September 17, 2019
September 08, 2019
Daftar Destinasi Pilihan di Banten Lama
Perjalanan dilanjut dengan KA Lokal menuju Stasiun
Serang. Hanya butuh satu jam saja untuk sampai di Serang Kota. Sampai disana,
kami berjalan menuju pusat kota Alun-alun sembari mencari penyewaan motor di
jalan. Sebab rencananya kami hendak menuju ke pantai. Tak dinyana, setelah
bertanya ke orang sekitar, jawabannya selalu sama, tidak ada sewa motor disana.
Hal ini karena masih rawannya pencurian sepeda motor sehingga matinya usaha ini
disana.
Lokasi museum ini berdekatan dengan Alun-alun Serang. Bangunan
museum ini dulunya adalah bekas gedung Karesidenan Banten. Sempat difungsikan
sebagai kantor gubernur. Hingga akhirnya dijadikan museum. Apa yang menarik
dari gedung ini adalah pilar-pilar megah bercat putih.
Museum ini menyimpan sejarah dan kebudayaan Banten di
masa lalu hingga sekarang. Banyak diorama yang dipajang diantaranya cula badak,
rempah-rempah, keris, uang kertas dan koin, suku Baduy, fosil badak, keramik
dan ubin, arca Ganesha, dan film tentang Badak Ujung Kulon. Terdapat ruang
untuk anak-anak berisi puzzle badak, peta Banten, dan sarana edukasi lainnya.
Saya memikirkan jika Keraton ini dibangun ulang pastiinya
akan indah sekali dan menambah nilai sejarah yang ada di Banten Lama. Sebab,
reruntuhan yang ada menggambarkan puing-puing sisa kekejaman kolonial di masa
lalu saat Banten bertekut lutut di tangan VOC.
Makanan khas Serang ini memiliki citarasa yang unik akan
sambelnya. Ikan bandeng dilumuri oleh sambal bawang aroma jeruk nipis. Kami
makan siang di warung Pecak Bandeng Sawahluhur yang tidak jauh jaraknya dari
Banten Lama. Untuk lebih lengkap mengenai Pecak Bandeng, silahkan klik disini.
Berdekatan dengan Istana Surosowan (sayangnya ini diskip,
sepertinya reruntuhan juga). Saat kami kesana, masjid ini sedang masa renovasi
dan dipasang instalasi payung seperti yang ada di Masjid Nabawi. Banyak
pengunjung datang ke tempat ini untuk berziarah. Banyak pula pedagang berjualan
di depan jalanan masjid ini, seperti kembang, replika menara, barang kebutuhan,
dan tentunya oleh-oleh.
Masjid tua ini memiliki menara putih yang indah. Terdapat
dua balkon menara. Sayang sekali, lapangan masjid ini ditutup sehingga kami
tidak bisa mengeskplorasi bagian halamannya. Terdapat area makam di sebelah
masjid ini. Terdapat pula areal makam Sultan Banten. Di sisi timur, terdapat
bekas tempat wudhu seperti bak kecil.
Di sekitaran masjid ini, banyak bangunan tua berjajar.
Nah kalau sekarang, masjid ini sudah rampung direnovasi. Pasti berkunjung ke
pelatarannya sudah nyaman sekali. Dengan nuansa baru payung pada sebagian sisi
halamannya.
Lokasi benteng ini terletak di Kampung Pamarican, berjarak
600 meter sebelah barat laut Keraton Surosowan. Struktur benteng pertahanan ini
masih nampak kokoh sekali. Ketebalan dindingnya nampak dari struktur bata merah
yang dilapisi lagi dengan bebatuan keras. Dari bastion utara view mengarah ke
pantai. Kini pada area dalam benteng ini ditumbuhi rerumputan liar yang menjadi
lokasi padang ternak warga sekitar. Seperti terabaikan, bahkan tidak terawat
sama sekali saksi sejarah ini.
Nah, di ujung tanah makam, ada bangunan seperti pos jaga
yang usang namun klasik sekali. Atapnya rusak, hanya sedikit saja gentengnya
yang masih tersisa alias bagian rangkanya nampak tua. Jendela merah melompong.
Batu merah menyembul meruak-ruak dilekang waktu. Ada pohon rindang tumbuh subur
di sampingnya.
Memiliki luas sekitar 10 hektar. Vihara ini merupakan
bangunan cagar budaya Provinsi Banten. Sempat terbakar pada 2009, lalu dipugar
sesuai bentukan aslinya pada 2012. Di area belakang vihara ini, lorong mengarah
ke bangunan lain yang sepertinya juga tempat ibadah serta fasilitas bangunan vihara.
Spot terkahir kami adalah menaiki perahu motor. Berlayar
sekitar 30 menit di Teluk Banten. Tiket seharga Rp12.000 mengantarkan kami menikmati
udara sore dari atas perahu. Air lautnya berwarna kecoklatan. Matahari hampir
jatuh di ufuk barat. Wisata bahari ini cukup sederhana memang. Hampir sama
dengan yang ada di Sunda Kelapa. Perahu kecil hilir mudik. Banyak sekali
pengunjung yang datang ke dermaga ini. Ada yang memancing, duduk di pinggiran
dermaga, atau sekadar menikmati waktu bersama keluarga di akhir pekan.
