolongan. Tidak disangka, ada bahaya mengintai perempuan itu. Seekor ular sangat besar hendak memangsanya. Dengan sigap, ia pun segera menyelamatkan perempuan itu dengan menyabetkan tubuh ular tersebut dengan sebilah pedang. Alhasil, perempuan itu dapat diselamatkan. Ternyata, Suta telah menyelamatkan Sang Putri Adipati. Sejak pertemuan itulah, pucuk dicinta ulam pun tiba.

Namun sayang, kisah cinta mereka sempat kandas akibat status sosial yang berbeda. Bahkan, Adipati sempat murka saat Suta hendak melamar anaknya. Hukuman penjara bawah tanah disanksikan sebagai ganjaran kepada Suta. Sang Putri tidak menerima perlakuan ayahnya tersebut sebab ia merasa sayang yang mendalam kepada Suta. Upaya melobi penjaga pun dilakukannya untuk membebaskan sang kekasih dari tahanan penjara.

Sampailah pada aksi nekat mereka pergi dan meninggalkan kadipaten untuk selamanya. Mereka menunggangi kuda dan menuju ke arah selatan Gunung Slamet. Disana mereka menetap untuk hidup bersama. Di tempat itulah yang kini dikenal dengan nama Baturraden. Memiliki arti dalam dua padanan kata, yakni Batur yang berarti Pembantu, serta Raden yang memiliki arti Bangsawan. Itulah arti dari kisah Batur dan Raden, Suta dan Sang Putri Adipati, yang mendapatkan kebahagiaan atas perjuangan cinta mereka yang sejati. Tempat perhentian mereka pula yang sekarang terkenal se-antereo Banyumas, maupun Jawa Tengah.

“Baturraden memang diciptakan Tuhan sebagai tempat yang indah sekaligus untuk  tempat merasakan kedamaian yang bersandingkan dengan alam. Udara yang sejuk. Hijaunya pepohonan. Aliran sungai yang gemericik. Persawahan menyebar. Sampai gunung pun menjulang.”

Pesona Alam Kalipagu

Bermula dari Dusun Kalipagu, tempat terakhir kendaraan motor yang aku kendarai terparkir. Sebuah area pemukiman penduduk yang masuk ke dalam Kawasan Perhutani KPH Banyumas Timur. Lebih tepatnya, dusun yang aku kunjungi ini, berada di Desa Ketenger,  Baturraden.

Kakiku melangkah maju di pagi itu. Melewati jalanan setapak berbatu. Pipa baja berwarna hijau berukuran besar terpasang memanjang dari arah dam/bendungan. Mataku mulai dipandangi dengan view alam yang benar-benar tropis. Area persawahan, perbukitan ditumbuhi damar juga pinus, kandang kambing sejajar dengan sawah milik petani, dan megahnya Gunung Slamet di utara, kakinya penuh dihiasi bermacam jenis pohon yang jelas berwarna hijau merata. Lestari dan masih alami sekali alamnya. Aku merasa betah, pun nyaman berjalan-jalan disana.

Kanan-kiri, sepanjang jalanan, tarpaut jarak beberapa meter, ibu-ibu menawarkan dagangan mereka yang berisikan makanan dan minuman di bawah gubug. “Mriki mas, mendhoane anget-an get. Mampir mas.”, seorang ibu menyapa ramah. Aku menjawab hemat, “nggih bu, mangke.” . Terus berjalan, lagi-lagi ibu penjual dawet menjajakan jualannya hingga sampai ke pedagang yang berjualan di dekat area dam.

Tidak jauh, setelah melewati dam PLTA Ketenger, rute berbelok ke kanan, menyebrangi jembatan kayu di atas Kali Banjaran. Batu-batuan besar mengisi di bawahnya. Volume air terlihat sangat sedikit, mungkin karena dialirkan pararel ke arah bendungan.


Disambutlah aku di gapura Jenggala. Jalanan bekas hutan yang dibabat rapi dengan berpola tangga dengan bambu yang menyekat di ujung undakannya. Di sebalah kanan, terpampang banner bergambarkan beberapa potensi wisata yang masih mencakup area sekitaran Kalipagu, seperti Curug Pengantin, Situs Batur Lumpang Lemah Wangi, Bukit Rajawali dan lain-lain.




Kontur jalan sedikit menaik. Dikelilingi tumbuhan hijau. Aku merasakan kesejukan. Kualitas udaranya terasa segar. Masih beraroma alami. Seperti menemukan tempat yang diidamkan selama ini. Sangat menenangkan pikiran. Alam menyambut dengan suara habitatnya.

Tidak lama kemudian, aku sampai di area taman bunga. Di plang kayu itu tertulis Taman Nagasari Jenggala. Terdapat aliran air kecil mengisi celah lekukan. Melewati batuan cadas. Ada seorang bapak tua, sedang bekerja, sepertinya masih terus merapikan tempat itu.



