Januari 27, 2017

Mezza Resto Aston Rasuna - Part of Short Travel Videography 2.0

Aku kembali datang ke acara Mas Teguh  pada Workshop Short Travel Videography di Hotel Aston Rasuna Jakarta. Pagi yang ramai di Stasiun Sudimara, aku menunggu kereta untuk mengantarkanku ke Stasiun Sudirman dan kemudian pakai jasa ojek online untuk efektivitas waktu segera sampai disana.

The Bridge Aston Rasuna
Sampainya, aku bertanya ke security di lobby hotel, lalu diarahkan ke gedung di atas jalan yang bangunannya menyatu dengan hotel ini. Di lantai 2, aku registrasi lebih dulu, masuk ke ruangan yang cukup besar kapasitasnya untuk agenda pertemuan dan semacamnya. Tersedia meja dan kursi melingkar. Pencahayaan temaram berwarna oranye. Beberapa peserta workshop sudah bercumbu disana. Aku bergabung duduk bersama Bu Annie & Mas Anto.

Workshop kali ini, serunya dari pihak Aston Rasuna melalui Creative Centernya di bidang seni fotografi dan videografi ikut meramaikan acara itu. Pada sesi awal, kami disambut ramah oleh GM Aston Rasuna, Pak Muhammad Isa.

Sesi awal workshop

Materi Session by Kang Dudi Iskandar
Sebagian bahasan materi yang dipresentasikan Kang Dudi hampir sama dengan workshop pertama di Morrissey. Dengan tips dan trik yang sederhana. Singkatnya poin materi, antaranya tentang unsur dalam video itu gambarnya harus steady/clear dengan suara yang jelas, apabila ada percakapan. Untuk menghindari goyang/pergerakan antara frame, dapat diminimalisir dengan teknik shooting cut to cut, bukan long shoot  di mana hasil gambar yang divideo bisa dipilih saat editing.

Dalam penulisan kata-kata atau kalimat di video hanya sekedar penjelasan tentang apa yang tidak nampak di dalam gambar atau yang penting untuk dijelaskan, secara singkat dengan bahasa sederhana dan sebisa mungkin kurang dari 20 kata. Tidak diperlukan pula rujukan dan tempat yang terlalu detail. Intinya untuk menghindari tulisan yang terlalu lama untuk dibaca oleh viewers.

Arah cahaya kembali diulas. Satu ini memang menjadi momok dalam teknik pengambilan gambar baik foto maupun video. Tips dari Kang Dudi antaranya dilarang membelakangi arah cahaya kecuali untuk tujuan gambar siluet. Waktu pengambilan gambar yang baik adalah jam 9 pagi ke bawah dan di atas jam 3 sore. Dikarenakan arah cahaya yang jatuh tepat menyinari objek keseluruhan pada waktu tersebut.

Lalu, ada bahasan mengenai komposisi yang menarik dijadikan bahan rujukan dalam teknik pengambilan gambar, yaitu tentang rentang titik fokus penglihatan manusia dalam melihat gambar. 

Ilustrasi gambar ini berdasarkan hasil penelitian dalam materi Kang Dudi

Praktek di Mezza Resto
Nah, setelah cukup mendengar dan memahami materi Kang Dudi. Kami dibagi menjadi empat kelompok dengan tempat shoot yang berbeda. Saya masuk di kelompok empat dengan tugas shooting scene di dapur dan restoran Aston Rasuna. Ditemani Pak Alwi, kami menuju Mezza Resto. Disana kami mengambil scene per scene yang sudah ditentukan. Dari awal tamu datang ke resto, penyambutan oleh staf hingga pemesanan makanan, proses memasak makanan di dapur,  penyajian di piring, sam[ai dengann makanan diantar ke meja tamu. Di area lain, terdapat snack dan beverage, penyajian wafel dan makanan tradisional, dan pembuatan minuman di bar. Sangat menarik sekali tiap scene yang dilakukan. Staf dan kru Aston sangat kooperatif membantu proses shooting video. Betah lama-lama mengambil gambar disana. Banyak frame menarik yang bisa direkam. 

