Mei 10, 2018

Famtrip Blogger - Dolan Maring Palawi Baturraden

Para blogger bahagia
Kali ini saya ingin berbagi cerita keseruan famtrip #BloggerGoesToPalawi weekend kemarin yang masih belum terlupakan. Kok rasa-rasanya pengen lagi ya. Gimana gak senang maksimal? Karena kami dilayani dengan sangat apik oleh manajemen PT. Palawi Risorsis untuk mengeksplore apa saja yang bisa dinikmati di area Wana Wisata Baturraden. Oh ya just FYI aja nih, Palawi itu anak usahanya Perhutani yang bergerak di bidang wisata alam, makanya namanya Perhutani Wisata Alam. Tidak hanya pengembangan dan pembangunan potensi wisata alam, Palawi juga memenuhi kebutuhan yang menunjang pengelolaan sektor pariwisata seperti tour & travel, villa penginapan, camping ground, wahana bermain, MICE, outbond area, dan sebagainya. Nah dua unit bisnis yang sudah dikelola dengan cukup baik oleh Palawi diantaranya Wana Wisata Coban Rondo yang terletak di Pujon Malang dan Wana Wisata Baturraden yang menjadi lokasi kami memanjakan diri saling berinteraksi di area hutan lereng selatan Gunung Slamet.

Udara di Baturraden terkenal adem nan sejuk. Suasana inilah yang menyambut kedatanganku ketika melewati jalanan menanjak hendak memasuki area Wana Wisata Baturraden. Pepohonan berbatang besar menjulang tinggi dengan daun yang menutup bagian atas cukup rapat. Hamparan bunga berwarna warni banyak tumbuh di area lahan yang datar. Lokasi pertama yang kami tuju mengarah ke sebelah timur dari pintu masuk yaitu Villa Agathis, tempat menginap kami selama famtrip. Villa ini berdekatan dengan Villa Accacia, wahana flying bike dan juga taman labirin.

Villa Agathis dan Accacia rate per malamnya 3,4 juta
Memasuki ruangan villa, ibu-ibu yang sedang beberes perlengkapan di dapur menyambut kami kemudian menyuguhkan lemon tea hangat. Saya dan Mba Olipe datang duluan sekitar pukul sebelas siang. Terdapat ruang utama yang lapang dengan penataan sofa memanjang pada sisi dinding. Ruangan ini cocok sekali untuk leye-leye santai menikmati suasana sekitaran yang sunyi sejuk. Dinding dengan kaca bening membuat view lanskap Purwokerto terlihat jelas. Pintu dorong mengakses ke teras dan area untuk bakar api unggun.

Villa ini memiliki enam ruang kamar tidur. Masing-masing kamar memiliki kasur berukuran dua orang, tv lcd, cermin, tempat sampah kecil, almari dengan handuk menggantung dan sandal di bawahnya. Pada ujung ruangan, ada kursi dan meja dengan teko pemanas, sendok dan gelas, air mineral, beserta kopi dan teh kemasan. Ornamen ruangan bercorak batik memadu dengan cat berwarna putih memberikan kesan yang terang. Kamar mandi terdapat di masing-masing kamar dengan shower, closet, dan tersedianya air panas. Jadi gak perlu takut dingin kalau menginap di villa ini. Menginap disini kalian bakalan puas dengan fasilitas yang tersedia. Alasan utamanya adalah setiap sudut ruangan tertata rapi juga bersih. Untuk rate menginap semalam di Villa Agathis ini, harga yang dipatok sebesar Rp 3.400.000,- dengan kapasitas 12 orang. Harga tersebut sudah termasuk sarapan dan tiket masuk Wana Wisata loh. Cukup murah bukan?

Fasiltias Villa Agathis
Tidak lama, peserta famtrip lain mulai berdatangan. Mba Dian dan Mas Yugo dari Jogja. Ella, Rois, dan Mas Pradna dari sekitaran Purwokerto. Setelah makan siang, kami menuju ke Telaga Sunyi yang berjarak sekitar 10 menit dengan menaiki mobil. Kami berangkat duluan karena rombongan Mba Idah dkk belum sampai. Mereka menyusul ke telaga langsung. Oya gaes, masuk ke telaga ini pengunjung cukup membayar Rp 13.000,- saja.  

