Juni 12, 2015

Semacam Pengalaman : Kuliner di sebagian daerah Jawa Tengah

Lomba Blog Visit Jawa Tengah Periode 3 akan berakhir men. Kali ini bertemakan wisata kuliner di Jateng. Setelah dua periode sebelumnya mengenai cagar budaya dan wisata alam. Masih ada lagi, lomba utama dengan tema  Cinta (Wisata) Jawa Tengah yang sepertinya bakalan banyak diikutin para blogger tanah air, soalnya hadiahnya bikin lemes, eh maksudnya bikin semangat buat nulis. hehehe :) 

Ngomongin kuliner asal Jawa Tengah, cita rasa makanan identik dengan rasa manis. Tentunya untuk orang-orang yang tidak biasa dengan makanan seperti ini akan merasa aneh, apalagi saya terbiasa menyantap makanan berbumbu, asin dan pedas. Menurut saya, beberapa makanan di Jawa Tengah jarang yang berbumbu komplit kemudian lebih banyak yang ditumis seadanya. Bagaimana caranya agar lidah saya bisa menyantap makanan disini? Ini sih, anggapan pertama kali saat menginjakkan kaki di Purwokerto.

Terlepas dari semua itu, saya mulai terbiasa dengan hal apapun yang saya alami di Purwokerto, termasuk makanan, orang-orang dan budayanya. 7 tahun sangat cukup membuat saya merasa nyaman. Saya mulai doyan bahkan suka dengan masakan orang-orang sini. Saya pun semakin tahu, Indonesia penuh dengan perbedaan dan multikultural. Tentunya inilah nilai positif dari Indonesia yang bisa kita jual sebagai produk wisata ke negara asing. Tinggal bagaimana wisata tersebut dikemas menarik namun didukung fasilitas transportasi, infrastruktur dan kesiapan dari masyarakat wisata itu sendiri.

Kembali berbicara mengenai kuliner, saya akan berbagi mengenai pengalaman saya ketika makan di tempat-tempat makanan yang pernah dan sering saya kunjungi.

1.       Soto Kriyik Purbalingga (Jl. Jenderal Soedriman, Purwokerto / sekitaran Pasar Wage)

Awal ceritanya ketika seorang teman ngepos foto di media sosial. Ketika ngelihat gambar makanan, langsung lah mata merangsang otak, dan menstimulus untuk bisa segera mencicipinya. 

Pekan lalu, kebetulan saya ke Pasar Wage sama abang saya. Dari rumah, udah berniat akan nyari keberadaan warung soto. Kebetulan pula kita laper banget abis dari pasar. Eh, setelah nyari-nyari dan nanya tukang parkir, kita gak nemuin itu warung. Pencarian pun berakhir, karena kita udah muter-muter sampe hujan turun, dan akhirnya kami pun pulang dengan sedikit kecewa.

Beruntungnya, di belakang rumah kami, ada yang jualan sroto (dibaca:soto). Soto isi kupat, bihun, kecambah, daun bawang, suwiran ayam, dan berkuah kacang yang memang khas dari Purwokerto (Soto Sokaraja). Harganya mana murah pula, cuma Rp 5.000. Lumayan banget kan buat ngeyangin perut. Untuk rasanya agak manis dan dicampur sambelnya yang pedas. Jadi perpaduan manis dan pedas.

***

Beberapa hari kemudian, sepulang jalan-jalan eksplore Banyumas buat update materi Lomba Utama Blog Visit Jateng2015. Saya pun mengobati rasa penasaran untuk makan soto tersebut. Ternyata warungnya berada di depan toko yang sudah tidak digunakan lagi, di atas trotoar, sebelah toko obat-obatan.

Akhirnya saya rasa penasaran saya hilang. Ibu penjualnya cukup lama meracik makanan yang akan kami santap. Nah, gak taunya, sampailah itu makanan. Porsinya benar-benar semangkuk penuh. Perbedaan soto ini adalah pada toppingnya, telur diiris kecil-kecil, lalu ada kacang tanahnya, kerupuk warnanya kecoklatan rasanya asin, daging dan hati ayam kampung,  sambal kacangnya yang terpisah dan kuahnya lebih kental. Benar-benar puas ! Saya hampir tidak sanggup melahapnya, padahal sebelumnya perut saya kelaparan betul. Untuk harganya cukup terjangkau, hanya Rp 14.000 saja. Saya memberikan poin 8 untuk kenikmatan santapan kuliner ini.

Soto Kriyik

2.       Sate Bebek Tambak

Masih di Banyumas. Kita bisa menemukannya di Kecamatan Tambak. Nah, kalo kalian lagi liburan atau ngelewatin daerah ini. Sebaiknya sempatkan diri untuk mampir sebentar ke warung sate bebek disana. Pecinta kuliner wajib banget nyicipin makanan yang satu ini. Mungkin kita lebih sering makan sate ayam atau sapi. Ini berbeda dari biasanya, daging bebek men. Siapa yang suka daging bebek? Ayooo ngaku ! Untuk letaknya di sekitaran Pasar Tambak. Ada banyak warung-warung berjejeran. Nah, rekomendasi saya, coba di warungnya Pak Ghepol atau yang sebelahnya (lupa namanya). Kenapa? Soalnya dagingnya lebih mateng, bumbu kacang dan bumbu kecapnya lebih mantap. Untuk harganya variatif, sekitar Rp 18.000 - Rp 25.000, sudah termasuk nasi, es teh, sop tulang bebek dengan sedikit berdaging. Enak banget ! Langsung kenyang .

Sate Bebek. Duh, gambar satenya ngeblur. Udah ga fokus soalnya, nahan laper.

