Desember 07, 2017

Ke Banjarnegara, Yuk Mampir ke Pabrik Keramik Klampok


Gampang tapi susah, harus latihan berulang-ulang kek hidup. Butuh proses agar ngebentuk.
Mau melihat proses pembuatan keramik secara langsung di pabriknya? Atau belajar membuat keramik untuk menambah keahlian? Seru banget loh berwisata ke galeri dan pabrik keramik seperti agenda kami saat Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara beberapa waktu lalu.

Terletak di sebelah barat Banjarnegara sekitar 30 km dari pusat kota. Tepatnya di Kecamatan Klampok Purwanegara, terdapat kawasan UMKM alias sentra keramik yang telah berdiri sejak puluhan tahun silam bahkan hasil produksinya sudah dipasarkan hingga ke mancanegara. Sangat mudah untuk menemukan sentra keramik ini. Berada di Jalan Raya Klampok, sebelah kiri jalan, bangunan tinggi dengan bentuk poci di atasnya berarti anda sudah menemukan Usaha Karya Keramik Klampok. 
 
Galeri bagian depan
Galeri keramik ini menjual berbagai jenis keramik bermacam bentuk dan ukuran. Guci, hiasan dinding, vas bunga, souvenir, patung berbentuk gajah yang termasuk produk pertama kali pabrikan Klampok, dan kerajinan lainnya. Galeri keramik ini nyatanya tidak hanya menjual produk pabrikan Klampok saja, tetapi dari berbagai daerah di Indonesia.
 
Suka sama keramik ini. Membati coy. Budaya Indonesia banget kan.
Memasuki galeri milik Bu Yanti, kami peserta famtrip #BanjarnegaraAsyik memperhatikan bermacam model keramik yang dipajang. Pada ruangan depan, lebih banyak ditemukan keramik guci dengan ukuran yang variatif dan hiasan ruangan berbagai bentuk. Pada bagian dalam galeri, terdapat rak berisi produk keramik seperti asbak, keranjang kecil, pot, piringan, tatakan satu set poci dan gelasnya. Pada ruang ini, produk keramik berwarna kecoklatan mendominasi. Lanjut ke ruang ketiga, di mana lebih diisi dengan produk vas bunga, cawan, tempat duduk, dan pernak-pernik souvenir berukuran kecil seperti mobil, asbak berbentuk bebek, rumah-rumahan, dan sebagainya.
 
Poci siap kirim
Menariknya, kami juga sempat mengunjungi dapur pembuatan keramik yang letaknya tidak jauh dari galeri tersebut. Di lokasi pabrik, Bu Yanti menjelaskan cara proses pembuatan keramik dari bahan dasar berupa tanah liat hingga menjadi produk jadi yang siap dipasarkan. Saya melihat ada beberapa pengrajin yang sedang bekerja. Ada yang melakukan finishing glasir, membuat tutup poci, mengukir keramik, dan mengangkat keramik yang sudah kering dijemur. Sangat berkesan sekali berada di tempat ini. Melihat langsung proses pembuatan keramik oleh sang ahlinya.
 
Membuat tutup poci
Singkat cerita, awal mula keramik ini merupakan peninggalan pemerintahan kolonial. Maka lazim bila model keramiknya mendapat pengaruh model keramik Belanda. Lantas Usaha Karya Keramik Klampok ini didirkan oleh Bapak Masrundari Sunarno tahun 1969. Beroperasi 25 tahun kemudian, tahun 1994, Bu yanti melanjutkan usaha tersebut sepeninggal almarhum ayahnya. Kini pabrik yang diemban Bu Yanti sebagai generasi kedua memiliki 100 orang pekerja. Setiap bulan, produksinya dapat menghasilkan poci sebanyak 40.000 buah. Raupan  omsetnya pun cukup lumayan karena didistribusikan hingga ke pasar global seperti US, Arab, Afrika dan Asia.

Strategi yang dilakukan Bu Yanti dalam merambah pasar global adalah mempelajari kultur negara yang akan dimasukinya. Sebagai contohnya Jepang,  negara Asia Timur ini lebih menyukai keramik yang minimalis tetapi fungsional. Sedangkan pasar US biasanya lebih prefer ke keramik bernilai seni yang dapat mempercantik interior ruangan. Kemudian cara memasuki pasar US adalah bekerjasama dengan Pier1, sebuah perusahaan handicraft terbesar di Amerika. Untuk sekali pemesanan bisa mencapai 7 unit kontainer.