Chef lagi goreng ayam dan kentang


Sajian ala tradisional

Proses Editing
Selain Power Director yang menjadi aplikasi editing yang dominan digunakan. Kami dikenalkan dua aplikasi baru oleh Mas Teguh, yaitu Quik dan Legend. Aplikasi Quik bisa menghasilkan produk animasi tulisan dengan fitur musik yang enak didengar. Produk keluarannya bersifat fun dan cocok digunakan untuk menambah variasi dalam video travel. Sedangkan legend, aplikasi yang lebih flat yang fungsinya hampir sama dalam membuat produk title credit ataupun ending credit dalam video yang bisa dianimasikan pula. Jadi pemilihan anatara memakai Legend atau Quik relatif pada kreativitias masing-masing user.

Di akhir proses editing, sebagian peserta menampilkan hasil video masing-masing. Seru-seruan sambil belajar menghasilkan video dengan aplikasi yang fun dan mudah digunakan. Terima kasih Mas Teguh, Kang Dudi, dan pihak Aston Rasuna yang telah memberikan ilmu dan pengalaman terbaik di hari Sabtu kemarin. Berikut hasil video saya.


Share:

Januari 21, 2017

Begini Ramainya Curug Bidadari di Awal Tahun 2017

Kita telah beranjak di tahun 2017. Di awal tahun yang baru ini, semoga semakin banyak destinasi baru yang bisa kita kunjungi. Pastinya kita semua punta banyak sekali yang namanya resolusi. Semoga resolusi bukan sekedar keinginan saja, namun kita bisa merealisasikan dengan segera. Termasuk menduniakan pariwisata Indonesia ke dunia internasional.


Pada long weekend kemarin, saya sempat mengunjungi satu destinasi di Sentul, Bogor. Tepatnya berada di Desa Bojongkoneng.

Akses menuju kesana, kami melewati Sirkuit Sentul, lalu mengarah ke Bukit Pelangi sekitar sejam lamanya untuk sampai di Desa Bojongkoneng. Kontur jalannya menanjak dan menurun. Tibanya di pertigaaan, kalau ke kiri mengarah ke Gunung Pancar, sedangkan ke kanan menuju ke tempat yang kami tuju. Terus berjalan hingga menemukan ujung jalanan yang rusak berbatu (tidak beraspal). Ditambah situasi kondisi jalanan yang ramai dipenuhi kendaraan mobil maupun motor.

Kami membayar retribusi untuk jalanan desa tersebut. Lalu melajukan kendaraan kembali di jalanan menurun. Sampai di gerbang kami membayar tiket masuk Rp 40.000/orang (special day), dan Rp5.000/motor. Dari gerbang masuk, kontur jalanan semakin turun dan curam. Harus berhati-hati untuk sampau ke area parkiran.


Lalu berjalan kaki untuk sampai area air terjun sekitar beberapa puluh meter. Barulah nampak air jatuh ke bawah di sisi tebing bukit. Airnya tidak begitu deras. Bahkan bisa dibilang kecil sekali debit airnya. Kami berjalan ke area gazebo. Melihat dari sisi atas. Ramai sekali dengan wisatawan.




Di bawah terik mentari. Siang hari yang panas. Saya meramaikan diri diantara orang-orang disana. Para pedagang. Muda dan tua semua ada disana. Wisatawan bermain air di kolam renang. Anak-anak menjajakan makanan dan minuman. Sebagian lagi, ada yang menjemur alas untuk duduk dan menawarkan kepada pengunjung yang lewat. Orang-orang berjalan di atas jembatan mengarah ke air terjun. Berseliweran silih berganti.


Lalu, saya berjalan ke atas bukit. Saya memandangi sekitar tempat itu. Curug Bidadari persis jatuh tepat di depan saya, namun berada di sisi tebing yang lain. Di bawah sana, hampir dipenuhi dengan orang-orang. Sambil mengabadikan momen, saya mengamati dari atas situ.