3.        Es Durian (Purbalingga)

Siapa yang suka king fruit ? Saya ! Kalau kalian lagi liburan ke Purbalingga. Wajib banget buat nyicipin minuman nikmat ini. Apalagi kalau cuaca sedang panas terik. Letaknya di dekat Jembatan Klawing (daerah Bancar). Untuk harganya masih terjangkau kok, Rp 12.000 saja (kalau belum naik). Nah, di dekat warung es ini, tepatnya di depan Kantor Pengadilan, kita bisa menemukan warung Soto Bancar berjejeran. Kita bisa makan di bagian belakang warung dengan view Sungai Klawing. Kalau masih penasaran juga, ada lagi Soto yang lumayan enak, di Jatisaba. Jaraknya ga jauh dari Bancar kok, ya sekitar kurang lebih 2 km.

Es durian Purbalingga


4.      Mie Ongklok (Wonosobo)

Ada yang enak, ada yang biasa aja, ada yang ga enak. Makanan asal Wonosobo ini wajib banget dicoba buat kamu-kamu yang suka kuliner. Atau kalian yang berwisata ke Dieng, kan lewat Wonosobo tuh (kalo lewat sih), sempatkanlah buat nyobain Mie Ongkloknya. Jadi, mie ini kuahnya kental gitu. Biasanya makannya pake tempe kemul (tempe goreng) dan sate daging sapi. Enaknya adalah udara disana kan dingin tuh, apalagi kalau malam, mungkin karena deket gunung kali ya, cocok banget makan mie ongklok yang biasanya kuahnya hangat. Untuk harga mie ongklok murah kok, sekitar Rp 7.000 - Rp. 10.000 saja, yang mahal adalah satenya, sekitar 2 kali lipat dari harga mienya. Jadi , kapan mau nyobain mie ongklok ? Sedap loh ! 

Mie Ongklok. Syedap !
Ada lagi, wisata kuliner yang wajib kamu coba kalau sedang berada di pusat kota. Yaitu, makanan di sekitar Alun-Alun Wonosobo. Disana banyak makanan dijual. Ada es dawet (Banjarnegara punya nih), sate, tahu kupat, dan lain-lain. Alun-Alun Wonosobo pun tidak kalah indah untuk dijadikan tempat persinggahan kalian jika melewati Wonosobo. Selain, banyak pohon rindang, adem, rapi, dan ramai juga. Jadi, kapan mau ke Wonosobo?

Kupat Tahu, Dawet, Sate.

5.              Lontong Sayur (Mungkid, Magelang)

Sebenernya kesamaan antar daerah di Indonesia lebih banyak dibandingkan dengan perbedaannya kalau diteliti lebih jauh. Lontong sayur setahu saya hanya ada di Medan, Tapanuli, dan sekitaran Sumatera. Gak taunya, pas saya jalan-jalan ke Magelang, tepatnya Punthuk Setumbu. Setelah melewati Candi Mendut. Di daerah Mungkid, saya menemukan warung ini. Lontong berkuah santan dengan telor, kerupuk, dan sayur labu siam. 

Lontong Sayur


Intinya sih, kuliner di Jawa Tengah sangat banyak. Sangat beragam. Sangat berbeda, walaupun sedikit mirip-mirip. Terus kapan kalian mau berkunjung ke Jawa Tengah ? Cobain kulinernya. Cobain wisatanya. Udah bermimpi belum bisa mengunjungi  29 Kabupaten dan 6 Kota di Jawa Tengah ? Saya sendiri punya impian itu. Hanya saja, baru 9 dari 35 saja yang pernah saya kunjungi. Hahahaha J Setiap daerah punya keunikan dan keindahannya masing-masing. Maju terus Pariwisata Jateng. Pariwisata Indonesia !!! 

Nah kalo ini kuliner di rumah saya kalau Idul Adha.

Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Blog Jateng 2015. Semoga beruntung !! Buat kalian yang suka nulis, atau suka kuliner, ayo ikutan lomba ini, ayo ikutan berkompetisi. Makin ramai, makin mantap toh.

Banner Lomba 


Share:

April 08, 2015

Ke Telaga Kumpe Sampai Menjadi Anak Layangan

Waktu semakin habis di kehidupanku. Tanpa terasa sudah menginjak bulan ke empat di tahun 2015. Ada banyak harapan yang harus diraih. Harapan orang tua, saudara, sahabat, dan teman-teman tercinta menjadi dorongan yang harus saya wujudkan, menambah semakin besarnya harapan saya sendiri. Malam ini sambil mendengarkan lagu-lagu karya Banda Neira sekaligus melepaskan beban pikiran dan mental untuk bisa mewujudkan harapan terbesar yaitu wisuda di Bulan September tahun ini, Aamiin Ya Allah. 

Okeeee lebih baik menulis tentang keindahan Indonesia, daripada pusing menulis skripsi yang tak kunjung rampung dengan revisi dari dosen yang sangat super baik saat bimbingan dan sangat gampang sekali untuk ditemui. Dosen juga manusia kawan, bukan malaikat. Oke lupakan !

Intronya ga enak banget ya. hahaha. 

Jadi hari sabtu kemarin (4/4/2015). Saya dan teman-teman saya mengunjungi sebuah telaga di Desa Sambirata, Kecamatan Cilongok, Banyumas. Awalnya saya overestimate dengan pesona Telaga Kumpe. Melihat beberapa foto di Mbah Google dan blog orang begitu terlihat ciamik dan syahdu tempatnya, bahkan sampai-sampai mantan presiden Bapak SBY saja sudah pernah mengunjungi telaga yang satu ini (katanya sih). 