Nyatanya tidak sesunyi dan sehoror kata orang-orang. Ya pada intinya semua tempat adalah bagaimana caranya agar kita bisa menjaga perilaku yang sewajarnya. Di area parkiran saja ramai dengan kendaraan pribadi. Telaga ini sering dikunjungi oleh pegiat selam bebas dan cliff jumping. Dari area parkiran, kita cukup berjalan sekitar seratus meter saja melalui jalanan pinggiran sungai yang dilengkapi pagar pembatas. Lokasinya berada di aliran Kali Pelus. Sungai yang mengalir dari hulu ini memiliki banyak batu-batuan besar di celahnya. Kenapa dinamakan telaga? Saya berasumsi karena telaga ini seperti kedung atau kolam dengan kedalaman bervariasi hingga mencapai lima meter. Airnya berwarna kebiruan, jernih sekali. Dasarnya terlihat terang. Sebagian berisi batu-batuan yang terkena lumut.

Beberapa dari kami berenang di telaga ini. Satu hal yang perlu diperhatikan adalah suhu airnya yang sangat terasa dingin. Baru nyemplung saja dinginnya langsung menusuk ke badan. Pada bagian pinggirannya, kedalaman di atas satu meter, sementara pada area tengah hingga ke titik jatuhnya air merupakan titik terdalam telaga. Makanya lokasi ini sering dipakai untuk latihan free diving, selain kedalaman yang mendukung, pemakaian baju selam, fin, snorkel, dan kacamata akan lebih asik lagi menjelajah bawah airnya. Baru berapa menit berada di dalam air, saya tidak kuat menahan rasa dingin airnya yang bisa dibilang seperti air es. Saya tidak lama langsung mentas sebab menahan dingin. Jika kalian tidak jago berenang tapi ingin merasakan sensasi airnya seperti apa, sebaiknya mengajak operator untuk mengawasi atau kita dapat menyewa pelampung maupun ban di dekat area parkiran. Ketika kami datang kesana kemarin, aliran debit air yang jatuh tidak deras. Dengan ketinggian kurang lebih tujuh meter. Permukaan air telaganya pun tenang sehingga relatif aman untuk berenang, beruntungnya juga kondisi cuaca sedang cerah. Alhamdulillah semesta mendukung kegiatan kami hingga tidak terasa sudah dua jam lamanya berada disana.

Telaga Sunyi airnya sedingin air es. Hahaha.
Aktivitas keseruan masih berlanjut. Setelah ashar, kami mencoba wahana flying bike yang berada di atas hamparan bunga. Untuk mencoba wahana ini, pengunjung cukup membayar Rp 20.000,-. Wahana dengan jalur sepanjang 55 meter dengan tinggi kurang lebih 5 meter ini apabila dilihat dari bawah terlihat biasa saja. Adrenalin akan terasa ketika sudah berada di atas sepeda. Ya, saya memberanikan diri untuk mencoba giliran pertama. Memakai alat keamanan yang disediakan. Saya melihat ring roda sepeda tersebut menjejak ke sling besi yang dilapisi selang, rasa takut mulai menyerang. Ketika menaiki wahana ini, kita tidak perlu menggowes sepeda. Nanti ada operator yang menarik sepeda dari bawah. Kita seminimal mungkin untuk tidak bergerak bebas agar tetap menjaga kestabilan saat berada di atas sepeda. Dag dig dug saat sepeda mulai melaju. Apa yang dirasa rupanya cukup tegang ketika melihat ke arah bawah. Kot tinggi juga ya. Ditambah lagi kawat besinya sesekali bergoyang. Tapi gak apa, tetap stay cool aja padahal mah melawan rasa takut yang mendera. Berhasil juga sampai ke titik akhir pemberhentian. Wah lega rasanya berhasil menepis rasa takut pas di atas. Tenang gaes, kata operatonya wahana ini aman-aman saja saat digunakan sejak awal dibuka.

Wahana flying bike. Seru cuk.
Keseruan kami belum berakhir. Di seberang hamparan bunga, terdapat Taman Labirin Baturraden. Tentu saja kami mencoba wahana ini. Ceritanya sih untuk menghapal rute labirin untuk games yang akan diadakan besok. Hahaha. Rumput pagar yang dirawat membentuk jalan yang cukup rumit. Jalur ke kanan memutar-mutar hingga ke paling ujung untuk mencapai ke titik tengah labirin. Jika dibandingkan dengan jalur kiri, kita akan lebih mudah dan cepat untuk sampai ke titik tengah. Labirin ini lebih luas ukurannya daripada labirin yang ada di Coban Rondo. Jalurnya pun berbeda, kontur naik turun dengan block paving. Mengitari labirin ini cukup mengasah otak juga, jangan sampai tersesat mah pokoknya. Kalau tersesat, kita bisa naik ke deck pandang untuk melihat jalur yang benar. Jumlah deck-nya ada dua. Letaknya ada di depan sehingga bisa kita gunakan sebelum memasuki labirin dan yang kedua ada di dalam labirin. Seru loh muter-muer mencari jalan keluar di wahana labirin. Untuk mencobanya, kita cukup membayar tiket masuk Rp 10.000,- .