Keberhasilan usaha keramik ini bukan tanpa usaha yang optimal tentu dengan selalu menjaga nilai-nilai terdahulu. Seperti melestarikan ciri khas utama keramik ini dalam hal bentuk ukiran, ciri utamanya ialah berlubang tampak tegas dengan warna dasar cenderung gelap. Kelebihan lain yang dimiliki adalah kualitas keramiknya yang termasuk  tembikar dengan kualitas keras standar dunia. Sebab sudah terbukti akan produk impornya yang tetap awet atau tidak mudah pecah jika berada di negara bermusim dingin.

Bicara soal kompetitor, dalam 4 tahun terakhir, Vietnam menjadi kompetitor utama dengan keunggulan komparatif pada harga yang relative lebih murah. Hal ini setelah dikunjungi oleh Bu Yanti, faktanya efisiensi biaya pabrikan gerabah di Vietnam sangat ditekan karena mereka masih menggunakan pembakaran tradisonal di mana oven untuk membakar produk keramik dibuat di lereng-lereng gunung yang dikeruk seperti tatakan kayu bakar dan tempat pembakaran keramik. Sementara kalau di pabrikan Klampok sendiri sudah menggunakan sistem pembakaran modern. Pengunaan gas dan mesin oven yang memerlukan perawatan secara berkala, sehingga costingnya lebih besar.

Cara Pembuatan Keramik
 
Bahan utama pembuatan keramik adalah tanah jenis lempung. Tanah ini harus mengandung fesfat, kaolin, dan silika. Material bahan baku didapatkan dari daerah tetangga seperti  Ajibarang, Wonosobo, dan Kebumen. Ada dua cara dalam pengolahan tanah liat yakni diendapkan dan dilumatkan menggunakan mesin. Untuk pengolahan pabrikan Klampok memakai cara diendapkan terlebih dahulu sehingga material yang dipakai sari tanahnya saja. Tentu ini akan menghasilkan kualitas produk yang terbaik pula.
 
Setelah diendapkan, bahan baku ditiriskan menjadi dua jenis yang teksturnya keras dan lembek. Untuk bahan baku keras digunakan untuk membuat keramik seperti patung atau hiasan dinding. Sedangkan yang bertekstur lembek untuk bahan membuat poci. Dalam pembuatan keramik, ada tiga teknik yang dapat digunakan. Diantaranya teknik dengan menggunakan alat pemutar, teknik cetak, dan teknik pilin. Bahan baku tersebut dibuat dengan tiga alternatif teknik pembuatan untuk membuatnya menjadi suatu barang produk.
 
Terakota Poci. Keren ya warna aslinya.
Setelah menjadi terakota (berbentuk), dilakukan penjemuran selama dua hari agar bahan mengeras. Kemudian dilakukan pengukiran sesuai motif tertentu, baru diamplas agar menjadi halus. Langkah selanjutnya adalah finishing glasir (pemberian warna dasar umumnya coklat kemerahan). Namun ada pula glasir dengan memakai kulit telur, pecahan kaca, gedebok pisang, dan sebagainya tergantung kreativitas atas produk yang akan dihasilkan. Disinilah arti seni membuat keramik, terserah pembuatnya melakukan apapun yang penting kreatif. Selesai diglasir, tahapan lain adalah mewarnai dengan cat. Langkah terakhir kemudian pembakaran selama 15 jam dalam suhu mencapai 900-1100 derajat. Jadilah sebuah produk keramik dengan proses yang cukup panjang.
 
Oven pembakaran.
Usaha Karya Keramik Klampok utamanya memproduksi poci mencapai 90% keseluruhan produknya. Selain diekspor, pasar dalam negeri biasanya bekerjasama dengan perusahaan brand minuman teh. Poci tersebut digunakan sebagai alat media penjualan minuman teh ketika melakukan promosi oleh perusahaan. FYI juga nih, poci-poci yang terkenal di Tegal pun produknya buatan pabrikan Klampok loh.