Berakhir sudah lliburan singkat kami di Rangkasbitung
dan Banten. Saatnya pulang, kembali ke ibukota. Kami berpisah dengan Aghi di
Stasiun Serang. Pulang jalan-jalan, kami mendapatkan tidak hanya cerita dan pengalaman,
tapi juga teman baru. Bersyukurnya!
Sekian ulasan perjalanan saya di Banten. Oh ya, saya kasih foto jadwal kereta lokal Rangkasbitung - Merak. Semoga berguna dan masih relevan ya!
Kami pergi berlibur tanpa itinerary, hanya mengikuti alur
saja. Berjalan menyusuri jalanan Kota Serang. Suasana pusat kotanya cukup ramai.
Banyak warung pinggir jalan berjejeran. Kami pun makan sejenak, pecel lele.
Setelahnya, kami masih menyusuri jalanan sampai akhirnya memutuskan menginap di
Hotel Surya. Saya lupa harganya, kalau tidak salah 200k semalam.
Setelah istirahat merebahkan diri di hotel. Barulah kami
menyusun lis wisata apa saja yang akan dikujungi besok. Inilah daftar destinasi
Kota Serang yang kami kunjungi:
1. Museum Negeri Banten
| Fosil Badak Ujung Kulon |
| Gedung museum tampak depan dengan pilar megah |
Kami pun sempat mengelilingi sekitaran museum, bekas
rumah dinas Gubernur Atut ada di belakang museum ini. Sangat megah sekali. Di sekitarannya nampak sepi sekali seperti
tidak berpenghuni.
Berlanjut ke daerah utara. Kami pun memesan transportasi
daring. Akhirnya ketemu dan ngobrol banyak soal wisata di Serang. Si Aghi
rupanya suka jalan juga. Dia menawarkan untuk menemani kami berkeliling di
wilayah utara. Ya kami mau lah, secara transportasi disana itu susah banget. Jadilah
dia yang akhirnya menemani perjalanan kami sampai menjelang sore. Makasih ya
Ghi (hitsnya Pandeglang dia) sudah ngajak keliling-keliling area destinasi Banten
Lama.
2. Keraton Kaibon
Reruntuhan Istana Kaibon ini yang tertinggal hanya batu
bata merah dan beberapa pilar bangunan tembok bercat putih. Terletak di Kampung
Kroya, Desa Kasunyatan, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Keraton ini dulunya
merupakan bekas kediaman Raja Kesultanan Banten Sultan Syafiudin (1809-1813). Setelah Kesultanan
Banten jatuh ke tangan Belanda, keraton dijadikan pusat pemerintahan Bupati
Banten. Lalu pada 1832, keraton ini dibongkar sehingga menyisakan pondasi,
tembok dan pintu gerbang seperti yang ada sekarang.
| Beberapa pintu gerbang yang masih kokoh berdiri tegak |
| Sisa reruntuhan Keraton Kaibon masih menyisakan jejak yang menarik dikunjungi |
3. Pecak Bandeng
| Pecak Bandeng ini sambelnya nikmat banget |
4. Masjid Agung Banten
| Under-construction |
Ada view menarik lain, beberapa pengunjung mengambil air
yang ada di bak dengan wadah botol untuk dibawa pulang. Lalu para peziarah
memasuki kompleks pemakaman untuk berdoa silih berganti. Dua orang bapak
berdiri di depan agak ke samping pintu makam sambil memegang kardus sebagai
tempat kotak sumbangan. Sembari memandu peziarah bergiliran masuk. Orang-orang
antre di area itu. Ramai sekali.
Ornamen masjid sendiri memiliki atap limas menumpuk lima
bagian semakin ke atas semakin kecil. Kalau saya proyeksikan, ini merupakan
simbol rukun islam yang jumlahnya ada lima. Memiliki banyak tiang penyangga.
Terdapat pintu lorong kecil selain pintu utama. Ada satu mimbar kayu berukuran kecil.
Beberapa lampu gantung dan dua jam kayu menempel pada kayu penyangga.
| Interior Masjid Agung Banten |
5. Benteng Speelwijk
Dari masjid, kami berjalan menyusuri jalan setapak ke
utara lagi. Melewati rumah penduduk dan rel kereta api. Menuju ke Benteng Spielwijk
yang dibangun tahun 1585 di atas tanah reruntuhan tembok Kota Banten Lama. Jadi paska kalahnya Kesultanan Banten,
Belanda membangun benteng ini sebagai simbol kekuasaan mereka.
Bentuk benteng ini tidak beraturan. Lebih ke persegi dengan
bastion pada setiap sudutnya. Yang tersisa sekarang adalah tembok tinggi
menjulang bekas pertahanan koloni. Terdapat dua pintu setengah bundar arah
utara, satu pintu di sisi barat. Banyak ruangan bawah tanah sebelah kiri di bawah
area pengintai utara. Selain itu, yang masih teridentifikasi diantaranya 4
bastion, jendela meriam, ruang jaga, gudang logistik dan ruang penyimpanan
senjata.
| Kondisi terkini Benteng Speelwijk |
| Dinding benteng masih kokoh, meski sebagian sudah usang |
6. Kerkhoff
Persis di sebelah selatan Benteng Speelwijk, deretan
makam orang-orang Eropa ditemukan di area ini. Bentuk makamnya bermacam ukuran.