Taman Labirin Baturraden
Malam harinya, kami makan malam bersama di teras villa dengan santapan kuliner yang lezat. Menunya adalah ikan mujair, pecak jantung, oseng dage kuncar, tempe goreng dan sambel terasi. Masakan yang disajikan adalah olahan khas Baturraden. Saya doyan sama oseng dage kuncarnya. Bau harumnya menambah sedapnya makanan. Apalagi sambelnya yang terasa pedas, cocok seklai dimakan saat udara di luaran cukup dingin. Kami makan di area teras dengan pemandangan lampu oranye yang memenuhi dataran rendah di bawah sana. Sangat epic sekali momennya.

Santapan kuliner malam. Ngeliatnya aja udh kenyang. Alhamdulillah.
Sehabis makan, sesi sharing dan ngobrol dengan manajemen Palawi sekaligus menunggu api unggun dinyalakan. Ya, kami diberikan informasi tentang Palawi lebih jauh serta progres pengembangan wisata alam Baturraden. Menu jagung bakar, mendhoan, dage goreng menemani sesi acara tersebut. Api unggun pun dinyalakan. Semua peserta langsung mengerumuni sumber kehangatan itu. Menghabiskan malam minggu dengan momen yang asik bersama kawan-kawan bloger dan manajemen Palawi. Sungguh momen yang mengesankan. 


Acara Famtrip Blogger Goes To Palawi 5 - 6 Mei 2018 diselenggarakan oleh PT. Palawi Risorsis Unit Bisnis Wana Wisata Baturraden.

Share:

Mei 02, 2018

The Village, Ruang Wisata Zaman Now Purwokerto

Halaman depan The Village

Destinasi wisata The Village hadir dengan konsep baru sesuai tuntutan era milenial. Sejak dibuka Februari 2018 lalu, tempat ini cukup popular sebagai tujuan wisata pada akhir pekan. Mengusung ruang taman kota yang dibangun dengan rancang bangunan yang apik dengan bergaya Eropa membuat The Village cocok dijadikan sebagai lokasi swafoto.

Taman bunga warna-warni
Bangunan dengan arsitektur yang apik

Mudah saja untuk menjangkau lokasi ini. Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota Purwokerto, kita bisa menempuhnya dengan angkutan umum yang mengarah ke Baturraden (angkot ijo) maupun angkutan online. Berada di Jalan Raya Baturraden KM 7, Rempoah, Baturraden. Wisata ini beroperasi dari pukul 10.00 – 21.00 WIB dengan harga tiket masuk Rp 10.000 pada hari kerja, Rp 18.000 ketika akhir pekan, dan cukup Rp 5.000 saja ketika menjelang maghrib (malam hari).

Kanal dan jembatan untuk gembok cinta
Warung kopi
Konsep tempat wisata ini memang cukup menarik. Bangunan-bangunan modern dengan eksterior bata merah yang menjadi khas The Village terbilang oke untuk sekelas wisata baru di Purwokerto. Ditambah tanaman bunga berwana-warni, jalur kanal di bawah jembatan, café, pujasera, dan beberapa wahana yang bisa kita coba.

Pujasera dengan beragam kuliner yang bisa kita coba
Disana kita bisa mencoba wahana paddle boat yang mengitari kanal, membeli gembok cinta dan menguncinya di jembatan yang berada di tengah-tengah ruang wisata ini, atau mencoba menaiki mobil antik. Wisata ini sangat ramah untuk pengunjung anak-anak, seperti wahana rumah burung dengan puluhan love bird yang berkicau berterbangan, wahana berkuda, peternakan mini, rumah kelinci, ruang bermain anak-anak, dan ada juga labyrinth shipventure. Oh ya, kita juga bakalan bayar lagi untuk mencoba wahana-wahana tersebut. Jadi siapin banyak-banyak uang kalau kalian berlibur kesini. 

Kanal dengan wahana paddle boat
Beberapa lokasi swafoto pun bisa kita coba dengan properti yang penuh warna. Kalau cuaca mendukung, hasil foto dengan latar bangunan The Village akan ciamik loh. Ada baiknya kita berkunjung kesana ketika awal waktu operasional pukul sepuluh di saat matahari belum tepat di atas kepala atau pada sore hari. Lebih baik lagi, jika membawa payung sebab di siang hari matahari sangat terik dan masih kosongnya tanaman rindang yang ditanami disana, jadi bakalan panas banget. Kalau pun kepanasan, kita bisa ngadem di food court sekalian nyicipin beragam kuliner yang dijajakan.