Pemandangan di sekitaran cukup indah. Didukung pula cuaca yang cerah. Gumpalan awan di atas dua bukit nan jauh meliuk lihai. Kolam renang buatan di sisi kiri, diapit batuan cadas menonjol tinggi di bagian tengah, barulah di sebelah kanan, area air berwarna kecoklatan dengan air yang jatuh terlihat halus.


Tidak lama untuk sampai ke area keramaian tersebut. Curug ini menariknya memiliki wahana kolam renang yang dilengkapi seluncuran, bola air, dan beragam jenis pelampung. Sangat cocok dijadikan pilihan berwisata keluarga. Area kolam renang lebih didominasi anak-anak. 


Lalu mengarah ke sisi air terjun, melalui jembatan kecil yang dipenuhi orang berlalu-lalang. Terlihat lebih jelas juga tinggi. Kebanyakan orang berfoto selfie disini. Beberapa ada pula yang bermain air. Saya hanya berkeliling mengamati area di sekitaran situ. Mengabadikan momen diantara keramaian Curug Bidadari yang sedikit mempesona. 


Tulisan ini dimuat pula dalam https://kitaina.id/meramaikan-diri-ke-curug-bidadari/
Share:

Januari 01, 2017

Arapaima Gigas - Si Ikan Raksasa Dari Sungai Amazon

Taman Wisata Pendidikan Purbasari Pancuran Mas mempunyai satu wahana menarik yaitu Aquarium Exotic River World. Disana, kita bisa melihat banyak jenis-jenis ikan air tawar (sungai) di dalam akuarium. Satu yang menjadi ikon di wahana ini yaitu ikan raksasa yang berasal dari Sungai Amazon, Arapaima Gigas.


Liburan di penghujung Desember kemarin, kami sekeluarga berwisata ke obyek wisata buatan yang eksis di Purbalingga dan beberapa kali sudah sering kami datangi. Obyek wisata ini bernilai edukasi karena konsepnya yang cukup menarik untuk dijadikan alternatif tujuan wisata keluarga.

Terletak di Desa Purbayasa, Kecamatan Padamara, Purbalingga menjadikan obyek wisata ini semakin dikenal oleh wisatawan. Ketika kami berkunjung kesana, okupansi kunjungan cukup ramai. Beberapa kendaraan mobil dan bus memadati area parkiran. Dengan harga tiket sebesar Rp18.000 pengunjung sudah bebas mengelilingi wahana yang ada, terkecuali wahana air.
Share:

Desember 25, 2016

Paras Waduk Jatiluhur dari Gunung (Batu) Lembu

Tidak jauh dari Gunung Parang, Purwakarta memiliki wisata ketinggian lain, seperti Gunung Bongkok dan Gunung Lembu. Sesudahnya menikmati sunrise yang epic dari homestay di Badega, kami menuju ke arah pos pendakian Gunung Lembu yang berjarak sekitar 15 menit dari sana.



Setibanya, kami langsung registrasi dan langsung berjalan memasuki jalur bukit lembu dari pos Desa Panyindangan, Kecamatan Sukatani. Pos pendakiannya berdekatan dengan kantor kepala desanya. Fyi, biaya retribusi 10k saja.
Share:

Desember 05, 2016

i am Morrissey - Workshop Short Travel Videography & Tour Hotel

Pengalaman adalah guru terbaik setiap manusia, katanya. 
Dan inilah tentang pengalaman saya. 

Sabtu kemaren 3 Desember 2016, saya mengikuti acara Workshop tentang Short Travel Videography with Smartphone di Morrissey Hotel Residences, Menteng. Diisi oleh pembicara kondang, Mas Teguh Sudarisman (penulis Travel Writer Diaries) dan diikuti sejumlah blogger yang kece-kece tentunya.