Berangkat dari rumah menjelang siang sekitar jam 11.00 WIB. Menuju kesana dari Purwokerto sekitar setengah jam untuk sampai di Pasar Cilongok. Tak jauh dari situ, akan ada pertigaan lalu ambil ke kanan menuju Desa Panembangan. Ikuti saja jalannya sampai mentok pertigaan lagi. Lalu ambil ke kanan sampai melewati jembatan, ada lagi pertigaan dan ambil ke arah kiri. Terus saja mengikuti jalannya sampai ketemu lapangan bola di sebelah kiri. Nah disitu ada perempatan kecil, belok ke arah kanan. Jalan pelan-pelan saja sampai ketemu dengan perempatan lagi, tepatnya SD N 1 Sambirata, silahkan ambil ke arah kiri. Setelah itu, jalanannya mulai banyak yang rusak dengan mulai menanjaki bukit. Terus saja ikuti sampai ke atas. Melewati gerbang berbentuk bambu berwarna kuning dengan vegetasi hutan pinus. Lebar jalannya kecil dan menanjak. Suasananya sepi dan masih alami. 
Gerbang menuju Telaga
Dari kejauhan, ada bangunan seperti pos penjagaan di sebelah kanan. Tampaklah kubangan air yang tak begitu banyak volumenya. Bah, saya terkejut. Airnya surut men. Hahahaha. Sayang sekali ekosistemnya sedang tidak terjaga. Rerumputan mulai meninggi di bagian tengah dan ujung telaga itu. Untuk pemandangan sebenarnya cukup menarik. Perbukitan dengan pepohonan hijau di sekelilingnya. Ditambah udara yang sejuk, tenang, dan terasa sekali rasa alamnya yang khas dengan suara binatang hutan. Cuaca saat itu sedikit mendung. Benar-benar syahdu. Lupa sudah dengan rutinitas sehari-hari. Lupakan hari senin berikutnya.

Telaga Kumpe
Pematang sawah. Hijau men. Liat warna kuning di perbukitan.
Tidak lama kami menikmati telaga itu. Berkeliling melewati hutan, area persawahan dengan bentuk terasering, hingga perkampungan. Di kejauhan dari tempat kami berhenti terlihat pohon dengan daun berwarna kuning seperti sedang musim semi. Keren sungguh. Sampai dengan jalan belum diaspal (masih berbatu), akhirnya kami memutar arah kembali. Melanjutkan untuk ke daerah Cipendok. Bukan menuju ke air terjunnya, tetapi berniat untuk mengunjungi peternakan sapi. Kenapa? Rekomendasi dari teman saya yang katanya tempatnya apik untuk dikunjungi alias hunting foto.

Melewati Desa Karangsari. Perjalanan menuju ke Cipendok jalanan mulus tanpa halangan. Saya senang sebab pemerintah sudah sadar memperhatikan akses jalan menuju obyek wisata. Eh, tak taunya, tidak sampai di atas men. Hanya sampai di bagian tengah saja. Jalanan selanjutnya kondisinya rusak parah. Aspalnya entah kemana, ada yang tinggal batu dan berlubang. Oke mungkin diperbaikinya bertahap, semoga.

Sampai di peternakan sapi. Hasilnya nihil, karena tidak sembarangan orang boleh masuk kesana dimana harus dengan izin kepentingan resmi. Jadi di peternakan sapi ini letaknya di perbukitan dengan rerumputan gitu, seperti bukit yang ada di serial Teletubbies. 

Peternakan sapinya yang bukit sebelah sana. Kalau bukit ini tempat memojokkan diri.
Akhirnya kami pun pulang. Belum jauh berjalan, ada beberapa motor terparkir di sebelah kiri. Langsung saja kami berhenti disitu berharap menemukan sesuatu. Menebak-nebak ada apa. Apakah warga desa sedang mencari rumput? Atau orang-orang sedang memojokkan diri? Ternyata sebuah dataran di atas bukit dengan pemandangan di sekitarnya yang luas. Di bawah sana dataran rendah yang luas. Di seberang, pohon dengan bunga berwarna kuning sedang bermekaran. Entah pohon apa namanya. Yang jelas, bunganya indah dan banyak tumbuh disana. Rupanya pula bunga inilah yang tadi kami lihat dari jauh. Kami menemukan pula tiga pasang hamba Allah duduk menikmati tempat itu. Dua pasang di antaranya berseragam SMA. Ajib men. Tempat mojoknya indah sih, mana sepi pula. Ada pula suatu adegan yang tidak harus saya lihat sebenarnya. Jadi tidak enak hati. Kedatangan kami sedikit mengusik mereka yang sedang duduk-duduk manis. Maaf ya hehehe.

Di atas bukit. Bunganya indah.

Entah bunga apa namanya. Mirip edelweis hehe.

Bukitnya keren kan. Main layangan di atas sini anginnya kenceng.
Tanpa tujuan. Kami melanjutkan jalan pulang melalui jalan yang berbeda. Masih di area peternakan sapi. Jalanan menurun. Saya melihat di atas bukit, ada anak-anak sedang bermain layangan. Sontak saya tertarik dengan aktivitas mereka. Kami pun menuju kesana. Bukit itu tidak terlalu tinggi. Sampai disana, anginnya lumayan kencang. Pemandangan sekitarnya menarik. Terlihat peternakan sapi yang dikelilingi pagar pembatas, lalu undakan bukit di sebelahnya, sampai dengan bukit yang tinggi di sebelah utara. Cuaca mendung dengan matahari sedikit kadang muncul. Saya mendekati anak-anak itu. Sok kenal bertanya-tanya. Mereka dengan malu-malu menjawab. 

Main layang-layang di bukit ini seru banget. Pengen lagi.

Kami bermain layangan bersama. Wahhh akhirnya bisa memainkan layangan dan merasakan menjadi kecil lagi. Benar-benar momen yang keren. Saya menjelma menjadi anak kecil lagi. Jadi layangan itu ada bagian yang menimbulkan suara pas terkena angin, bentuknya cukup besar, sayangnya benangnya tidak terlalu panjang dan bukan galasan, melainkan benang pancing hehehe. Maklum, layangan tersebut kreasi mereka sendiri. Mereka baik, ramah, kreatif, ceria, polos, berani dan sedikit pemalu. Semoga masa depan kalian sukses ya adek-adek! Aamiin . Setelah berfoto-foto banyak disana. Bercanda-canda. Seru-seruan. Kami pun pulang. Sebuah perjalanan yang benar-benar luar biasa. 