Spot swafoto
Properti kapal
Kalau kalian berlibur ke Banyumas, tempat wisata ini bisa dijadikan referensi berakhir pekan di Purwokerto dengan pesona ruang wisatanya yang apik. Yuk dolan maring Pewete!
Share:

April 03, 2018

Kursus Bahasa Inggris Sampai ke Pare Kediri

Hello gengs, this time I would like sharing about my experiences when I spend for 2 months in Pare. Why Pare become so interested as a place for learning another language, especially English. My goal for going to Pare is strengthening my English skill at all. You know gengs that my moms asked me “why so far? Is not here you can take courses too? What is everyone like seller there speaking in English?” I just answer, “I think it will different when I learn in Pare, because many people coming from everywhere. And not everyone, but when in courses area maybe”. Finally, I booked a grammar course via website and also train ticket for the transport.

Oke, kayaknya lebih enak bahasa Indonesia. Satu paragraph di atas cuma sebatas pencitraan aja. Wkwk. Jadi ekspektasi saya pun tidak terlalu banyak, tetapi ada banyak sekali yang saya dapatkan sepulang dari Pare. Waktu selama dua bulan bagi saya cukup terlalu singkat untuk mengkhatamkan bahasa internasional hingga level advanced. Padahal tujuan awal saya kesana ingin belajar IELTS, tapi saya mengambil kursusan dari level dasar jadi rasanya kurang banget.

Dimulai keberangkatan pada awal bulan Desember 2017, perjalanan pertama saya dari Pwt menuju Jogja naik kereta Joglokerto . Disana transit dua hari, emang niatnya mau eksplore beberapa candi di Jogja. Prinsip sekali dayung dengan dua tiga pulau terlampaui, memang sering saya lakukan dalam kehidupan. Dari Jogja saya menuju ke Kediri naik kereta Kahuripan, kereta baru berangkat sekitar pukul 2 dinihari dan sampai di Kediri sekitar jam 7 pagi. Dari Stasiun Kediri, ada tiga opsi: naik angkot, naik kendaraan yang mangkal depan stasiun 60 ribu per orang, dan saya malah pesen gocar tarifnya 70ribu. Enaknya lagi sih kalau datang ke Pare sendirian, nyari temen di Stasiun yang mau ke Pare juga baru pesen gocar biar lebih irit, prinsip sharecost! Pas mesen gocar, kita harus jalan dulu agak jauh ke jalan depan stasiun soalnya kecemburuan sosial era digital ini cukup menjadi gap yang mau tidak mau ya bakalan terjadi. Bahkan, di stasiun Pwt sendiri ada yang pernah dipalak sama orang sekitar disuruh bayar 250 ribu sama ojek di stasiun, dan itu dialami sama ojol yang anter ke stasiun. Regulasi digital memang rasanya sudah urgent banget nih. Kan kasian kalo masalah ini berlarut-larut.

Dari stasiun ke Pare sekitar 45 menit. Jalanan kota Kediri cukup lengang. Kami melewati Gumul lalu mengarah ke utara dengan ruas jalan cukup lebar. Pada sisi kiri jalan terdapat bekas jalur rel zaman Belanda. Sepanjang jalanan, banyak areal perkebunan tebu dan sawah. Peninggalan Belanda dengan hasil komoditas gula sendiri masih beroperasi di Kediri yang sekarang dikelola PTPN.

Sampai di gerbang Desa Tulungrejo, lokasi di mana Kampung Inggris berada. Saya menuju ke Jalan Aster kos-kosan yang sudah saya booking. Tak dinyana, ibu pemilik kosan mengkonfirmasi kalau kosnya hanya kosong seminggu seharga 150 ribu. Kos tingkat dua ini terbilang mahal. Jadi sebaiknya, ketika kalian datang ke Pare, lebih enaknya cari kos-kosan di TKP langsung karena biar bisa compare harga dan mengukur kenyamanan kos-kosan untuk ditinggali. Jadi kemarin saya cari info di internet, karena takut penuh musim liburan akhirnya saya langsung deal-kan saja untuk stay di kosan itu. Toh saya masih buta informasi. Di depan kosan itu juga terdapat warung makan dan tempat sewa sepeda, jadi pikir saya cukup strategis. Sewa sepeda seharga 80ribu sebulan. Sekali makan rentang harga 8ribu hingga 12 ribuan.