Dimulai dengan safety briefing oleh pihak Morrissey. Kami dijelaskan tentang standar keamanan yang dijadikan poin paling utama untuk diketahui oleh pengunjung hotel. Sistem keamanan yang handal diterapkan di setiap ruangan hotel. Kala itu kami berada di Ruang Klasse 2 & 3 di lantai 1 yang cozy banget, meski minimalis tapi membuat nyaman.
Share:

November 22, 2016

Wisata Adrenalin : Mendaki Gunung Parang via Ferrata

Matahari mulai menyeruak pagi diantara awan-awan putih. Sejuk udara terasa bersih dan sedikit dingin. Saya merasakan suasana pedesaan yang masih asri. Sepanjang jalan, saya mengamati jalanan yang kami lalui. Penduduk desa yang mulai beraktivitas keluar rumah. Hewan ternak seperti ayam, bebek, kambing, dan kerbau sesekali menghalangi jalanan kami menuju perhentian terakhir.




Di kejauhan, bukit tebing cadas meninggi kokoh. Puncak tebing itu terbelah dua lancip tersorot mentari. Kesanalah tujuan yang hendak kami tuju. Teman seperjalanan saya hari kemarin (29-30 Oktober 2016) bersama Bang Oji, Bel dan istrinya.


Tidak lama kemudian, sampailah kami di kampung Cihuni Badega Gunung Parang berada. Disana terdapat beberapa kelompok wisata yang sama-sama menyuguhkan wisata pendakian melalui ferrata.

Memasuki tempat wisata, terdapat jalanan menurun dari bambu. Saung-saung di pinggir kolam ikan. Di saung tersebut, ada pengunjung beristirahat, ada pula yang memasak dengan kompor lapangan. Lalu mengelilingi jalanan setapak di sisi kolam, kami melihat remaja-remaja bule sedang membersihkan diri. Camping ground dipenuhi tenda-tenda milik mereka. Menuju ke atas bukit, tepat di bawah Gunung Parang. Terdapat bangunan seperti pendopo, naik lagi kami berhenti di warung yang menyatu dengan penginapan milik pengelola obyek wisata tersebut. Diatasnya pula, terdapat dua saung untuk wisatawan menginap.


Pendakian dimulai pukul tujuh lebih. Kami berjalan melewati hutan sekitar sepuluh menit lamanya. Pendakian didampingi oleh Mas Aldi. Sebelum itu, kami memakai harnest yang sudah terhubung dengan tali dan carabiner, beserta helm. Mas Aldi pun menjelaskan tentang cara menggunakan carabiner yang terdiri dari dua bagian untuk dikaitkan diantara sling dan ferrata. Berdoa selesai, kami pun mulai memanjat tebing itu.


Ferrata (bahasa Italia) adalah tangga besi, yang dimasukkan ke dalam batuan tebing dengan cara dibor. Jenis batuan Gunung Parang adalah batuan andesit yang sangat keras. Ukuran besi yang dimasukkan sampai menembus kedalaman 10 cm. Berbentuk seperti huruf U. Menancap kuat sehingga mampu menopang berat beban ketika diinjak.


Pertamanya, kami memanjat tebing dengan santai dan pelan. Dengan hati-hati dan waspada. Kemiringan tebing bermacam-macam derajatnya. Alur ferrata pun random, tidak selalu naik. Kadang menyamping ataupun berbelok. Semakin naik, kami semakin terlatih. Semakin ke atas, semakin luas pula view yang dapat kami saksikan. Benar-benar indah pemandangannya. Petakan sawah yang gundul khas dengan tanah berwarna coklat. Pohon-pohon hijau di sekitarnya. Bukit berbentuk kerucut tepat di depan kami, tepat berada di pinggir Waduk Jatiluhur yang dilengkapi dengan tambak-tambak ikan di sekelilingnya. Di sisi kiri, terdapat Gunung Lembu, sementara di sisi depan banyak bukit-bukit menonjol ke atas.