Sentra keramik Klampok ini pula sering didatangi pengrajin dari berbagai daerah untuk belajar langsung menggali kelebihan yang hanya ada di pabrikan Klampok. Pemerintah pusat juga sering mengirimkan pengrajin untuk pemberdayaan dalam mempelajari pembuatan keramik Klampok yang masih menggunakan sistem tradisional dalam proses pembuatannya seperti penggunaan alat pemutar. Selain itu, kunjungan anak-anak PAUD hingga mahasiswa pun dapat melakukan pelatihan pembuatan keramik secara langsung di pabrik. Hal ini bertujuan untuk menumbukan kreativitas dan melatih kewirausahaan mereka. Jadi, kapan kamu mau berkunjung ke sentra keramik Klampok. Penasaran dong? Yuk datang ke jantungnya Jawa Tengah, Banjarnegara!
Share:

Desember 06, 2017

Lanskap Apik Dari Bukit Scooter

Bangun pagi berada di daerah dengan suhu udara yang rendah terkadang membuat badan kita terasa mager (malas gerak) dari tempat tidur. Ibarat selimut menjadi kawan terbaik. Terlebih merasakan suhu dingin yang tidak biasa. Hal ini saya alami ketika menginap di D'Qiano bersama konco-konco famtrip Banjarnegara. Pagi buta kami hendak melihat sunrise (rencananya) di sebuah bukit di Desa Karangtengah, Dieng Kulon, Banjarnegara. Sebab akibat mager dan menunggu satu sama lain, kami pun berangkat dari penginapan setelah cuaca sudah terang benderang. Ya its better to late than never.

Peserta famtrip yeay. Halo gaes.
Matahari sudah keluar di ufuk timur. Kami tetap semangat menuju lokasi hiking. Bukit yang kami tuju bernama Bukit Scooter. Sebuah bukit yang menghadap ke lembah dataran Dieng di mana candi Arjuna dan rumah-rumah warga terlihat mini. Hiking untuk sampai ke atas bukit membutuhkan waktu sekitar 10 – 15 menit. Melewati jalanan setapak lalu menanjaki perkebunan milik warga.

Apik lanskapnya
Menaiki bukit ini cukup membuat denyut jantung saya memompa lebih kencang dan mengeluarkan sedikit keringat. Ya karena saya sudah lama tidak berolahraga. Beruntung saja saya membawa air mineral dari bawah. Duduk dan menghirup udara segar. Paru-paru terisi udara bersih. Disambut hangatnya mentari. Suara-suara alam yang enak terdengar. Momentum alam yang begitu epik. Seketika mata dimanjakan dengan keindahan dan pesona Dieng dari ketinggian di kala aktivitas masyarakat mulai bingar.

Sampai di atas bukit, lanskap yang terlihat begitu luas sekali. Gunung di depan saya entah Sumbing atau Sindoro, sepertiga bagian puncaknya terlihat menyombong. Areal perkebunan dengan tanaman sayur-mayur dimana-mana. Lantas di bawah sana, rumah-rumah warga sangat padat berbatasan dengan perbukitan. Di sebelah barat, kepulan asap putih keluar di satu titik panas bumi. Diapit perbukitan jua, namun tertutup lebih banyak, ujung puncaknya saja yang meruncing ke atas. Kalau tidak salah itu adalah Gunung Slamet, gunung tertinggi di Jawa Tengah.

Model hits sebut saja Mba Nuniek (Blogger Kece)
Langit mulai cerah. Seberkas cahaya meliputi ruang di ujung sana. Aku mengamati embun mengumpul di bagian atas rerumputan hijau di tempat itu. Tidak lama kemudian, sang surya menampakkan bayangan silau amat terang. Bukan lagi berwarna oranye tetapi sudah terlihat kuning pucat. Seperti matahari bermuka bayi yang ada dalam film telletubies. Seketika Menari-nari dan diakhiri dengan adegan berpelukan. Eh apa ini? Wes lupakan. Lihat saja pemandangan apik dari Bukit Scooter.


Liat rumputnya, epik ya fenonema alamnya (IMHO)
Di area bukit ini, ada bangunan semi permanen seperti gardu pandang yang sudah usang kayunya. Dua tempat duduk untuk beristirahat. Properti selfie berbentuk hati dan juga semacam gadang dengan atap ijuk. Mungkin untuk tempat meneduh. Kesan yang didapatkan tentu keindahan alamnya. Kami memang tidak mendapatkan sunrise yang sepantasnya akan lebih berkesan lagi momennya. Tapi ini cukup berkesan kok. Sebab tidak ada pesona keindahan alam yang tidak membuat mata menatap lebih lama akan pesonanya. Pokoknya berada di atas Bukit Scooter ini bisa jadi destinasi yang mudah kalian kunjungi ketika berlibur ke Dieng. Treknya masih cukup bersahabat, jika dibandingkan hiking ke Bukit Sikunir apalagi ke Gunung Prau. Salam Pesona Indonesia. Yuk jalan-jalan gaes. 