Ada yang datar hingga membentuk bangunan ke atas. Sekitar 50 makam orang-orang Belanda,
Perancis dan Inggris dimakamkan disana.
| Area makam orang Belanda |
7. Vihara Avalokitesvara Banten
Tidak jauh dari benteng, sebelah baratnya persis seberang
sungai kecil yang mengarah ke laut. Saya pikir, dulunya pedagang Cina masuk
berdagang hingga bermukim di area ini dari kanal kecil yang mengarah ke Banten
Lama. Beberapa sumber menyebut kalau vihara tertua di Banten ini dibangun
sejak abad ke 16.
Pada pintu masuk vihara, terdapat dua naga hijau pada
atapnya seperti memperebutkan matahari. Pada sisi kanan dan kiri, ruangan
dengan dupa dan lilin menyala. Sedang bagian kanannya, menara kecil untuk
membakar dupa. Lalu memasuki Altar Kwan Im Pho Sat dengan banyak patung dewa-dewa
pada setiap ruangnya. Ada empat tiang penyangga ornamen naga.
| Pelataran vihara saat akhir pekan |
Lantas warna kemerahan dengan polesan kuning menjadi ciri
khas vihara yang memiliki nama lain Klenteng Tri Darma. Sebutan ini
memiliki makna kalau vihara ini diperuntukkan tiga umat kepercayaan sekaligus
diantaranya Kong Hu Cu, Buddha dan Taoisme.
8. Dermaga Karang Antu
| Wisata Bahari Karang Antu |
| Saya berfoto bareng Aghi dan Agus |
Sekian ulasan perjalanan saya di Banten. Oh ya, saya kasih foto jadwal kereta lokal Rangkasbitung - Merak. Semoga berguna dan masih relevan ya!
![]() |
| Jadwal ka lokal Rangkas - Merak |
Agustus 15, 2019
Menuju ke Harapan
Goncangan kapal ini berlayar
Menabrak ombak lautan lepas
Menuju kemana ke pulau-pulau
Mengantar kami para penumpang
Sudah empat jam di atas laut
Kepala pusing perut pun mual
Tercium bau tak sedap
Tak karuan bau perjalanan
Menabrak ombak lautan lepas
Menuju kemana ke pulau-pulau
Mengantar kami para penumpang
Sudah empat jam di atas laut
Kepala pusing perut pun mual
Tercium bau tak sedap
Tak karuan bau perjalanan
Pergi berlibur ke Pulau Harapan
Melintas samudera birunya lautan
Toska warnanya indah dipandang
Singgah sebentar di Pulau Panggang
Melintas samudera birunya lautan
Toska warnanya indah dipandang
Singgah sebentar di Pulau Panggang
Reot kayu kapal motor
Bunyi berderit seperti irama
Menyaut suara mesin kapal
Tak mau kalah menyambut Harapan
Bunyi berderit seperti irama
Menyaut suara mesin kapal
Tak mau kalah menyambut Harapan
Langit cerah matahari bersinar
Di lambung kapal aku tergeletak
Di atas pelampung oranye
Mual pusing kembali menyerang
Semoga segera sampai
Di lambung kapal aku tergeletak
Di atas pelampung oranye
Mual pusing kembali menyerang
Semoga segera sampai
Ditulis di atas KMP Harapan ketika
berlayar dari Dermaga Muara Angke menuju ke Dermaga Pulau Harapan, tanggal 28
Juli 2019, sekitar pukul sebelas siang ketika kapal terombang-ambing di atas
lautan. Jadi inspirasi menulis di atas kendaraan menjadi suatu energi
positif yang sedang saya coba dan asah. Menarik memang ketika kita berada di keramaian
suasana transportasi umum lalu kata-kata sajak ini muncul begitu saja di benak
pikiran. Mari bermain kata-kata.
Beruntunglah manusia mempunyai privilese akal pikiran, perbuatan dan kata-kata - rizkichuk
Juli 21, 2019
Ini Daftar Destinasi Wisata Di Rangkasbitung
Sayang sekali kalau tidak diceritakan. Ini cerita lama (Desember
2018 lalu sih, semoga masih relevan ya). Sungguh memang susah sekali untuk
sesegera mengulas cerita perjalanan sekembalinya pulang, kan harusnya fresh
from the oven ya.
Udara Rangkas cukup menyengat. Perut pun sudah keroncongan. Sudah beberapa kali kami melewati warung makan. Tapi tidak berhenti mampir. Kaki masih terus jalan. Hingga pertigaan depan Bank BRI, ada warung padang bertuliskan Serba Rp 10.000 di depan kaca pajangnya. Bahasa marketing sekali bukan? Ya barang tentu kami langsung masuk dan makan disana. Beruntungnya pula, ibu penjualnya baik hati. Kami minta tolong untuk numpang ngecas gawai sembari makan siang dirapel makan pagi. Terima kasih ya bu. Semoga laris manis rezekinya.
Kami lanjut menyusuri trotoar sekitaran kota. Kurang layak ruang pejalan kakinya. Mungkin akunya saja yang terlalu menginginkan trotoar itu musti lebar dan nyaman digunakan kali ya. Kenyataannya negara ini sudah dimanjakan dengan transportasi hasil revolusi industri. Mau bagaimana lagi? Padahal jalan kaki itu seru loh. Apalagi kalau trotoarnya nyaman, seperti di Jalan Sudirman sekarang. Oke lanjut.