Sesekali kami berhenti dan tertegun memandangi luasnya view di bawah kami sampai di ujung sana. Matahari mulai meninggi. Rasa panasnya menemani aktivitas kami pagi itu. Ternyata, waduk di depan kami sangat luas sekali, mengelilingi hampir 180 derajat lebih. Dari barat hampir ke tenggara. Di ujung sana tampak jembatan di atas bendungan waduk tersebut. Di dataran rendah sana yang sangat jauh, daerah Karawang terlihat.
 
Kami sangat menikmati suasana di atas sana. Indonesia memang surga kecil yang ada di bumi. Alamnya begitu potensial. Perjalanan kami masih panjang. Sampailah di spot untuk beristirahat. Area yang datar. Berhenti sebentar melepaskan dahaga. Untungnya kami membawa minuman dengan sedikit makanan. Lalu berfoto-foto mengabadikan momen.


Jalanan berbelok ke sisi tebing lainnya. Disitu terdapat spot untuk berfoto yang menunjukkan ketinggian karena berada di ujung tebing. Kemudian melewati tebing dengan kemiringan hampir 45 derajat. Benar-benar ngeri melihat ke bawah. Jurang yang dalam sekitar 400 meter lebih. Kami menyudahi titik pendakian kami di titik 300 mdpl dari titik awal menaiki ferrata. Memilih ke jalur bawah yang nampak lebih lurus alurnya.


Gunung Parang sendiri mempunyai titik tertinggi hingga mencapai ketinggian 900 mdpl. Untuk mencapai puncaknya via ferrata, kemiringan jalurnya pun makin ekstrim. Melalui titik tebing yang overhang. Selain melalui ferrata, Gunung Parang dapat didaki melalui jalur hutan.

Menuruni ferrata ternyata tidak begitu sulit layaknya menuruni kaki-kaki tangga. Mungkin karena aku sudah terbiasa menggunakan carabiner, bergantian mengaitkan yang satu di sling ataupun ferrata, maupun ke sling saja. Sling sendiri memanjang mengikuti alur ferrata. Terbagi-bagi dalam beberapa meter, terkait oleh pengait yang juga menancap ke dalam tebing, namun tetap menyambung satu sama lain.

Ini kali pertamanya aku memanjat tebing. Momen yang berkesan pula di sepanjang perjalanan eksplorasiku mengunjungi keindahan-keindahan Indonesia. Saya bangga sekali menjadi orang Indonesia, terlahir di bumi pertiwi yang alamnya sungguh sempurna.

Sampailah kami di titik akhir. Tepat selama 3 jam total waktu pendakian, seperti kata Mas Aldi. Kami kembali menuju basecamp (saung) untuk beristirahat dan mengisi perut yang sudah kelaparan. Tidak lama hujan membasahi Badega Gunung Parang. Hujan turun begitu deras. Kami pun tertidur pulas di dalam saung itu.

***
Esok paginya kami disuguhkan sunrise yang cukup epik. Tepat pukul lima pagi matahari mulai kembali ke peraduannya dari ufuk timur. Pertama gelap, sedikit oranye, lalu sepenggal menerawang. Mata kami tidak bosan menatap keindahan itu. Sungguh nikmatnya bisa berwisata ke Badega Gunung Parang. Suatu saat entah lusa yang jelas esok, saya ingin kembali lagi ke Gunung Parang. Buat kalian, jiwa muda yang cinta banget sama Indonesia, hendaklah segera mengunjungi obyek wisata Gunung Parang, siapkan nyali dan kantong anda untuk mendapatkan momen yang luar biasa. Obyek wisata ferrata satu-satunya yang baru ada di Indonesia.