Taraaaaaa. ada selfie spot berbentuk hati. Jangan main hati disana ya.
Famtrip Blogger dan Media diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara
Share:

Asiknya Berendam di Hotspring Waterpark D'Qiano

D'Qiano Hotspring Waterpark
Kalau di Jepang berendam di kolam air panas sudah menjadi budaya sehari-hari. Tinggal datang ke onsen saja. Berendamnya pun tidak menggunakan sehelai kain. Ini tentu ada artinya yaitu setiap orang yang berendam memiliki kedudukan yang sama, sebab pakaian sebagai kebesaran dan harta bendanya dilepaskan terlebih dahulu sebelum berendam dalam onsen. Mereka pun percaya dengan berendam di air panas dapat menyembuhkan berbagai penyakit selain sebagai media rileksasi dan penghilang stress.

Bicara soal pemandian air panas di Indonesia mungkin kita hanya bisa menemukan di daerah tertentu yang memiliki sumber air panas yang biasanya di dekat gunung api. Sebelumnya saya pernah mencoba mandi di bawah air panas yaitu di Baturraden dan di area dekat Kawah Ijen. Nah, beberapa minggu kemaren, saya menemukan tempat pemandian air panas ketiga yang berada di Desa Kepakisan, Batur, Banjarnegara. Hotspring waterpark D’Qiano namanya. Sumber panasnya berasal dari panas bumi Kawah Sileri. Kawah ini sempat booming di pertengahan tahun 2017 karena berita ledakannya yang tersebar dalam video rekaman amatir yang viral di sosial media hingga diliput media televisi.

DQiano memang letaknya dekat dengan kawah. Bersinggungan hanya sekian ratus meter saja. DQiano sendiri merupakan homestay dengan fasilitas hotspring waterpark. Ada beberapa jenis kolam dengan tingkatan mulai dari yang sangat panas sekali hingga ke suhu kehangatan yang paling rendah. Kolam untuk relaksasi, kolam untuk berenang orang dewasa, dan kolam untuk anak-anak.

Awalnya saya mencoba kolam dengan tingkatan paling panas. Baru mencelupkan kaki saja, sudah tidak tahan. Panas banget cuy, entah berapa derajat. Saking panasnya, uap airnya nampak seperti molekul yang berterbangan ke atas berwarna keputihan. Terdapat dua kolam dengan tingkat panas level atas. Kolam ini berbentuk heksagon dengan diameter sekitar 4 meter. Letaknya berada di ujung dekat kamar ganti.

Kolam dengan level panas tingkat dewa, eh tingkat tinggi
Kemudian saya mencoba kolam yang lebih luas ukurannya. Berbentuk seperti kolam renang pada umumnya. Terbagi menjadi dua tingkat kedalaman. Untuk suhu air di dalam kolam ini terasa lebih nyaman dibanding dua kolam sebelumnya. Berenang asik dan rileks. Mineral air terasa masam ketika mengenai mata. Berbeda ketika kita berenang di kolam umum yang biasanya diberikan kaporit sehingga efek perih bila terkena mata. Lama-lama berendam kok asik juga. Mengambang kesana kemari. Merasa peredaran darah seolah mengalir lancar.


Kolam renang dewasa
Ketika hendak mencoba waterboom, terpaan suhu badan langsung berontak dengan dinginnya udara di luaran. Waterboom dengan ketinggian sekitar 15 meter pun kami coba. Sayangnya jatuhnya ke kolam anak-anak dengan kedalaman cetek. Perosotannya pun tidak rata. Pada titik tengah kolam, ada wahana air mancur. Di sekelilingnya, kolam berukuran kecil melingkari.

Kolam anak-anak
Oh ya sehabis berendam, kita tidak perlu khawatir. Di waterpark ini, banyak tersedia warung yang menjual beragam makanan. Persis berada di sisi pinggir kolam. Jadi pengunjung tingal melipir saja kalau merasa lapar sehabis berendam. Waktu itu saya dkk menyantap nasi goreng dan secangkir teh hangat. Cukup lah menghangatkan badan. Sehabis berendam kelaparan lalu makan, nikmat tak terkira, mari ucap Alhamdulillah.