Dua hari pertama, saya belum mendapat teman akrab disana. Hanya beberapa teman baru di kosan yang sebagian mereka juga baru datang atau baru menetap dua minggu. Sekedar obrolan basi-basi ketika berpapasan hingga sharing tentang kursusan.

Satu bulan pertama, saya mengambil kelas E-Fast 1A di Elfast. Kelas ini mengajarkan tentang grammar seperti tenses yang sudah saya pelajari sekian lamanya dan materi Part of Speech (POS). Jadwal kelas setiap harinya ada 5 kelas, terdiri dari 4 kelas grammar dan 1 kelas speaking durasi 1,5 jam. Alasan saya mengambil kelas ini adalah untuk bekal dasar sebelum mengambil kelas lanjutan sekaligus refreshment  materi.

Hari pertama masuk kursus, kelas pertama pukul 5.30 selepas subuh. Dua kelas berikutnya pukul 7 hingga 10.30 pagi.  Lalu kelas speaking pukul 12.00 selepas dzuhur. Kemudian kelas terakhir pukul 4 sore. Tutor saya di kelas adalah Mr. Ilyas asalnya dari Gorontalo, Ms. Dian dari Bengkulu, dan Mr. B orang Surabaya yang dulunya adalah seorang chef. Jadi tutor di Kampung Inggris, beberapa dari mereka ya dulunya juga pembelajar yang datang untuk belajar ke Pare.

Bangun pagi, sholat, mandi, lalu mengayuh sepeda ke tempat kursus sekitar 10 menit adalah kesibukan setiap Senin hingga Jum’at yang saya lalui. Kelas pagi pertama dirasa cukup berat, karena mata masih mengantuk, meski otak lagi fresh. Materi pembelajaran masih enteng di minggu awal. Minggu kedua, kami diajarkan tenatang tenses. Minggu ketiga masuk ke BP2, dan minggu ke empat berakhir begitu cepat materi akhir POS.

Di kelas ini saya mendapat teman baru dari mana-mana. Ada Ken dari Aceh yang selalu duduk di depan, Marikh dari Jkt biasanya dia duduk sebelah Ken, terus Aqwam yang termuda dan polos kek bakso dari Sidrap, Adi Akbar dari Makassar, Kak Ida sekarang di Gorontalo, Laya dari Jakarta, Delfi orang Majalengka tapi ngakunya orang Bandung, Bang Aldi orang Bandung juga, terus ada Bang Budi orang Jkt juga, Khotim dari Ponorogo, Zul wong Tegal, Edo orang yang di kelas sok cool terus sok kalem dari Jambi, siapa lagi ya? Oh si Erdin Selayar sama sohibnya si Rian yang paling diem di kelas. Ada Ceppy dan Putra juga dari Bandung. Sandu asal Lombok. Yusron dari Bekasi, dll yang tidak disebutkan karena cuma sebentar di kelas jadi lupa namanya.

Satu bulan berinteraksi dengan mereka di kelas selama lima pertemuan membuat rasa kekeluargaan itu muncul. Kadang kami banyak menghabiskan banyak waktu luang bareng-bareng. Makan bareng di Bonbin, ngetansu, ke CFD, renang, sepedaan ke Candi Surowono, jalan Ke Bromo, Ke Ijen, Ke Festival Durian di Jombang, belajar bareng di Kilisuci, ngopi di kafe, makan di angkringan. Ya sebulan itu sama mereka terus, lagi, dan lagi. Keintiman sebulan bareng mereka memberi kesan selama masa perkursusan di Pare. Bahkan saat beberapa ada pulang, kek ngerasa kehilangan aja gitu. Ya people come and go. Mau gak mau. Ya harus mau. Toh sudah rumusnya begitu.

Pada bulan kedua, saya mengambil kelas speaking di Daffodils, kelas writing dan translation di Elfast. Di periode ini, jadwalnya 6 kelas sehari. Lebih padat dari bulan pertama. Belajar writing dan translation diajarkan Ms. Santi, Mr. Son dan Mr. Andre cukup menambah pengetahuan saya dalam stuktur penulisan dalam Bahasa Inggris. Kelas ini pengembanagan dari kelas yang saya ambil dari bulan sebelumnya. Buku level advanced ‘American History’ menjadi santapan di kelas translation. Di kelas ini diajarkan bermain intuisi tetapi harus tetap menjaga meaning dari sebuah tulisan. Di kelas ini saya mengerti, bahwa perbedaan struktur penulisan Indonesia dan Bahasa Inggris sangat ketara sekali. Satu bulan belajar di kelas ini, tingkatan writing cukup baik. Sedang translation, saya rasa masih kurang, sebab pemahaman vocab advanced membuat kesulitan pemahaman dalam sebuah tulisan. Sedang di Daffodils saya diajar oleh Ms. Agustin. Cara mengajarnya cukup menarik bagi saya karena saya dituntut memahami vocab baru, pronunciation, dan grammar dalam speaking. Kelas ini cukup efektif meski sampai akhir kelas tinggal beberapa orang yang tersisa. Dari belasan hanya tinggal tujuh orang.