Inilah salah satu dari banyaknya potensi wisata yang ada di Indonesia. Saya sangat merekomendasikan obyek wisata yang terletak di Kampung Cihuni Desa Sukamulya Kabupaten Purwakarta, karena selain mudah dijangkau, jaraknya tidak jauh dari ibukota Jakarta, kurang lebih tiga jam untuk sampai kesana. Kala itu, kami melewati tol keluar Cikampek lalu menuju Kota Purwakarta mengarah ke Jatuluhur. Namun terdapat pula aksea keluar tol lainnya, seperti via Tol Sadang dan via Tol Jatiluhur (yang lebih dekat dengan lokasi). Ketika kemarin, kami menuju Kecamatan Sukatani, tidak jauh dari Polsek Sukatani, akan menemukan jembatan, akan ada jalan sebelah kanan yang sedikit agak rusak sebab daerah itu kawasan tambang galian C. Dari situ, untuk sampai ke lokasi membutuhkan sekitar 30 menit dengab kontur jalan menanjak dan tentunya menurun. Melewati pematang sawah dan suasana perkampungan yang masih terjaga keasriannya.

Satu yang pasti, apa yang saya amati dari obyek wisata ini adalah terkait akses jalan infrastruktur yang masih apa adanya. Belum adanya petunjuk jalan dan marka jalan yang memadai. Jalanan ketika akan sampai lokasi semakin mengecil sekitar 3 meter, beberapa ada yang amblas betonnya (kemungkinan tanahnya labil). Saya hanya berharap akses pendukung mampu menambah kualitas obyek wisata ini agar semakin dikenal banyak orang, meningkatkan jumlah kunjungan dan bermanfaat bagi pertumbuhan ekonomi sekitar. Selain itu, inovasi harus terus dikembangkan seperti penerapan konsep eco-tourism pedesaan yang memanfaatkan kondisi dan lingkungan agar selalu dapat berkembang secara berkelanjutan. Karena Gunung Parang bukan sekedar unik, tetapi menarik di hati.


Share:

Oktober 27, 2016

Part 1 - Seharian Keliling Jakarta, Bisa!


Weekend kemaren, saya berkesempatan mengeksplore Ibukota Jakarta bareng blogger Jabodetabek, Lampung bahkan Bandung yang diadakan oleh IDCorners bertajuk Jakarta Night Journey. Pada event tersebut, para blogger diajak jalan-jalan menelusuri wisata ibukota seperti Jakarta Smart City, Balaikota, City Tour, Kota Tua dan Monumen Nasional.

Kurang lebih sebanyak 35 blogger hadir di hari sabtu kemarin. Titik pertama yang dituju adalah Gedung Balaikota lantai 3. Tepatnya lounge Jakarta Smart City. Di dalam ruangan ini, tersusun meja kerja dengan teknologi modern yang cukup lengkap. Screen kamera cctv yang memantau kondisi lalu lintas tampak real. Disitu kami mendengarkan penjelasan pekerja tenaga ahli yang terdengar kental dengan logat bataknya.






Sedikit review yang saya dapatkan, Jakarta Smart City merupakan akses online warga Jakarta untuk memantau kondisi, aktivitas, arus informasi yang ada di Jakarta dan berguna sebagai tempat mengeluarkan aspirasi maupun keluh kesah atas permasalahan yang masyarakat temui di ibukota.


Melalui portalnya smartcity.jakarta.go.id , masyarakat dapat mengakses informasi seperti harga sembako di pasar, update kamar kosong di rumah sakit, harga tanah per meter persegi, kondisi lalu lintas dan lain-lainnya. Untuk menambah kualitas, tersedia aplikasi online yang bisa digunakan untuk yaitu Qlue. Selain itu, terdapat aplikasi pendukung lainnya seperti zomato, trafi, ragunan zoo, go food, iJakarta, info pangan, dan waze.

Jakarta Smart City semacam terobosan untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam membangun ibukota dengan kondisi nyata di lapangan, aspirasi dan kritikan seperti sampah, kerusakan infrastruktur, dan kemacetan arus lalu lintas.