Kantin D'Qiano
Ngomong-ngomong soal penginapan DQiano, penginapan ini sangat rekomendasi sekali untuk diinapi rombongan bersama teman maupun keluarga. Penginapan dua lantai ini sangat lapang loh. Terdapat beberapa kasur yang tersedia. Kamar mandinya pun tersedia air panas dan bathupnya. Untuk rate semalam sekitar 500k-800k. Kalau menurut saya, tipe kamar family bisa ditempati hingga 10 orang. Soalnya kamarnya dimana-mana. Ada kasur di ruang depan, ruangan kamar tersendiri, dan ruangan atas. Enaknya lagi kita bisa berendam asik di pemandian air panasnya sambil leye-leye di bawah langit Dieng yang sering berkabut. Untuk harga tiket masuk ke waterpark cukup membayar 25 ribu saja. Nah, jarak penginapan ini tidak jauh dari lokasi Candi Arjuna dan kawasan wisata lainnya. Jadi kalau kalian berkunjung ke Dieng, yuk mampir ke D’Qiano. Seru loh. Aku aja pengen lagi.

Ini loh penginapannya.
Ini kamar ruangan atas. Cuma sempet moto ini doang hehe.
Famtrip Blogger dan Media diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara
Share:

November 21, 2017

CERITA DI BATAS NEGERI (II)

Daratan Teluk Nipah
Kegiatan pagi di hari keempat diawali dengan melakukan jalan santai bersama adik-adik di Teluk Nipah. Adik-adik membawa kami menuju pemukiman yang jaraknya lumayan jauh di arah bekas pertambangan bauksit. Berjalan hampir setengah jam lamanya. Disana kami singgah di salah satu rumah warga. Beramah-tamah, lalu memetik buah kelapa di depan rumahnya untuk dimakan bareng adik-adik. Rupanya awan mendung pagi itu menurunkan hujan yang cukup deras. Disana kami menunggu reda untuk pulang. Jalanan basah. Tanah merah setapak yang kami lewati digenangi air. Sedikit menanjak dan menurun. Hanya tumbuhan semak belukar di sekelilingnya. 

Menunngu reda sehabis makan es degan
Pada siang harinya, kami menyiapkan properti kecil yang akan kami gunakan saat aksi bersih pantai esok. Membuat tong sampah dari bekas jerigen besar. Memotong papan kayu untuk plang pantai. Mengecat dan membuat tulisannya.
Tempat sampah dari jerigen bekas
Menyiapkan plang kayu untuk aksi bersih pantai

Kegiatan hari kelima merupakan aksi paling menyenangkan bagiku. Hari itu kami semua berkunjung ke Desa Posek yang berjarak hampir satu jam menaiki perahu. Disana, kami melakukan aksi bersih pantai, beberapa mengisi kelas di SDN 005 dan gotong royong bersama warga sekitar untuk membuka jalur menuju ke pantai dan memberikan pernak-pernik di pantai agar semakin menarik dikunjungi. Selengkapnya baca cerita perjalanan kami pada tulisan berikut Pantai Obak, Surga Tersembunyi di Kepulauan Riau.

Hari ke Enam

Nelayan tradisional sedang menambal pompongnya yang bolong
Suara palu memukul-mukul kayu di dekat rumah yang kami tinggali. Lalu aku mendekati seorang bapak nelayan yang sedang menambal perahu pompongnya. Ku amati bapak itu memegang perekat kayu berwarna kehitaman dengan tali temali yang dimasukkan ke sela-sela bagian kayu yang berlubang. Perekat itu rupanya getah damar batu. Cukup lama aku mendengarkan cerita bapak itu yang kesehariannya pergi melaut sebagai nelayan. Dari cerita yang ku dengarkan, nelayan tradisional disana memiliki masalah seperti adanya penggunaan trawl (pukat harimau) oleh nelayan dengan kapal besar. Dikarenakan pukat tersebut menangkap biota laut yang ada di bawah sana secara masif. Jika dibandingkan nelayan tradisional yang menggunakan alat tangkap jaring lain, mereka mengalami keterbatasan penangkapan hasil laut yang cenderung lebih effortless karena sumber ikan dapat habis jika ditangkap oleh nelayan yang menggunakan trawl. Hal ini pula, terkadang menimbulkan konflik horizontal diantara nelayan.