Sistem pembelajaran di Pare dalam pandangan saya, apa yang berbeda adalah tentang lingkungan dan lingkaran. Maksudnya adalah durasi intens belajar bahasa diantara orang-orang yang juga ingin meraih tujuan yang sama, jadi kayak nyaman dan asik aja gitu. Ditambah sistem pengajaran di Elfast yang menuruk saya berbeda dari apa yang saya pelajari di sekolahan. Materinya padat, tapi cara mengajarnya mudah untuk dipahami. Kalau menyoal pemahaman  tergantung individunya apakah sering mengulang atau mereview materi yang diajarkan. Memang ada ujian atas materi yang diajarkan untuk mengetahui pemahaman. Cuma bagi saya proses lebih penting dibandingkan hasil, terlebih ini pendidikan formal di mana pembelajar tidak dituntut untuk berhasil tetapi setidaknya paham akan materi yang diajarkan.

Oya di Pare sendiri ada banyak lembaga kursus bahasa yang gak melulu Bahasa Inggris, tapi ada Arab, Korea, Mandarin, dan lain-lain. Memilih tempat kursus yang memiliki kredibilitas dan berkualitas merupakan hal terpenting. Setidaknya kita harus tahu keunggulan yang ditawarkan oleh kursusan yang akan kita pelajari. Jangan sampai setelah kita belajar berbulan-bulan, tetapi ketika pulang tidak mendapat hasil apa-apa. Penting juga bagi kita menentukan capaian apa yang ingin diraih, apakah sebatas jago speaking, TOEFL, IELTS, dan sebagainya. Memang semuanya berbalik lagi ke diri kita masing-masing.

Tujuan orang datang ke Pare pun beda-beda. Ada yang memang mau belajar, ada yang pengen jalan-jalan, ada yang mengisi waktu liburan dengan belajar hal baru dan kemandirian, ada yang penelitian, dan lain-lain. Bahkan durasi mereka datang ada yang paling minimal dua minggu hingga berbulan-bulan tidak pulang. Kalau saya sendiri merasa betah namun dengan aktivitas yang padat. Karena tidak semua pembelajar memiliki jam kursus yang padat dalam sehari, tergantung kemampuan dan motivasi masing-masing individu.

Banyak operator tour yang menyediakan paket murah ke tujuan wisata. Maka tidak heran, ketika akhir pekan, Pare cenderung sepi karena banyak pembelajar yang refreshing atau jalan-jalan entah kemanapun.  Kafe dan tempat nongkrong pun cukup menjamur disana. Maka tepat ketika Pare saya sebut juga sebagai tempat berlibur. Godaan liburan bahkan menjadi satu-satunya tantangan ketika kalian mengambil kursus disana. Terlebih bagi mereka yang dari luar Pulau Jawa,. Mengunjungi berbagai tempat wisata adalah satu hal kesempatan yang harus dicoba. Sekali mendayung, dua tiga pulau terlampaui lah.

Oke sekian saja yang ingin saya share tentang #LifeinPare , meski masih banyak lagi cerita yang belum tersampaikan, insyaa allah di tulisan selanjutnya. Pesan saya untuk kalian  yang akan kesana, gali dan cari informasi sebanyak-banyaknya tentang lembaga kursus (yang terutama) agar kalian membawa hasil ketika selesai belajar disana. Lalu terkait tempat tinggal, kalian bisa menyesuaikan apakah akan tinggal sendiri (ngekos) atau nge-camp (sepaket dengan lembaga kursusnya). Untuk kos-kosan kalian bisa cari yang murah sesampaintya di Pare. Tenang disana ada banyak banget sewa kos-kosan. Mau yang sharing seperti di camp atau dengan fasilitas kayak hotel bintang 3 juga ada. Atau tidak mau ribet, ya booking sekalian tempat camp di lembaga kursus. Disini kelebihannya kalian dapat program dari lembaga seperti speaking, skoring toefl, dan sebagainya. 



Sekian, Wassalamualaikum.
Share:

Desember 20, 2017

Agama Warisan? Sudahkan Kita Beriman Kepada Tuhan?

Assalamua'laikum warahmatullohi wabarakatuh.