Berikut ulasan trip singkat saya selama di Rangkasbitung:
1. Masjid Agung Al-A'raaf
2. Alun-alun
Keluar dari masjid, kami menyebrang ke alun-alun. Sama seperti alun-alun di banyak kota-kota di Jawa. Bedanya, tidak ada pohon beringin di area tengahnya. Pohon berdaun rindang hanya tumbuh di pinggirannya saja. Terdapat tulisan Alun-Alun Rangkasbitung mengarah ke Jalan Multatuli. Di dekat situ, terdapat warung kaki lima yang bisa kita coba. Menjual aneka makanan dan minuman.
Berbalik arah ke pertigaan Jalan Kejaksaan. Lalu berbelok ke Jalan R.T. Hardiwinangun. Rumah pertama tepat sebelah kiri. Kami sudah di depan Multatuli Huis. Rumah bercat putih dengan selasar kecil. Sayang sekali rumah ini dipagar dan terkunci gembok sehingga kami tidak bisa masuk ke area dalam. Rumahnya pun kosong. Rerumputan tumbuh liar di halaman. Batang pohon menjulur ke bawah, entah pohon rindang apa yang tumbuh di sisi kanan luar rumah.
4. Makam Pahlawan Sirna Rana
Memang saya harus berterima kasih kepada kaki. Yang terus kuat melanglang buana. Yang tetap melangkah walaupun lelah. Yang terus berjalan entah kemana.
5. Museum Multatuli
Berlanjut ke Jalan Watanpra, lalu berbelok ke Jalan R.M. Nata Atmaja. Bangunan pertama sebelah kanan ialah bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun 1920.
Museum ini tidak hanya berisi tentang kisah Douwes Dekker dan bukunya. Tetapi banyak ulasan sejarah kolonisasi, sejarah tentang Lebak, Rangkasbitung dan Banten. Memasuki ruang utama, kita akan melihat foto WPAP Mutlatuli dengan tulisan "Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia". Lalu masuk ke lorong diorama kopi dan rempah-rempah. Terdapat alat giling kopi tradisonal. Terdapat pula hibah dari Museum Multatuli yang ada di Amsterdam, yakni litografi dan ubin bekas kediaman Multatuli, novel Max Havelaar berbahasa Perancis terbitan 1868, serta peta Rangkasbitung zaman dulu.
6. Perpustakaan Saidjah Adinda
Bersebelahan dengan museum, kami bergeser ke perpustakaan. Belum beruntung, jam kunjungan sudah tutup saat kami masuk kesana. Bangunan perpustakaan ini berbentuk lumbung padi (leuit). Kami sempat masuk ke dalam setelah izin ke petugas pelayanan untuk melihat sejenak. Koleksi bukunya cukup banyak. Ruangannya bersih dan rapi. Dengan meja baca yang cukup banyak. Ada ruang belajar juga. Kabar baiknya, perpustakaan ini memiliki akses untuk difabel (jalur kursi roda). Patut diacungi jempol kan.
6. D'Vara Cafe
Perjalanan kami tutup dengan makan malam di kafe ini. Kami memesan kentang goreng, pisang coklat, lemon tea dan jus mangga. Cukup ramai pengunjungnya kala senja itu. Menu makanannya cukup beragam. Ada live-music pula di lantai dua.
Berkunjung seharian di Rangkasbitung pun usai. Kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banten Lama. Kami menaiki kereta ekonomi menuju ke Serang pukul 8 malam. Harga tiketnya Rp4.000 saja. Tiketnya hanya bisa dibeli di stasiun langsung.
Okelah, kali ini ku sempatkan untuk memulai ceritaku saat jelajah
wisata di Banten. Kalian tahu kenapa aku berkunjung kesana? Ya. Tidak lain
adalah untuk menggenapi kunjungan ibukota provinsi yang ada di Pulau Jawa.
Banten adalah kota terakhir. Sebelumnya ke Semarang, Bandung, Surabaya,
Jogjakarta, dan tentu Jakarta. Alasan lain adalah jarak. Lumayan dekat dengan
Jakarta, sehingga bisa dijangkau saat akhir pekan.
***
Perjalanan dimulai dari Stasiun Tanah Abang pukul 9 pagi. Saya
bersama Agus (kawan ekspedisi) naik KRL menuju ke Stasiun Rangkasbitung. Waktu
tempuh dengan KRL 2 jam lamanya. Penumpang kereta ramai. Awalnya kami dapat
kursi. Nah mulai masuk Stasiun Serpong, semakin banyak penumpang. Akhirnya
mengalah untuk orang yang lebih membutuhkan. Ya, saling berbagi itu baik kan.
Sampailah kami di Stasiun Rangkasbitung pukul sebelas. Kemudian
keluar stasiun dan berjalan kaki menuju ke pusat kota. Tanpa itinerary,
hanya membaca referensi dari Mbah Gugel dan ditemani Kang Maps. Dari peta yang
kami baca, jarak menuju Alun-alun hanya sekitar 1,4km saja. Sangat dekat bukan?