Jalan-jalan menikmati alam, bersosialiasi dengan orang baru, dan melakukan aktivitas yang tidak biasanya adalah nikmat yang harus selalu disyukuri. Terimakasih Tuhan ! Alhamdulillah, hidupku banyak asyiknya. Semoga masih diberikan waktu dan kesempatan untuk menikmati mahakarya Tuhan lainnya di belahan bumi lainnya, Nusantara-ku tercinta #INDONESIA.
Wefie dulu sama adek-adek

Share:

Maret 18, 2015

Trending Destination In Banyumas - Curug Nangga

Perjalanan kemarin, Saya, Yanu, Dika, dan partner Yanu berangkat pukul 9.00 WIB dari Purwokerto. Destinasi yang kami tuju adalah sebuah curug di sebelah barat Purwokerto yang lagi ramai dibicarakan sekaligus dikunjungi masyarakat umum di sekitaran Banyumas. Sepertinya Curug ini tidak mau kalah menunjukkan #PESONAINDONESIA-nya dengan Curug Telu dan curug-curug lainnya kepada publik. Curug Nangga namanya. Terletak di Desa Petahunan, Kecamatan Pekuncen, Banyumas. Jarak tempuh dari Purwokerto sekitar 30 km. Setelah melewati rumah makan Sumber Alam, ambil jalan ke kiri. Setelah memasuki jalanan ini, kontur jalannya mulai menanjak dan lumayan curam dengan lebar kira-kira 4 meter. Akan mudah menemukan petunjuk yang mengarahkan kita sampai dimana curug berada. Sampailah kami di tempat parkiran, cukup saja dengan membayar tarif parkir sebesar Rp 2.000 . Kemudian melanjutkan lagi dengan berjalan kaki untuk turun ke curugnya.

FYI - Tempat wisata ini baru dibuka 2 minggu lamanya. Dengan pertama kali dikenalkan oleh para pecinta alam di Banyumas yang akhirnya bisa dikenal banyak orang. Pengelola sendiri masih dikerjakan oleh warga desa sekitar yang sepertinya sudah dibentuk untuk mengembangkan kemajuan obyek wisata ini. Untuk rekor kunjungan per harinya mencapai 800 orang (7/3/15) dan sampai 2.000 orang (8/3/2015).

Akhir dari jalanan beraspal, kita akan membayar tarif masuk yang dipatok sebesar Rp. 3.000 . Masih berjalan kaki untuk menuju curugnya yang ternyata berada di sisi bawah bukit seberang. Jalanan menurun dan semakin menurun, dengan kontur tanah dan ada yang sudah disusuni dengan batuan oleh pihak pengelola.


Areal persawahan di sekitarnya
Curug mulai terlihat dari tempat saya berdiri. Tampak masih sangat kecil. Hamparan persawahan luas yang sedang menguning memberikan rasa Nusantara yang sedap dipandang mata. Di sepanjang jalan menuju ke curug, banyak warga yang berjualan makanan dan minuman. Ada pop mie, indomie, minuman kaleng, air mineral, mendhoan, dan lain-lain. Inilah multiplier effect yang dapat dicontoh oleh desa-desa lain di Indonesia. Potensi wisata memberikan manfaat yang baik bagi masyarakat sekitarnya.

Sampailah kami beberapa meter tepat di depan Curug Nangga. Saya menghitung, ada 7 tingkatan (tangga) pada curug ini. Tingakatan paling tinggi berada pada tingkatan pertama dan kedua. Untuk debit airnya cukup deras jatuh ke bawah, semakin melebar ke bawah, dan semakin rendah pula tingakatannya. Namun sayang warna airnya agak keruh (kurang jernih). Sejauh itu, tetap nampak eksotis dan cantik kok. Saat itu, pengunjung pun semakin ramai. Banyak rombongan anak SD dan kawula muda yang mulai mendatangi tempat itu.



Curug Nangga

Keren kan curugnya
Aliran sungainya banyak ditemukan batuan cadas. Sebuah jembatan kayu yang dibuat untuk menyebrangi antara daratan (bukit) untuk melihat lebih jelas curugnya. Dengan masih dikembangkan seadanya, banyak para warga yang bekerja membangun jalan, mematok batuan untuk membuat tangga, dan menggarap tanah untuk didatarkan. Jalanannya pun masih dikatakan susah untuk mencapai ke curugnya. Saya mendaki bukit itu dengan jenis tanah (lempung) yang basah dan licin. Memang sudah ada bambu yang dikaitkan pada sisi pohon untuk kita dapat berpegangan dan berjalan menuju ke curug paling atas. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hiruk-pikuk ketika curug ini dikunjungi ribuan orang seperti hari minggu kemarin.



Jalan menuju ke atas
Saya pun mengabadikan momen selama disana. Memotret land scape, pemandangan, dan merekam keindahan Curug Nangga.


Tngkatan kedua
Saya turun ke curug pada tingkatan yang kedua. Terdapat dua sisi air yang jatuh dari atasnya. Sebelah kiri lebih banyak volume airnya, sedangkan yang sebelah kanan lebih kecil. Banyak orang bermain-main dengan airnya. Ada yang sekedar duduk di tepian. Ada juga yang sedang piknik di atas batuan dengan air yang mengalir dangkal. Saya meninggalkan tempat itu dan melanjutkan ke curug paling atas. Untuk curug paling atas, volumenya lebih deras meski tidak setinggi curug yang kedua. Dari sini, kita bisa melihat pemandangan ke bawah dimana awal kita berdiri serta bukit awal dimana kita menuruni bukit. Kami tidak berlama-lama disana. Panas terik menyengat meski awan tebal menyelimutinya. Setelah puas berfoto dan berjalan, kami pun pulang. 
Tingkatan pertama

Perjuangan terberat yang kita dapatkan disini adalah ketika jalan pulang, kita akan mendaki bukit dengan rasa yang cukup melelahkan sekitar 20-30 menit untuk sampai ke parkiran. Jangan lupa untuk mampir ke warung warga sekitar untuk duduk, tegur sapa, minum ataupun sekedar beristirahat. Jangan lupa pula untuk mematuhi himbauan untuk tidak membuang sampah sembarangan selama disana. 