Kali ini saya ingin menuliskan sedikit opini saya mengenai sebuah tulisan opini yang sempat viral di dunia maya hingga diliput media pada tahun 2016 lalu. Ya, ketimbang tulisan ini hanya tersalin di buku catatan alangkah baiknya saya menulis ulang ke blogpost ini. Padahal mah saya belum dapat konten yang enak dituliskan untuk menambah jumlah postingan.

Oke bicara sesuatu yang viral. Sadar gak sih kalau di Indonesia, sangat mudah sekali sebuah berita atau hal yang kadang tidak terlalu penting namun viral di dunia maya hingga dapat diketahui banyak orang. Entah ini impact penggunaan gadget pada millenials era, jelasnya terkadang ada sesuatu hal yang viral atau persebaran informasi, namun tidak berisi informasi positif (bernilai guna) untuk diketahui atau bahkan terkadang hal biasa yang viral sebaiknya kita hanya cukup tahu saja agar tidak ketinggalan informasi.

Oke, ceritanya begini. Sebelumnya saya akan memulai dari apa yang paling saya syukuri hingga nafas detik terkahir ini adalah tentang takdir di mana saya terlahir di keluarga penganut Muslim, yang menjadikan saya sebagai penganut Islam hingga sekarang yang mengimani bahwa Tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Alhamdulillah Ya Allah atas takdir ini.

Kenapa saya bilang begitu. Sebab begini, dulu saya pernah berpikir menyoal hal yang sangat liberal sekali dalam kehidupan saya tentang adanya agama dalam kehidupan manusia. Sebagian orang mungkin beranggapan bahwa semua agama mengajarkan hal-hal yang baik, pada intinya sama saja kita mau beragama apa. Saya tidak setuju satu hal tentang ini. Sebab dalam agama yang anut, terdapat perbedaan mendasar dalam mengimani sebuah agama dan konsekuensinya yang berlaku menyeluruh ke segala aspek kehidupan.

Jadi saya dulu pernah mengandaikan (conditional) tentang, "Jika saya dilahirkan pada keluarga non-Muslim semisal Jews atau yang lain, apakah sekarang saya masih menganut agama bawaan tersebut ?".

Lalu saya mendebat pemikiran saya soal pengandaian itu. Apa iya Tuhan sebercanda itu? Ketika saya menggunakan logika, pasti dan akan selalu mendewakan akal pikiran yang saya miliki, akan terus dan selalu menjustifikasi apa yang saya setiap terima dan alami.

Pernahkah kita berpikir tentang seberapa jauh kritik kita terhadap Tuhan? Sementara dengan akal pikiran kita yang serba terbatas, mau setinggi apapun IQ kita, sejauh apa fantasi kita. Tetap otak merupakan indera utama kecerdasan yang kita miliki pun memiliki sebuah keterbatasan. Sebagi contoh, apakah kita dapat mengingat apapun yang sudah kita alamai selama hidup dari waktu ke waktu. Tentang memori sewaktu kita kecil, tentang kenangan mendaki gunung beberapa tahun lalu, atau bahkan kegiatan kita hari ini saja dengan sedetail mungkin. Nah benar kan, betapa lemahnya otak dan akal pikiran kita.

Lalu sadarkah kita tentang batasan otak kita dengan mengkritik ketentuan-ketentuan yang sudah tertuliskan (takdir) yang dalam agama saya merupakan hak preogratif Sang Maha Pencipta di Lawh Mahfudz.

Ingat kembali tentang Qadar sebagai ketentuan mutlak Tuhan tentang kehidupan manusia dan seluruh alam yang telah digariskan, seperti kelahiran, rezeki, jodoh, dan kematian. Lalu mengenai Qodo sebagai ketentuan-ketentuan Tuhan bagi setiap manusia atas pelaksanaan Qadar ketika terjadi. Dua hal ini termasuk iman dalam Islam. Ya, ketika kita sudah mengimaninya sudah selayaknya pula kita pun bersungguh-sungguh meyakini dengan sepenuh hati kita.