Dan mengapa kami menuju ke arah sana? Kamu akan menemukan jawabannya di
paragraf kedua setelah ini.
Udara Rangkas cukup menyengat. Perut pun sudah keroncongan. Sudah beberapa kali kami melewati warung makan. Tapi tidak berhenti mampir. Kaki masih terus jalan. Hingga pertigaan depan Bank BRI, ada warung padang bertuliskan Serba Rp 10.000 di depan kaca pajangnya. Bahasa marketing sekali bukan? Ya barang tentu kami langsung masuk dan makan disana. Beruntungnya pula, ibu penjualnya baik hati. Kami minta tolong untuk numpang ngecas gawai sembari makan siang dirapel makan pagi. Terima kasih ya bu. Semoga laris manis rezekinya.
Kami lanjut menyusuri trotoar sekitaran kota. Kurang layak ruang pejalan kakinya. Mungkin akunya saja yang terlalu menginginkan trotoar itu musti lebar dan nyaman digunakan kali ya. Kenyataannya negara ini sudah dimanjakan dengan transportasi hasil revolusi industri. Mau bagaimana lagi? Padahal jalan kaki itu seru loh. Apalagi kalau trotoarnya nyaman, seperti di Jalan Sudirman sekarang. Oke lanjut.
Bangunan tua masih tersisa beberapa disana. Jadi Rangkas dulunya
sebagai pusat pemerintahan Hindia Belanda di Kabupaten Lebak. Kisah menarik
disini adalah tentang seorang kompeni yang berpihak kepada pribumi atas
nilai-nilai kemanusiaan saat VOC menguasai Banten. Bernama Eduard Douwes Dekker
atau lebih dikenal dengan Multatuli. Pasti kalian pernah tahu nama ini kan?
Pendiri Indische Partij, yang dikenal Tiga Serangkai itu loh. Nah, untuk
mengenang kisahnya saat menjadi Asisten Residen di Lebak. Pemda Lebak pun
membuka Museum Multatuli di seberang Alun-Alun Rangkasbitung. Inilah alasah
kenapa saya tertarik berkunjung kesana.
Berikut ulasan trip singkat saya selama di Rangkasbitung:
1. Masjid Agung Al-A'raaf
Sehabis makan, kami menuju ke masjid untuk sholat. Bangunan
Al-A'raaf lumayan megah. Ruang utama shafnya sangat lapang. Terdapat di lantai
dua. Bangunan ini memiliki eksterior dinding keramik berukuran besar. Sedang
interiornya cukup sederhana. Bercat biru muda polos. Hanya hiasan kaligrafi
pada bagian mihrabnya. Masjid ini memiliki atap limas pada bagian tengahnya.
Memasuki pintu utama yang dapat diakses melalui tangga dari sisi jalan bagian
barat alun-alun. Ada satu menara masjid beratap runcing bertuliskan الله. Tentu masjid ini menjadi tempat ibadah yang tidak bisa kamu
lewatkan kalau berkunjung kesana.
2. Alun-alun
Keluar dari masjid, kami menyebrang ke alun-alun. Sama seperti alun-alun di banyak kota-kota di Jawa. Bedanya, tidak ada pohon beringin di area tengahnya. Pohon berdaun rindang hanya tumbuh di pinggirannya saja. Terdapat tulisan Alun-Alun Rangkasbitung mengarah ke Jalan Multatuli. Di dekat situ, terdapat warung kaki lima yang bisa kita coba. Menjual aneka makanan dan minuman.
Suasana sekitaran alun-alun cukup sepi. Kondisi jalan pun cukup
lengang. Tidak banyak kendaraan lalu lalang. Terasa plong. Masih ada andong lewat juga loh disini.
3. Bekas Rumah Multatuli
Berbalik arah ke pertigaan Jalan Kejaksaan. Lalu berbelok ke Jalan R.T. Hardiwinangun. Rumah pertama tepat sebelah kiri. Kami sudah di depan Multatuli Huis. Rumah bercat putih dengan selasar kecil. Sayang sekali rumah ini dipagar dan terkunci gembok sehingga kami tidak bisa masuk ke area dalam. Rumahnya pun kosong. Rerumputan tumbuh liar di halaman. Batang pohon menjulur ke bawah, entah pohon rindang apa yang tumbuh di sisi kanan luar rumah.
Sayang sekali. Akan lebih baik jika rumah peninggalan ini
dijadikan museum atau diperuntukkan komersial. Kan kalau terawat, historisnya
terjaga, membuktikan kalau kita benar-benar tidak melupakan sejarah bangsanya.
Seperti apa kata Bung Karno.
4. Makam Pahlawan Sirna Rana
Memang saya harus berterima kasih kepada kaki. Yang terus kuat melanglang buana. Yang tetap melangkah walaupun lelah. Yang terus berjalan entah kemana.
Kami terus melangkah melewati Dinpar. Sebelahnya persis, tangki
air usang menjulang di area makam. Kami pun mampir ke makam itu. Menaiki anak
tangga dari sisi atas karena letaknya di tanah berbukit. Kami masuk dari area
pemakaman umum. Dari situ hanya melihat-lihat pusara yang berjejer rapi.
Makam Pahlawan Rangkas cukup sempit. Semuanya disemen seragam
bercat warna hijau dengan helm tentara di setiap makamnya. Terima
kasih dan doa untuk para pahlawan kita yang gugur disana.