Suara air jatuh semakin kencang. Semakin dekat, aku menuju ke selfie deck (area swafoto). Tampaklah rupa Jenggala yang deras mengalir jatuh. Terdapat tiga bagian aliran air. Yang paling lebar adalah bagian tengah, sekitaran empat meter. Lalu terputus, baik di sisi kanan dan kirinya adalah bagian yang kecil. Yang bagian kanan, airnya lebih anggun jatuhnya sebab terhalang oleh kontur sungai yang berundak-undak.





Aku berjalan lebih maju ke sisi kanan yang lebih dekat dengan tebing jurang. Melihat ke bagian bawah. Batu-batu cadas ditabrak air mengalir deras. Disitu, aku melihat suguhan pelangi. Pembiasan sinar matahari terjadi diantara air yang jatuh terbawa angin pada sisi curug bagian kiri. Berwarna merah, kuning, hijau, biru, ungu berpadu satu. Sungguh fenomena alam yang menarik sekali.  







Area itu dikelola sangat rapi. Taman bunga ditanami bermacam-macam tumbuhan. Tempat beristirahat/gazebo dibangun dengan material bambu. Selfie deck berbentuk hati persis menghadap ke arah Jenggala. Inilah magnet curug ini, melihat perkembangan zaman dan teknologi, dimana orang-orang mengungkapkan eksistensinya dengan  berswafoto. Untuk menggunakan selfie deck, pengunjung diharuskan melepas alas kaki agar tetap bersih.




Wisata Alam Haruslah Berkelanjutan

Area itu dikonsep sebagai tempat wisata yang berkelanjutan. Ini merupakan poin penting dari hadirnya spot wisata dengan memanfaatkan potensi alam itu sendiri. Curug Jenggala di Kalipagu yang diurus oleh LMDH Gempita Desa Ketenger bersama Perum Perhutani, sangatlah harus menjaga kelestarian kawasan hutan yang sebagian habitatnya dieksploitasi untuk akses infrastruktur wisata yang layak untuk dikunjungi.

Aku melihat tersedianya beberapa tempat sampah di sepanjang jalan sampai dengan di tempat wisata. Beberapa akses tempat istirahat/gazebo dan warung pedagang tersedia cukup layak. Restorasi alam dengan menanam tumbuhan baru agar tetap lestari. Papan petunjuk sudah cukup tersedia, yang terdiri dari informasi maupun larangan yang perlu diperhatikan pengunjung. Hanya saja, masih kurangnya adalah fasilitas toilet dan juga musholla (yang katanya akan segera direalisasikan karena menunggu anggaran).

Beberapa anak muda (pengelola) ditugaskan untuk mengawasi area curug agar menjaga kelestarian tempat itu dari pengunjung yang tidak bertanggungjawab atau kurang menjaga kelestarian alam. Selain itu, mereka juga bertugas mengontrol kebersihan tempat itu dengan mengepel selfie deck dan gazebo dengan air bersih, yang mungkin kadang kecolongan oleh pengunjung yang tidak mematuhi aturan dengan tetap memakai alas kaki mereka untuk berswafoto.




“Baturraden sangatlah luas. Salah satu keindahannya, ada pada pesona Kalipagu. Zaman baheula, sangatlah tepat, pilihan Suta dan Sang Putri Adipati pergi jauh ke tempat ini. Hingga kini pun, bagi saya, tempat ini masih begitu eksotis untuk dieksplore. Teramat banyak potensi wisata alam di lereng selatan Gunung Slamet ini. Kekayaan alamnya tersimpan begitu banyak.”

"Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah".
Share:

Februari 16, 2017

Kepulangan Pertama : Ayahanda Tercinta

Sempat beberapa kali hal ini terlintas di pikiranku. Rasa penasaran dengan rahasia Tuhan akan kepulangan. Pernah pula aku merenungi apakah aku yang akan pulang duluan. Mengingat keluarga kami masih lengkap. Ayah dan Ibu dengan 7 anak, 6 menantu, dan 12 cucu. Kami diberikan rezeki dan nikmat garis keturunan yang saling kasih-mengasihi. Belum ada yang pulang. Sementara itu, tidak sedikit entah teman, keluarga (bukan inti), tetangga, dan para sahabat merasakan kehilangan di dalam lingkaran keluarga mereka.

Kenangan sewaktu hemodialisa di RS Wijayakusuma

Rabu, 8 Februari 2017 pukul 12.40 WIB. Kepulangan pertama akhirnya datang juga di keluarga besar kami. Allah swt memilih Ayah sebagai yang pertama untuk kembali menghadap-Nya. Ayah tersayang kami, Semoga Almarhum Ayah ditempatkan di sisi yang mulia disana serta dilapangkan kuburnya. Aku percaya semua kehendak yang tertulis di Lawh Mahfuz adalah skenario yang paling terbaik. Aku sangat percaya itu. Semoga Almarhum Ayah husnul khotimah. Allahuma Aamiin.