Penampakan bukit yang kita turuni untuk menuju curug dimana saya berdiri

Curug Nangga adalah salah satu curug yang ada di Kabupaten Banyumas. Masih banyak curug-curug lain yang bisa kita kunjungi seperti Curug Telu, Curug Moprok, Curug Lawang, Curug Cipendok, Curug Ceheng, Curug Gomblang, Curug Bayan, Curug Gede, Curug Pengantin, Curug Putri, Curug Aja, dan curug-curug lainnya yang belum teridentifikasi oleh saya di kaki Gunung Slamet dan tempat lain.

Ngapain disitu kalau ngerasa sedih

View dari ringkatan paling atas

Tingkatan ketiga dan keempat
Semoga dengan semakin terkenalnya curug ini, kedepannya semakin mempercantik fasilitas yang ada di tempat ini, seperti tong sampah, toilet, akses jalan yang mudah, dan mungkin dibuat gazebo untuk duduk/istirahat.
Share:

Serasa Kolam Pribadi di Curug Moprok

Edisi petualang waktu itu (28/02/2015), saya mengajak kakak saya dari Jekardah yang kebetulan lagi cuti kerja untuk ikut jalan-jalan bersama teman-teman kampus saya (baca:keluarga sosial). Keluarga sosial adalah akibat hubungan satu organisasi yang sama di kampus dan berujung kepada hubungan kekeluargaan. Sosial disini adalah job desk dalam organisasinya yang sudah masuk ke dalam 3 generasi. Mereka adalah Rizki, Dimas, Yana, Raka, Anggi, Wiwid, Kiye, Niswil, Yusma, Ambar, dan Nindy. Kami mulai kumpul pukul 8.00 WIB di Kampus Ekonomi tercinta dan mulai berangkat satu jam kemudian.

Melepas penat saat weekend adalah melupakan beban hidup yang harus diperjuangkan. Sedangkan menciptakan momen bersama orang-orang terkasih adalah sebuah kebahagiaan yang tidak terlupakan ketika kita memulai dan beranjak menuju dan bersama masa depan.

Destinasi kami saat itu adalah sebuah curug di Desa Karangsalam, Baturraden. Sampailah kami di parkiran yang sudah dikelola warga sekitar. Ada pula warung kecil di gubug menuju ke arah Curug Telu. Tetapi kami bukan menuju ke Curug itu, melainkan Curug Lawang yang berada di dalam gua. Kami berjalan mengikuti jalan setapak. Sampai mengarah ke arah Curug Telu, kami berbelok ka arah atas. Lalu seorang bapak-bapak, mengatakan kalau arahnya ke kanan (Curug Telu). Padahal kami bukan mau kesana. Lalu bapak tersebut mengatakan kalau ke Curug Lawang bukan melewati jalan tersebut. Kenapa kami ke arah itu, karena beberapa hari sebelumnya, ketika saya ke Curug Telu, saya ditunjukkan arah tersebut oleh seorang bapak-bapak yang sedang mengarit rumput di tangga yang menuju Curug Telu.

Saya melanjutkan perjalanan tanpa hirau dengan perkataan bapak yang kami temui. Kemudian jalannya mulai menaiki bukit, para cewek-cewek mulai risau mendengar ocehan si bapak tadi karena takut kesasar. Mereka ngoceh ini, itu, apalah, entahlah. Lalu saya dan Wiwid naik duluan ke atas buat meyakinkan jalan. Menanyakan kepada orang yang ada di gubug. Ternyata eh jalan itu bukan menuju Curug Lawang, tetapi ke Curug Moprok yang katanya ibunya sih cukup jauh sekitar 15 menit. Akhirnya saya dan Wiwid memutuskan untuk menuju curug tersebut yang memang sudah kami incar sebelumnya.

Jadi  begini informasinya. Desa Karangsalam itu salah satu desa di Kecamatan Baturraden yang memiliki potensi alam yang cukup melimpah. Terletak di bawah Gunung Slamet. Yang jelas di ketinggian beberapa ratus mdpl. Disana kita bisa melihat sky line Purwokerto. Ada pendopo yang dibangun untuk melihat pemandangan alam di bawahnya. Katanya juga, tahun lalu salah satu desa yang dapat PNPM untuk pengembangan dan kemajuan desa. Tentunya areal persawahan banyak ditemukan disana. Ada pula kandang sapi dan ayam. Sungai yang megalir dari hulu Gunung Slamet sehingga banyak ditemukan air terjun (baca:curug). Diantaranya Curug di dekat hotel (gatau namanya), Curug Putri, Curug Telu, Curug Lawang, Curug Moprok, dan curug lainnya yang belum saya dengar informasi keberadaannya. Saya memang melihat potensi wisata alam dan agrowisata di desa ini. Perlunya pengembangan pihak desa, masyarakat dan pemerintah untuk bisa mewujudkan desa ini seperti desa wisata yang sudah berkembang dengan tetap menjaga kelestraian alam dan ekosistemnya meski kehidupan modern mendegradasi, seperti Kampung Naga (Garut).