5. Museum Multatuli
Berlanjut ke Jalan Watanpra, lalu berbelok ke Jalan R.M. Nata Atmaja. Bangunan pertama sebelah kanan ialah bekas kantor dan kediaman Wedana Lebak yang dibangun 1920.
Setelah direnovasi sesuai bentukan aslinya, kini difungsikan
sebagai Museum Pemerintah Kabupaten Lebak. Museum Multatuli diresmikan pada Mei
2017 lalu. Mengangkat nama Multituli sebagai penulis Max Havelaar yang
dituliskan oleh Eduard Douwes Dekker saat menjabat sebagai Asisten Residen
Lebak pada Januari hingga Maret 1856. Ia hanya menjabat selama 82 hari
saja. Namun, ia menerbitkan karya novel mendunia yang
diterbitkan pertama kali 1860 di Eropa. Ia menuliskan penderitaan pribumi
akan sistem tanam paksa (kolonialisme).
Multatuli memang peranakan kompeni, tetapi ia lebih pro kepada
pribumi sebab nilai-nilai kemanusiaan. Ia menginginkan Hindia untuk Hindia.
Sampai-sampai ia menolak sistem tanam paksa dengan menggulirkan politik etis
untuk kesejahteraan pribumi.
Museum ini tidak hanya berisi tentang kisah Douwes Dekker dan bukunya. Tetapi banyak ulasan sejarah kolonisasi, sejarah tentang Lebak, Rangkasbitung dan Banten. Memasuki ruang utama, kita akan melihat foto WPAP Mutlatuli dengan tulisan "Tugas Manusia Adalah Menjadi Manusia". Lalu masuk ke lorong diorama kopi dan rempah-rempah. Terdapat alat giling kopi tradisonal. Terdapat pula hibah dari Museum Multatuli yang ada di Amsterdam, yakni litografi dan ubin bekas kediaman Multatuli, novel Max Havelaar berbahasa Perancis terbitan 1868, serta peta Rangkasbitung zaman dulu.
Sangat menarik sekali dapat berkunjung ke museum ini. Kita bisa
tahu jejak sejarah apa yang tertambat di Banten. Sedang di halaman luar,
terdapat patung Multatuli sedang duduk di kursi memegang dan membaca buku.
Apakah ia sedang membaca bukunya sendiri?
6. Perpustakaan Saidjah Adinda
Bersebelahan dengan museum, kami bergeser ke perpustakaan. Belum beruntung, jam kunjungan sudah tutup saat kami masuk kesana. Bangunan perpustakaan ini berbentuk lumbung padi (leuit). Kami sempat masuk ke dalam setelah izin ke petugas pelayanan untuk melihat sejenak. Koleksi bukunya cukup banyak. Ruangannya bersih dan rapi. Dengan meja baca yang cukup banyak. Ada ruang belajar juga. Kabar baiknya, perpustakaan ini memiliki akses untuk difabel (jalur kursi roda). Patut diacungi jempol kan.
Demi mewujudkan gerakan literasi menuju Indonesia emas memang
harus membuat perpustakaan menjadi tempat yang bisa diakses siapapun dengan
nyaman, aman dan betah untuk lama-lama disana.
6. D'Vara Cafe
Perjalanan kami tutup dengan makan malam di kafe ini. Kami memesan kentang goreng, pisang coklat, lemon tea dan jus mangga. Cukup ramai pengunjungnya kala senja itu. Menu makanannya cukup beragam. Ada live-music pula di lantai dua.
Letak kafe ini di dekat bekas kediaman Multatuli. Ruang
interiornya cukup berwarna. Pernak-pernik di dinding. Lukisan. Lampu gantung.
Enaknya ada sofanya juga, jadi empuk kan kalau nongkrong lama-lama. Hehehe.
Lumayan rekomen lah kafenya.
Berkunjung seharian di Rangkasbitung pun usai. Kami kembali ke stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banten Lama. Kami menaiki kereta ekonomi menuju ke Serang pukul 8 malam. Harga tiketnya Rp4.000 saja. Tiketnya hanya bisa dibeli di stasiun langsung.
Sekian ulasan destinasi yang ada di Rangkas. Semoga bisa balik lagi kesana,
karena kaki tangan rizkichuk belum sampai ke Baduy.
Oh ya baca lanjutan perjalanan Banten disini:
Juni 24, 2019
Mendadak ke Indofest
11 Maret 2019
Hari ini ada kecelakaan kereta listrik di Bogor. Anjlok dari perlintasan. Membuat dua gerbong paling depan keluar jalur. Tiang listrik turut roboh. Evakuasi gerbong baru dilakukan malam ini. Nan jauh di Addis Ababa, pesawat Boeing 737 Max jatuh setelah lepas landas menuju Nairobi Ethiopia. Semua awak kabin dan penumpang hampir tiga puluhan negara tewas. Kurang lebih 130-an orang berada di pesawat yang menyisakan puing di lahan tanah yang berserakan.