Selesainya, kami menuju ke lantai dasar, disanalah tempat Gubernur Jakarta beserta staf-stafnya bekerja. Arsitektur bangunannya antara neo klasik eropa dan campuran Indonesia. Di lantai dasar lebih banyak ruangan untuk rapat, aula pertemuan dan hall serbaguna. Menuruni tangga layaknya tangga di film Titanic, sedikit klasik. Di hall tersebut terpampang gambaran dan tulisan mengenai program-program seperti progres pengerjaan jalan tol, proyek mrt, jalan layang, normalisasi Waduk Pluit, penggusuran dan pembangunan rumah susun. Ada pula tulisan sejarah Jakarta dengan foto Gubernur dan wakilnya.




Melangkah ke depan, ada ruang galeri foto. Di tembok berderet foto pemimpin Jakarta sejak dahulu hingga masa Pak Jokowi. Meja kursi disusun rapi dengan vas bunga yang berisi tumbuhan hidup. Cermin, pot bunga, lampu gantung menambah kemewahan ruangan itu.





Pada bagian agak ke depan terdapat ruang tamu, ruang kerja Gubernur, ruang transit tamu, lalu melangkah keluar ada pendopo dengan taman air mancur.









Para blogger banyak berfoto mengabadikan momen disitu. Ada pula wisatawan domestik yang datang berkunjung. Mereka melihat foto-foto, selfie, dan duduk-duduk di sofa. Saya sedari awal memegang kamera smartphone Asus Zenfone 2 Laser untuk mengambil gambar. Semua ruang hampir saya potret, dengan angle dari sudut ruangan, dari atas, dari bawah dan menyeluruh. 



Dengan smartphone Asus, saya dapat dengan cepat menangkap fokus gambar. Didukung fitur kamera yang cukup, resolusi 13 megapiksel dengan bukaan lensa f2.0, saya lebih suka menggunakan mode manual untuk hasil foto yang lebih orisinil (cukup akurat). Performa multitasking pun sangat efisien karena dapur pacu, chipset, dan RAM yang mumpuni. Sehabis motret, sesekali saya langsung mengupdate status ke media sosial (live tweet #EnjoyJakNight) tentang serunya kegiatan kami saat itu. Namun saya harus menghemat baterai untuk terus bisa mengambil foto dan momen hingga akhir perjalanan.






Pada abad ini, smartphone menjadi alat fotografi yang paling simple untuk dipakai. Dengan menggunakan gawai, saya merasa efisien dan mudah dalam memotret momen. Secara kualitas, Asus Zenfone yang saya gunakan cukup mumpuni dengan fitur kameranya, terlebih ketika mendapat cahaya yang optimal. Hasil foto tidak jauh berbeda dengan kamera digital sejenis mirrorles maupun DSLR yang lebih fungsional dengan fitur canggihnya. Dengan menggunakan fitur manual, saya cukup puas mendapatkan hasil foto yang lumayan bagus, namun hasil foto akan semakin terlihat kualitasnya ketika saya memindahkan ke laptop/komputer.


Baru-baru ini pula, Asus merilis smartphone Zenfone 3 terbaru yang semakin meningkatkan kualitasnya untuk user mobile photography. Fitur canggih yang disisipkan dilengkapi akses interface untuk memudahkan pengguna dalam kecepatan pengambilan momen (gambar). Penambahan fitur seperti HDR pro, low light, depth of field (untuk foto makro), dan beberapa efek foto yang bisa digunakan, sedangakan mode manual diperkaya dengan kecepatan rana kamera sampai dengan 32s, OIS (meminimalisir blur) dan EIS (dalam mode video), eksposur, auto focus yang hanya membutuhkan 0,03 detik (triTech), ISO serta white balance. Menariknya lagi, dipacu dengan sensor Sony IMX298 16 megapiksel, Zenfone 3 mampu merekam video hingga resolusi 4k. Benar bila tagline produk tersebut menyatakan bahwa Asus Zenfone 3 Built For Photography. Sedikit membayangkan pula, kalau saya dapat menggunakan produk tersebut untuk melatih kemampuan berfoto saya yang masih amatiran pasti akan terbantu sekali dengan fitur-fiturnya

Share:

Instagram