- Kembali ke cerita -

Curug Moprok
Kami melewati jalanan yang menurun. Harus hati-hati dan waspada melewatinya sebab jalan tersebut masih jalan tikus. Tepat di pinggir daratan (bukit) yang sebelah kanannya jurang. Banyak pohon bambu dan jenis tumbuhan hutan tropis. Terdengar suara aliran sungai di bawah jurang. Sampai terus mengikuti jalan setapak sampai ketemu di ujung sungai. Dilanjutkan menyusuri sungai sekitar 150 meter lagi. Sungainya tersusun dari batu-batuan di sepanjang alirannya sehingga kita bisa memilih untuk berjalan melewatinya. Hati-hati menapaki batuannya, karena banyak yang ditumbuhi lumut sehingga licin untuk diinjak. Akhirnya 15 menit dengan lebih 20 menit kami sampai di Curug Moprok dengan perjuangan yang luar biasa. Sebenarnya tidak terlalu jauh untuk menyusuri jalan setapak dan sungainya. Hanya saja, kami saat itu lebih banyak ceweknya jadi harus jalan pelan-pelan dan banyak istirahat. Selain itu, kami lebih banyak bercanda karena kejadian dan momen yang terjadi. Ada yang kepleset, ada yang digigit lintah, ada yang kecebur, ada yang dicengin dan pastinya ada juga yang diketawain.

Di atas batu yang paling gede
Tampak dua bagian air jatuh dari ketinggiannya yang lumayan. Air terjun  di antara tebing yang ditumbuhi sejenis tumbuhan lumut dan paku. Dari kejauhan, air terjunnya terlihat lurus dan ramping. Kami semakin berjalan mendekati curug itu. Pada bagian kanan, ada batu besar menjulang tersusun. Di tempat kami berdiri batu-batu yang ukurannya kecil dan sedang seolah menyumbat aliran air sehingga mencembung seperti kolam yang lumayan besar ukurannya. Air terjunnya jatuh ke bawah menimpa batu-batu yang tersusun di bawahnya pula. Terlihat juga air muncul dari belakang tumbuhan lumut di bagian kiri bawah. Dari tempat kami berdiri, debit airnya tidak begitu deras. Tak lama, Saya dan Dimas  berenang-renang disitu. Wooow...airnya sungguh dingin. Tenang dan dalam. Entah kedalaman berapa meter. Yang jelas rasanya seperti kolam alami. Saya pun hanya membasahkan badan sebentar sebab tidak kuat berenang berlama-lama. Mengapungkan badan ke atas, melihat-lihat #PesonaIndonesia , melupakan keseharian yang memuakkan dan merasakan ketenangan.
Di bawah curug

Lalu saya mencoba mencapai ke bagian tepat di bawah air terjun itu. Batuan disini lebih licin dibanding batu yang kami lewati sebelumnya. Mungkin akibat endapan mikro organisme yang menempel pada sisi batuan sejak dahulu kala. Dari bawahnya baru terlihat deras air yang jatuh dan berterbangan ke penjuru sekitarnya. Ada efek pelangi kecil yang muncul. Saya merasa menggigil karena kedinginan. Sepertinya lemak jenuh di tubuh saya belum banyak tertimbun.


Keluarga Sosial :*
Langit terlihat mulai mendung. Kami pun beranjak meninggalkan curug yang cantik itu. Sungguh puas dan ingin berlama-lama berada disana. Banyak pelajaran yang saya temukan di perjalanan kali ini :
  1. Kita akan melihat mana orang yang peduli terhadap orang lain dan alam semesta.
  2. Kaum adam akan ternilai seberapa besar tanggung jawab mereka ketika dihadapkan dengan keberadaan kaum hawa ketika di luar zona nyaman yang tidak bisa diduga sebelumnya apapun bakal terjadi. 
  3. Perjalanan akan menentukan sikap yang harus diambil seperti harus menyabarkan diri sendiri maupun orang lain, terlebih dengan keluhan dan ocehan orang-orang yang tidak dapat (baca: kurang mampu) bertahan di luar zona nyaman mereka. 
  4. Kesadaran dan mawas diri dalam setiap perjalanan harus dipersiapkan dengan matang, seperti kesahatan, P3K, dan pakaian yang membuat nyaman ketika akan mengunjungi tempat yang akan kita tuju.
  5. Kita bisa menilai mana orang yang memiliki karakter dan passion yang sama dengan kita, contohnya apakah mereka tipe petualang beneran atau bukan.
  6. Banyak lintah disana. Jangan lupa bawa garam/tembakau. Saat itu kami tidak bawa apa-apa, pulang-pulang banyak lintah yang nempel di kaki. Itung-itung donor darah hehehe.




Share:

Piknik ke Curug Telu

Edisi jalan-jalan kali ini, setelah lama untuk merencanakan untuk pergi ke curug ini akhirnya kesampean juga setelah perjalannya sebelumnya sempat kesasar muter-muter di pematang sawah, naik bukit turun bukit, menyusuri sungai, dan sampai digigit lintah. Cerita kali ini ditemani dengan teman kuliah saya saat mendaki Gunun g Prau, Dieng.

Malam harinya pukul 23.xx WIB, sms dari Atikah ngajakin piknik ke curug telu. Kumpul jam 7.00 pagi on-time di kosannya bareng temen-temen kelasnya. Esok paginya, dia telepon lagi ngebangunin saya dan bilang kalau semuanya sudah kumpul. Dengan mata masih sembab dan mengantuk, dengan sedikit terburu langsung cuci muka dan gosok gigi, tanpa mandi, dan langsung membawa perlengkapan mandi untuk mandi-mandi di curug. Sampailah di kosan Atikah. Buset. Masih sepi broh. Terlalu. Saya dibohongin sama Atikah, dengan alasan saya sering kesiangan dan datang telat. Kita duduk di depan kosan nungguin temen-temen lainnya yang ada masih di jalan, baru bangun, lagi mandi, dan lagi bungkusin makanan buat kita makan nanti.