Tentang kecelakaan, semalam terlintas ketika aku pulang menuju mess kantorku. Aku turun di Tanjung Barat dengan ojek online. Ketika memutar balik melewati jalur rel, alarm kereta sudah berbunyi. Sepertinya kereta terakhir menuju Bogor karena sudah pukul 12 malam. Aku melongok kanan kiri. Lampu sorot kereta nampak di jalur tikungan. Belum dekat memang. Namun imajiku resah kalau terjadi yang tidak baik. Tak dinyana, rupanya pikiran negatif itu terjadi di pagi ini. Berita kecelakaan KRL menjadi headline media online.
Kamu tau. Aku sedang menderita. Bukan sakit. Tapi penyakit yang susah untuk diobati. Rasa malas. Aku sedang malas dua hari belakangan. Alhasil aku hanya leye-leye di kamar. Keluar mess hanya mengisi perut. Tidur siang. Makan siang. Bermain game hingga sore.
Mendadak aku melihat postingan Indofest di instagram. Fiersa Besari manggung di acara outdoor malam hari. Akhirnya aku mandi pergi ke JCC bersama seorang teman. Kami pergi naik Transjakarta menjelang senja.
Ramai sekali pengunjung yang datang. Disana aku menonton Fiersa menyanyikan beberapa lagu karyanya yang lagi digandrungi banyak anak muda. Aku hanya tau satu lagunya yang melow. Ya, judulnya Waktu Yang Salah. Disana pula, aku berpapasan dengan travel influencer Schode di area stand produk ethnic craft.
****
Manusia yang tidak tahu masa depannya ini sudah berumur 25 tahun lebih sepuluh hari. Ya, aku baru saja mencapai titik seperempat. Di persinggahan ini aku merasa semakin tidak paham tentang jalan apa ke depan.
Seperempat sudah. Aku belum siap akan banyak hal. Siklus selanjutnya yang masih rahasia. Tambatan mimpi yang pernah ku derai. Apa bisa dicapai sedemikian kisah.
Malam kegelapan. Aku terbaring di atas kasur dengan hembusan kipas angin yang berdesir. Sedikit semilir dingin mengenai.
Sudah Seperempat Abad
Gila. Aku merasa ini benar-benar gila. Rasanya begitu cepat sekali sudah berada di titik seperempat ini. Kencang sekali. Ya, menjalaninya memang terasa. Pas sampai, semua sirna. Lelah sudah lupa. Bahagia jua semu. Sedih pernah meronta.
Antara sadar atau halu. Aku melihat sekelilingku. Nyatanya tidak banyak yang berubah. Ya aku masih merasa sama. Beda ketika aku melihat keluar. Mereka seolah sudah jauh pergi lebih dulu dibanding aku. Padahal setiap insan melalui proses yang tentu berbeda.
Apa yang pasti. Ingin rasanya aku mengulang. Apa iya bisa. Membuka kembali lembaran hitam dan putih sebelum tiba di jalan perempatan ini.
Dalam gerbong KRL menuju St Angke, kereta ini turut mengantarkanku menuju entah kemana. Aku berimaji kembali ke belakang. Padahal kereta melaju ke depan. Dia punya tujuan. Sedang aku entah mau kemana. Masih gelap dan belum siap. Entah belum menerima atau masih terbayang akan ketidakpastian ruang dan waktu.
Masa depan memang membuatku takut. Orang pecundang selalu takut akan ketidakpastian. Mirisnya aku mencundangi diriku sendiri. Padahal banyak kemungkinan yang belum mungkin atau bisa jadi baru akan mungkin terjadi. Apa aku lupa ada penguasa yang amat sangat besar.
Aneh sekali manusia satu ini. Dia sama sekali tidak tahu tujuan masa depannya. Gila. Ini benar-benar parah.
9 Maret 2019 (ditulis dalam keriuhan malam)
Desember 17, 2018
Pecak Bandeng Khas Banten, Rasanya Nikmat Menggigit Lidah
| Pecak Bandeng dan Udang Bakar |
Berkunjung ke Kota Serang Banten, ada kuliner khas yang rekomen
untuk dicicipi disana karena rasa kelezatannya. Pecak Bandeng namanya.
Kunjungan ketika mengeksplorasi wisata Banten Lama, saya sempatkan mencoba
kudapan Rumah Makan Pecak Bandeng yang berada di Jalan Raya Pontang Km 10 Sawah
Luhur.
Mampir ke saung makan ini, tidak lain setelah mendapat informasi
dari Aghi yang baru saja kami temui beberapa puluh menit yang lalu di halaman
Museum Banten. Teman baru kami ini, akhirnya menemani perjalanan kami di Banten
Lama hingga menjelang sore hari.
Aghi rupanya suka jalan sama seperti kami. Bedanya dia sudah
melanglang ke destinasi luar negeri. Sedang Aku dan Agus masih terlalu
cinta sama Indonesia. Klasik terdengar. Ya, itu alasanku saat ditantang Aghi
untuk ke luar negeri. Alasan besarnya adalah keterbatasan waktu dan dana. Di
mobil, kami banyak berbagi cerita perjalanan. Sampai sepakat, Aghi mau
mengantarkan kami ke beberapa titik wisata yang bisa dikunjungi.
Perjalanan ke Banten bisa dibilang tanpa perencanaan yang
matang. Bahkan semalam, kami hampir menggelandang sebab tidak mendapatkan motor
sewaan sehingga merubah itinerary yang sudah saya buat sebelumnya. Kenapa berkunjung Banten adalah selain jaraknya yang dekat dengan Jakarta, saya mempunyai misi
untuk menuntaskan enam kunjungan ke ibukota provinsi yang ada di Tanah Jawa.