Menjelang siang, aku bersama Bagus, Depoy dan Pusyu pergi ke Pulau Mas untuk bertemu Pak Kades. Disana, kami menyempatkan singgah ke kantor Desa Posek sebentar. Kantor desanya sangat sepi. Hanya ada dua orang pegawai yang duduk santai di ruang utama. Kemudian kami melakukan wawancara dengan ibu-ibu yang kesehariannya menunggu hasil tangkap udang dan ikan di tempat pengepulan. Ibu-ibu itu mengupas kepala udang dengan upah seribu rupiah per satu kilo udang yang dikupas. Pendapatannya tidak tentu tergantung hasil tangkap nelayan. Terkadang pula memotong ikan hiu. Dengan upah yang didapat sekitar seribu hingga sepuluh ribu rupiah per hari. Sungguh miris sekali.

Kantor Desa Posek

Ibu-ibu sedang mengupas kepala udang 
Menyisir ke salah satu rumah warga. Kami menuju ke rumah seorang kakek tua yang sudah cukup berumur. Kake Soot namanya. Tinggal di rumahnya yang sudah reyot. Ia tinggal bersama anak dan cucunya. Kesehariannnya bergantung kapada anaknya. Kami memasuki rumah kakek ini yang rupa bentuknya sudah tidak layak sekali. Atap bagian belakang rumahnya sudah tidak lagi tertutup. Kemudian papan kayu lantai juga bolong-bolong. Hanya di bagian depan saja yang masih sedikit lebih layak. Disitu terdapat kasur, baju-baju menggantung, dan bebera pa alat makan tergeletak. Berikut video wawancara bersama kakek tersebut.
Rumah kurang layak huni milik Kakek Soot
Sore harinya, saya dan yang lain kembali ke Teluk Nipah. Kegiatan selanjutnya membagikan pakaian layak pakai yang diberikan kepada beberapa warga yang sudah dikoordinasikan kepada ketua RT maupaun RW kepada siapa saja yang layak untuk menerima bantuan tersebut. Kegiatan lainnya pada hari ke enam adalah tim kesehatan melakukan sosialisasi di posyandu. Kak Titan dan Kak Anggi memberikan materi seputar GERMAS, gizi seimbang dan pentingnya ASI untuk bayi. Sementara kegiatan lain menjelang sore hari tim pendidikan yang digawangi oleh Novi dkk membuat pohon mimpi bersama adik-adik di sela agenda rutin program English Fun di dermaga. Kegiatan rutin lainnya adalah Mengaji BersamaMu yang biasa dipandu oleh Pusyu, Suju, Dina, Ervina, dan beberapa peserta ikhwan sehabis sholat maghrib.