Akhirnya kita berangkat pukul 8.30 WIB, dengan beberapa adegan ngambek-ngambekan oleh seorang tersangka acara piknik kita hari itu akibat yang lainnya datang on-time dengan kita jemput dahulu ke kosannya. Hari itu hari jum’at juga. Jadi waktu untuk melaksanakan Jum’atan menjadi pertimbangan kesiangan dan nyatanya kami berangkat sungguh siang sekali.

Jarak menuju kesana memang tidak jauh, sekitar 30 menit perjalanan motor. Dari arah Purwokerto menuju Baturraden, sebelum pintu gerbang, kita belok kanan mengikuti jalan, sampai ketemu pertigaan sebelum SMP Karangsalam, belok ke kanan menuju ke Desa Limpakuwus, ketemu lagi pertigaan ambil ke kiri dengan jalanan sedikit menanjak, terus mengikuti jalan, acuhkan pertigaan jalan setelah lapangan, lurus terus sampai ketemu kandang sapi di sebelah kanan, naik sedikit, ambil ke kanan dengan jalan masih berbatu dan tanah, ikuti terus jalannya sampai ujung jalan. Kedua kalinya saya kesana, warga sekitar sudah membuatkan jalan menuju curugnya, membuat tempat parkir untuk kendaraan kita dengan tarif Rp. 2.000 saja dan ada pula warung kecil yang berjualan disana.

Kembali ke cerita pertama. Sampailah kami di Desa Karangsalam. Ya, sebuah desa di Kecamatan Baturraden yang memiliki potensi alam yang melimpah. Saat itu, kami memarkirkan motor kami di pinggir jalan sebelah rumah warga. Lalu melanjutkan perjalanan darat sekitar 15 menit untuk menuju curugnya setelah bertanya ke petani yang sedang bekerja di sawah.

Jembatan kecil
Orang-orang yang kami jumpai pun sangat baik dan ramah. Setiap kami bertanya, selalu diberikan jawaban terbaik mereka. Bahkan kami diantarkan menuju jalan kesana oleh ibu-ibu yang sedang menggarap sawahnya. Ibu itu bilang, kalau kemaren ada juga rombongan dari Surabaya yang datang ke curug ini.

Kolam di bawah jembatan
Akses Tangga PDAM
Melewati sebuah jembatan kecil. Lalu berbelok ke arah kanan, dengan fasilitas tangga milik PDAM kami menuruni tangga tersebut. Cukup curam juga menuju ke bawah sana. Nampaklah, air deras mengalir dari atas sebelah kiri. Makin ke bawah, makin tampak aliran sungai itu. Sebelah kanan, ada juga air jatuh mengalir dengan kubangan air yang cukup dalam. Batu-batuan besar. Sebuah pipa air minum ada di sisi atas tempat kami berdiri. 



Curug dekat tangga




Curug Bagian Belakang
Jadi di tempat ini, ada tiga air terjun mengalir di sekelilingnya mengalir. Mungkin inilah filosofi dinamakannya “Curug Telu”. Sudah tidak sabar. Kami turun menuju tepian batu-batu itu. Keren sekali suasananya. Di belakang kami, air mengalir dengan debit air paling kecil. Air terjun yang paling utama tepat di depan kami. Lumut hijau terlihat di sisi tebing air terjung dengan air mengucur pula dari baliknya. Di sebelahnya lagi, ada sebuah gua kecil dengan bongkahan batu besar di mulutnya.

Curug Utama
Kami sudah tidak sabar merasakan air sungai itu. Brrrrr. Dingin sekali rasanya. Okeee. Tanpa berlama-lama, saya langsung mengganti pakaian saya dan menceburkan diri ke dalam sungai. Airnya dingin seperti es. Kubangan airnya tidak terlalu luas, kedalamannya tidak tahu seberapa dalam karena saya tidak sempat menyelam ke dasarnya, yang jelas airnya sangat hijau dan dingin. Mungkin kalau saya niat dan menyelaminya akan menemukan istana dengan para pengawalnya di bawah sana hahaha. Sayangnya saya kurang berani berenang ke arah jatuhnya air terjun, sebab airnya cukup deras dan suasana disana sepi sekali. Masih jarang didatangi orang waktu itu. Perasaan saya juga antara hati-hati dan mawas diri. Soalnya yang mandi hanya saya, yang lainnya masih asyik berfoto-foto. Hanya ada kami bertujuh saat itu.

Tanpa lama-lama, kami pun makan. Di antara kami, ada yang membawa nasi, mie goreng, ikan asin, air minum dan sambal. Kami menikmati makan pagi di atas bebatuan sambil ditemani suara air mengalir. Sungguh nikmat sekali. Setelah makan. Kami bermain-main disitu. Ada aliran sungainya yang kecil dengan batu-batuan besar. Berfoto-foto dengan gaya kalender tahunan, itu para cewek-cewek. Kalau saya, lebih merekam video dan menjepret  #PESONAINDONESIA yang saya dapatkan disana. Tak berlama-lama kami menikmati curug itu, pulang membawa sampah dan kenangan sebelum waktu jum’atan tiba.
Gambar pada Februari 2015. Sudah ramai dikunjungi orang-orang.




Share:

Menyasar Ke Entah Berantah : Curug Aja

Meski skripsi jalan tersendat-sendat, namun kalau masalah jalan-jalan beneran, bagi mahasiswa itu sangat menggairahkan sekali. Tak hayal, virus jalan-jalan sekarang sudah meracuni banyak keinginan orang. Banyak motif di balik mereka menyukai jalan-jalan. Ada yang pengen update status, pamer foto, menunjukkan eksistensi, menghilangkan penat, dan lain-lain. Kalau saya sendiri motifnya, pertama memang saya suka jalan-jalan, dengan alasan, Tuhan sudah menciptakan alam indah teramat indah, so sayang banget kalo gak dinikmatin gitu aja, selain itu, saya suka jadikan bahan tulisan di media online atau blog. Kebetulan, kala itu saya sedang dirundung dengan kewajiban skripsi yang sungguh memuakkan pikiran saya. Akhirnya, tanpa pikir panjang, seraching tempat wisata alam di sekitar kota saya. Menemukan blog bagus yang mengulas tentang Curug di Kabupaten Banyumas. Semua blognya membahas tentang beberapa curug di Banyumas yang menurut saya ada beberapa yang menarik di pikiran saya. Saya langsung mengajak teman saya. Mereka adalah Yanu, Atikah, dan Tia.