Jakarta, Jogja, Surabaya, Bandung, Semarang dan terakhir Banten tercapai juga.
Ya walaupun dulu ketika tinggal di Sumatera, saya sering melintasi kota ini
dengan kendaraan bus lintas provinsi lintas pulau. Faktanya, misi eksplorasi
ini turut memenuhi rasa penasaran saya akan jejak rekam sejarah dan momen besar bangsa ini lima abad silam.
Setelah berkeliling cukup lama di Istana Kaibon, kami hendak
menuju ke destinasi berikutnya yaitu Masjid Agung. Jalanan mulai tersendat ketika melewati jembatan
bercat warna-warni. Bermacam jenis kendaraan mengarah ke
masjid. Hingga akhirnya, Aghi memutarbalik laju mobilnya. Berbelok ke kiri
menuju ke utara lalu sedikit ke timur. Melewati areal tanah rawa yang kering
dan lapang. Banyak tambak ikan berjejeran di sisi jalanan yang kami lalui.
Kondisi jalanan cukup lengang. Sangat berbeda jauh dengan kondisi jalanan
ketika 10 menit yang lalu. Pun tidak jauh jaraknya. Hanya enam sekian
kilometer saja.
| Saung pengunjung berada di sebelah utara |
Setibanya disana, saya, Agus dan Aghi langsung memesan Pecak
Bandeng, udang bakar, kang kumis (kangkung), dan es tawar di kertas menu yang
disediakan. Saya menyaksikan di meja pengunjung yang lebih dulu datang, sajian
ikan di tengah-tengah mereka. Tentu menambah rasa penasaran saya dengan kuliner khas
yang satu ini.
Suasana rumah makan semakin ramai. Orang datang silih
berganti. Bukan hanya karena waktunya makan siang. Namun ternyata tempat makan ini sudah begitu
terkenal. Aghi sebagai guide kami menjelaskan kalau rumah makan ini memang
pionir Pecak Bandeng khas Banten. Orang jauh (pengunjung) sering datang untuk
langsung menikmati Pecak langsung di tempat ini. Menawarkan suasana yang berbeda meski bukan di pinggir
pantai, melainkan di area lahan rawa yang sudah mengering.
Tidak lama, makanan kami datang. Sebakul nasi. Tiga porsi
ikan bandeng tersaji di atas piring tembikar beralaskan daun pisang dengan
sambal pecak di atasnya. Sepiring sayur lalapan, seperti kol, mentimun,
kemangi, dan entah daun apa namanya untuk yang satunya. Tiga mangkuk sayur asem
dan tumis kangkung. Setusuk udang bakar dengan sambal ijo. Sangat menggoda
sekali. Tapi hal pertama yang saya lakukan adalah memotret makanan. Hehehe. Sindrom generasi milenial seringnya mendahulukan jepretan
kenangan, baik untuk tujuan yang penting maupun yang tidak bernilai sama sekali. Ya cukup lima menit saja kok.
| Aghi dan Agus menikmati dalam diam, saking nikmatnya apa laper nih. |
Saya mulai mencicipi ikannya. Durinya cukup banyak terasa. Saya
berhati-hati makan daging ikannya sebab tulang durinya kecil dan halus. Lain dengan ikan bandeng presto (duri lunak), santapan ini berupa ikan bandeng segar, dimana proses masaknya dibakar lalu dilumuri sambal pecak. Rasanya menggigit di lidah. Pedasnya membuat nagih dan nikmat.
Sebagai penikmat menu ikan dan rasa pedas, tentu saya doyan menghabiskan kuliner Pecak Bandeng. Agus dan Aghi juga lahap menikmatinya sampai
menyisakan piring yang kosong. Saya tidak ketinggalan. Menyusul mereka.
Memakan udang, kangkung, ikan. Lalu mencicipi sayur asem. Hanya tersisa
lalapan saja yang belum dimakan. Saya sangat menikmati ikan bandeng bahkan sampai
ke bagian kepala dan ekor. Alhamdulillah, kenyang. Terasa nikmat sekali.
Sebagai informasi, harga makanan yang kami pesan pun begitu terjangkau. Sesuai
dengan kantong teman pejalan. Makan bertiga dengan porsi sedang merogoh kocek sebesar
119k saja. Per orang hanya 40k kalau dirata-rata. Sangat rekomen sekali bukan.
Sekian ulasan saya berbagi tentang kuliner khas Pecak Bandeng. Tentu kalian harus merasakannya sendiri ya. Kalau berkunjung ke Banten, bisa banget untuk mampir ke warung makan yang terletak di Sawah Luhur. Rasakan sensasi kenikmatan Pecak Bandeng, satu kuliner jawara khas Banten.
Sekian ulasan saya berbagi tentang kuliner khas Pecak Bandeng. Tentu kalian harus merasakannya sendiri ya. Kalau berkunjung ke Banten, bisa banget untuk mampir ke warung makan yang terletak di Sawah Luhur. Rasakan sensasi kenikmatan Pecak Bandeng, satu kuliner jawara khas Banten.