Banyak teka-teki Tuhan dalam kehidupan kami. Setelah merenungi kepulangan Ayah. Kami mempercayai bahwa Allah swt sangat rapi mengatur kesemuanya. Hanya sedikit saja kami mengetahui hikmah dari kejadian tetang kepulangan pertama ini. Mencoba menyadari meskipun rasio pikiran kami sebagai hamba Tuhan sangatlah terbatas.

Bersyukur dengan mengucap Alhamdulillah, Tuhan menakdirkan kejadian ini di waktu yang paling tepat. Sebagaimana Allah berfirman “Dan Allah tidak akan menunda (kematian) seseorang apabila waktu kematiannya telah datang” (QS 28 ayat 11). Setelah pertama, tugas almarhum Ayah sudah selesai di muka bumi ini menghidupi Ibu dan membesarkan semua anaknya dalam keadaan dewasa juga mapan. Inshaa allah kami akan menjalankan pelajaran dan pengajaran yang Ayah berikan semasa hidup kepada kami. Sangat banyak sekali pengorbanan, kerja keras, perjuangan, membanting tulang, kasih sayang, dan aspek kehidupan yang berguna agar kami menjadi manusia yang bermanfaat.

Kenangan wisuda September 2015.
Kedua, tercapainya cita-cita Ayah akan kehidupan anak-anaknya berkaitan dengan tingkat pendidikan yang lebih tinggi dibanding Ayah. Memang, aku menyadari hal ini lebih semata keduniawian, namun tujuan Ayah yang aku tangkap bukan sekedar untuk mengejar hal itu. Akan tetapi, untuk keseimbangan iman dan ilmu agar selaras menyongsong kehidupan lebih baik (istiqomah). Ketiga, Alhamdulillah ku ucapkan kembali, Tuhan memberikan umur yang panjang kepada Ayah di mana yang aku tahu, umur manusia setelah masa Nabi Muhammad saw, tidak jauh dari umur nabi yaitu 63 tahun. Allah Maha Pengasih memberikan Ayah 68 tahun untuk menyelesaikan tugas mulia yang Allah swt berikan di keluarga kami. Sungguh janji Allah Maha luar biasa. Bahkan kepulangan Ayah pun membuat keluarga besar kami dan juga para tetangga berkumpul saling silaturahim mengiringi prosesi pemakaman Ayah hingga dikuburkan ke liang lahat. Banyak sekali orang-orang yang sayang kepada Ayah memanjatkan doa.

Ayah kini sudah pulang. Pengorbanan dan jasanya tidak akan pernah lekang. Ayah sekarang sudah pulang. Hanya bisa mengingat kenangan di masa kemarin. Masa bahagia, susah, senang, sedih dan tertawa bersama Ayah. Semuanya menjadi cerita dalam memori kami. Cerita rindu untuk kami semua. Ibu sempat menuturkan kenangan selepas kepergian Ayah. Membuka lembaran catatan kehidupan di sepanjang perjalanan yang terlewati. Ibu sekarang memang sendirian. Giliran kami lah yang bertanggungjawab untuk kebahagiaan Ibu. Ayah adalah pejuang Tuhan yang dititipkan sesaat, beliau dihadirkan di keluarga besar kami.

Banyak ceritera yang bisa kami ulang. Meski hanya sekedar luapan perasaan dari rekaman memori kami masing-masing. Yang jelas, kami sangat bahagia serta bersyukur berada di keluarga ini. Terima kasih Tuhan atas segala kehendak-Mu. 

Ayah, yang selalu kami rindukan. Kami sangat sayang Ayah. Namun, Tuhan lah yang lebih dan sangat menyayangi Ayah (Arrahmanirrahim). Semoga doa-doa kami selalu sampai. Menuju tiang-tiang langit. Sampai ke bait-bait Allah melalui para malaikat-Nya. Aamiin ya robbal 'alamin.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.  Dan setiap yang bernyawa tidak akan mati kecuali dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya. Kemudian kepada-Nyalah kamu dikembalikan.

Allaahummaghfirlahuu, warhamhuu, wa 'aafihii, wa'fu 'anhuu, wa akrim nuzuulahuu, wa wassi' madkhalahuu, waghsilhu bimaa-in watsaljin wabaradin, wanaqqihii minal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minaddanasi, wa abdilhu daaran khairan min daarihii, wa ahlan khairan min ahlihii, wa zaujan khairan min zaujihii, waqihi fitnatal qabri wa 'adzaabannaar.
Share:

Instagram