Kami kumpul pukul 9.00 WIB di kosan Atikah. Kami berangkat menuju Desa Karangsalam, Baturraden. Sampailah di titik terakhir kami memarkirkan motor. Saat itu, kami menitipkan motor di kandang sapi. Lalu kami bertanya kepada warga sekitar menuju Curug Telu. Kami diberitahukan dengan kakek tersebut sampai dengan menuju persawahan. Lalu mengikuti perjalanan dengan feeling saja. Setelah sempat menuruni sawah, nampaklah sebuah air jatuh mengalir di seberang tempat kami berdiri yang sepertinya dari sawah. Kami mengira itulah curugnya. Namun, setelah bertanya ke petani yang kami lewati ternyata bukan. Kami bertanya lagi dengan seorang bapak dan ditunjukkan jalan yang benar untuk menuju kesana. Menyusuri bukit, menuruni lembah, setelah melewati sawah yang sebelumnya kami telah salah jalan.

Kami mengira curugnya ada di antara tebing nan jauh disana
Ini salah satu dari beberapa pipa yang ada disana
Sampailah tepat di pertigaan, dengan menggunakan feeling, kami menuju ke arah kanan, bukan lurus! Di ujung cerita blog yang saya baca, untuk menuju curugnya, kita akan bertemu dengan pipa PDAM lalu menyusuri sungainya. Horayyyyy. Disitu kami menemukan pipa PDAM. Tetapi belum mendengar suara curungnya. Kami tepat di bibir sungai yang mengalir. Apakah kami menyusuri sungai ke arah atas atau bawah? Awalnya saya meyakini ke arah atas, namun sedikit ragu. Atikah lebih meyakini ke arah bawah. 


Di ujung jalan
Akhirnya kita nyebrangin itu sungai, karena melihat bekas jalan di seberang bukit. Menaiki bukit itu lalu mengikuti jalannya. Kami tersesat kawan. Masa iya terus menanjak ke bukit itu. Tanpa diduga, Tia melihat sesuatu di kaki Yanu. Eh ternyata seekor pacet kecil yang imut nan lucu. Hahahaha. Si Tia malah sedikit ketawa ngeliatnya. Gile emang si Tia. Saat itu, kami tidak membawa bekal P3K. Waduh, kacau juga. Yanu sudah panik. Saya pun mencabut pacetnya setelah kami menimbang dan memutuskan untuk melepaskan pacet tersebut dengan persetujuan Yanu. Eh setelahnya, darah kental keluar megucur di kaki Yanu. 


Antara tersesat dan menyesatkan diri ini mah
Yanu makin panik kekurangan darah kotor akibat disedot lintah dan ditambah kebutaan jalur untuk menuju ke curug yang kami tuju. Kami sudah terlanjur tersesat. Menikmati momen tersesat yang sedang terjadi. Toh kami masih di Baturraden. Bukan di hutan Kalimantan ataupun Amazon. Kami menyusuri bukit itu yang semakin menanjak. Dengan perbincangan yang panjang, kami memutuskan untuk kembali ke bawah dan menyusuri sungai itu saja, karena saya melihat sungai itu tidak dipenuhi air, banyak batuan yang bisa kami lewati.

Itu curugnya
Kami pun menyusuri sungai itu dengan masih penuh semangat menuju Curug Telu. Batu-batu dan pasir memenuhi aliran sungai itu. Aliran airnya hanya di satu bagian sisinya saja. Lalu ada tanaman liar yang sedikit rusak tepat di tengah daratan tengah sungai dengan bekas terkena banjir (air pasang). Saya berjalan di depan sendiri untuk memastikan keberadaan curugnya. Jarak dengan Yanu dkk sekitar 30 meter. Mereka malah berfoto-foto cantik di tengah daratan itu. Saya pun mendengar aliran air jatuh dari atas bukit. Saya pun teriak, bahwa saya menemukan curug. Entah curug apa namanya, airnya tidak terlalu deras,tapi tingginya lumayan. Tidak langsung jatuh ke sungai, tapi di dinding bebatuan, yang dipenuhi pohon bambu di sekitarnya. Mungkin itu curug yang airnya dari sawah di atas sana. Sampailah Yanu dkk di tempat saya.  Kami pun berfoto-foto dan menamai curug itu dengan nama “Curug Aja”. Filosofinya ? Entahlah, pokoknya ya curug aja.


Curug Aja
Hari sudah sangat siang. Kami tak lama berada disana, sebab sudah lelah berjalan sepanjang perjalanan. Kami menyebrangi sungai tak begitu dalam. Melewati ladang-ladang dan sawah. Hingga bertemu lagi dengan, sebuah gubug dengan pertama kami salah jalan tadi. Eh saya pun berpikir, Tuhan belum menjodohkan keberuntungan kepada kami untuk menuju Curug Telu, sebab dari awal kami sudah ditunjukkan curug yang kami datangi, tak taunya kami justru beneran menuju kesana. Kami pun pulang dengan perasaan masih penasaran, lalu bertanya kepada bapak-bapak dimana arah dan jalan yang tepat. Si bapak mau mengantarkan kami ke Curug Telu, namun kami sudah kecapekan, dan akan mencobanya di lain hari.





Share:

Instagram