Donasi pakaian layak pakai


Sosialisasi kesehatan di Posyandu
Pengajian bersama adik-adik

Hari ke Tujuh

Kegiatan hari ini adalah berkebun menanam sayuran di tanah kebun milik warga. Membabat rerumputan yang memenuhi kebun. Kebun ini hanya ditumbuhi tanaman berupa terong hijau, bayam dan mentimun. Tanahnya berwarna merah kecoklatan entah jenis tanah laterit atau liat.
Aksi berkebun
Sementara kawan-kawan menyebar benih di kebun. Aku bersama Bagus kembali menuju Pulau Mas untuk menggali informasi di pabrik es sekaligus tempat pengepul ikan. Banyak sekali informasi yang kami dapatkan selama disana. Tempat penampungan ikan ini dijadikan tempat pengepul hasil tangkapan nelayan-nelayan di sekitar Kepulauan Posek. Silih berganti kapal-kapal kayu bongkar muat. Sekiranya saja ada yang hanya membeli pasokan es batu yang dimasukkan ke dalam kotak berwarna kuning. Lalu aktivitas lain tentang pengemasan ikan-ikan yang hendak dikirim ke tempat pelelengan yang lebih besar ke Penuba untuk selanjutnya diekspor ke Singapura maupun Malaysia. Tempat yang hiruk pikuk sekali. Suara mesin pemecah es dengan roda penggerak yang menyambung dari arah pabrik. Mesin kapal yang bersandar seperti meletup-letup. Para pekerja sibuk melakukan aktivitas mereka. Ada yang sedang mengemas ikan-ikan di dalam kotak, lalu ditimbunnya dengan pecahan es agar tetap fresh. Ada yang memindahkan kotak ke dalam kapal dengan alat seperi crane kecil yang berada di kapal. Seorang lain seperti mandor yang mengawasi. Ia memegang kertas nota ketika ada kapal yang datang merapat. Ada pula juru hitung (kasir) di tengah-tengah biduk yang dibuat seperti loket terbuka. Pekerja lain ibu-ibu yang duduk manis menunggu datangnya hasil tangkapan udang dan ikan. Pekerja lepas ini biasa mengupas kepala udang dengan upah seribu per satu kilogram udang. Sesekali nelayan-nelayan datang membawa hasil tangkapan mereka. Di tempat ini pula, kami mendengar cerita berbeda terkait penggunaan trawl yang dilarang oleh pemerintah. Mungkin karena nelayan disini memiliki tonase kapal yang besar sehingga lebih pro terhadap adanya trawl dengan penjelasan lapangan yang mereka temui. Mereka juga resah dengan aksi penangkapan dan penahanan beberapa nelayan beberapa bulan lalu akibat penggunaan trawl sementara sosialisasi dari pemerintah sendiri mengenai prosedur dan pelaksanaan terkait regulasi kelautan belum terdengar jelas alias masih abu-abu. Mereka merasakan pemerintah acuh terhadap kehidupan nelayan di batas maritim yang seharsunya diperhatikan lebih sebab mereka sebagai garda terdepan yang tinggal dan menjaga pulau-pulau terdepan, terluar dan tertinggal Indonesia.
Trawl 
Ikan hasil tangkap nelayan siap dikirm ke negara tetangga

Aktivitas pekerja pabrik dan pengepul ikan, bongkar muat kotak-kotak berisi hasil tangkapan laut

Siang harinya, kami sebentar membantu warga di Pulau Mas memotong dahan pohon besar yang ditebang untuk pendirian tiang listrik yang akan dibangun disana. Listrik sendiri sudah diajukan sejak 2010. Setelah 72 tahun paska kemerdekaan baru lah tiang-tiang akan mulai dibangun. Sebelumnya mereka belum merasakan fasilitas listrik negara. Hanya sebagain warga menggunakan genset dengan bahan baku solar yang biasa dipakai beberapa jam saja menjelang malam.

Goro memotong dahan pohon
Tiba di malam terakhir di Teluk Nipah. Sehabis melakukan pengajian ba’da maghrib. Suasana mendadak melow sekali. Adik-adik mengerumuni kami satu per satu. Sebagian menulis surat. Membujuk kami agar tetap tinggal. Selepas adik-adik pulang, kami habiskan dengan mereview dan memberi ruang memori kebersamaan atas kegiatan yang telah kami lakukan selama disana.

Hari ini memasuki tahun baru 1439 hijriyah. Hari ini pula sebagai hari terakhir bagi kami. Pagi-pagi,  kami mengikuti acara syukuran di masjid. Memanjatkan doa-doa mengawali hari pertama di tahun baru. Kemudian menikmati makanan yang dibawa masing-masing warga. Seselesainya kami semua saling bersalaman, berpamitan, dan menuju dermaga untuk pulang. 

Syukuran Tahun Baru Hijriyah 1439
Pamitan kepada warga Teluk Nipah
Kepulangan diiringi ramainya warga dan anak-anak yang berkumpul mengantarkan kepulangan kami di ujung dermaga. Adik-adik histeris dan merasa sedih karena kami akan pergi meninggalkan mereka. Mereka meminta agar kami dapat datang kembali. Kami mengabadikan foto bersama-sama. Berterimakasih. Menghaturkan kata maaf dan selamat tinggal. Selesai sudah misi kami melaksanakan ENJ 2017. Ya, kegiatan kami telah selesai. Kami harus pulang. Perahu pun mulai berlayar. Sembari menyanyikan mars ENJ. Dadah-dadah ke warga. Mereka pun membalas salam perpisahan kami disana. Selamat tinggal Teluk Nipah. Selamat tinggal Kepulauan Posek.

Kenangan terakhir di dermaga
Warga melepas kepergian kami


Mengantarkan di ujng dermaga

Tiba di Muara Sungai Buluh
Share:

Instagram