"Dan orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasulnya, mereka itu orang yang tulus hati (pecinta kebenaran) dan saksi-saksi di sisi Tuhan mereka. Mereka berhak mendapat pahala dan cahaya. Tetapi orang-orang kafir dan mendustakan ayat-ayat kami, mereka itu penghuni-penghuni neraka." Al-Hadid : 57

"Dan sesungguhnya orang-orang beriman mengikuti kebenaran dari Tuhan mereka." Muhammad : 3

Iman adalah tentang kepercayaan dan keyakinan, bahasa mudahnya dalam akal pikiran saya. Lantas sudahkan kita memiliki kepercayaan dan keyakinan setulus hati terhadap eksistensi kita di muka bumi ini. Siapa sebenarnya jati diri kita? Apa sebenarnya tujuan kita ada di muka bumi ini? Apa iya, kita hidup dimulai dengan lahir, tumbuh kembang, bersekola mengenal dunia, jalan-jalan di akhir pekan, bekerja, menikah, mempunyai keturunan lalu kemudian mati? Dengan proses yang begitu panjang pada umumnya kehidupan seseorang, tidakkah kita berpikir tentang, "Dimana kita sebelum keluar dari rahim ibu kita? dimana keberadaan kita saat tertidur? sadarkah kita? Atau ingatkah kita? Atau tentang kejadian sehari-hari yang dimulai dari sebangun tidur hingga sampai tidur kembali menjelang malam. Ingatkah kita?".

Adakah terlintas di benak hati kita yang terdalam, bahwa semuanya ada yang maha mengatur segalanya. Tentang kuasa dan kebesaran. Raja penguasa alam semesta diantara milliaran manusia di penjuru dunia yang memiliki hampir rupa dan bentuk yang sama.

Dulu ketika kecil, saya pernah memikirkan hakikat kelompok manusia yang dipimpin oleh penguasa tertinggi di dalam golongannya. Tentang sebuah kerajaan-kerajaan yang berkuasa dengan kelompok masyarakatnya hingga di galaksi lain. Saya pernah pula memikirkan tentang reinkarnasi. Jadi saya dapat menyimpulkan, otak yang berfungsi untuk berpikir memang teramat liar sebab mampu memikirkan hal-hal imajinatif semacam itu. Namun kembali lagi kepada pertanyaan saya tentang siapa sebenarnya kita di kehidupan ini? Oke. Mudah sekali menjawabnya. Siapa kita tergantung siapa orang di sekitar kita.

Tetapi bukan itu yang saya maksudkan. Siapa kita versi saya adalah akan saya jawab sebagai seorang mahluk yang disebut hamba yang dimiliki Sang Maha Pencipta Alam Semesta beserta seisi-Nya. Lalu mengapa saya ada bersama manusia-manusia lainnya adalah tentang apa yang hanya bisa kita tahu dari tuntunan kehidupan seseorang yang beragama. Saya percaya Al-Qur'an sebab kalam Allah sangat jelas sekali menyatakan tentang agama dalam QS. Asy-Syura : 13 yang artinya, "Dia (Allah) telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad saw) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, Isa, yaitu tegakkanlah agama (keimanan dan ketakwaan) dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik (untuk mengikuti) agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama-Nya)  bagi orang yang kembali (kepada-Nya)."

Hakikatnya manusia hanya diberikan sedikit waktu saja untuk mengabdikan atau menghambakan dirinya untuk Sang Khalik sesuai dengan ajaran dan tuntunan kehidupan sebagai seorang khalifah di atas muka bumi, selain diberikan kesenangan dan permainan yang menyenangkan belaka. Manusia menjalani kehidupan bagaikan sebuah ujian/cobaan sebelum kembali ke kehidupan yang kekal. Lantas dengan waktu yang sedikit saja (umumnya 60 tahun), dunia teramat sebentar seperti persinggahan sementara namun dapat melalaikan, lalu saya malu menanyakan diri saya sendiri, "sejatinya usia ini telah dihabiskan untuk apa?" Astaghfirullah.

Wassalamua'laikum .
Share:

Desember 07, 2017

Gumbeng dan Batik Gumelem, Tradisi Warisan Leluhur

Indonesia memang tidak ada habisnya kalau berbicara tentang warisan budaya. Budaya yang terkenal hingga ke mata dunia mungkin baru hanya beberapa. Nyatanya teramat banyak seni budaya leluhur dari tiap daerah yang masih terjaga kelestariannya sampai sekarang. Meski sayang hanya sedikit saja dari generasi penerusnya yang turut menjaga dengan mempelajari tradisi-tradisi tersebut agar tetap eksis disandingkan dengan pergesaran majunya zaman di era globalisasi dengan senjatanya yang disebut teknologi.
 
Motif Batik Gumelem
Kesematan Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan Dinas Pariwisata Kabupaten Banjarnegara sebulan yang lalu. Kami berkunjung ke beberapa desa di mana disana terdapat warisan budaya yang utuh dijaga oleh masyarakatnya. 

Kunjungan pertama menuju ke sentra pembuatan batik tradisional. Batik Gumelem dikenalnya. Gumelem sendiri merupakan nama desa yang masuk ke area Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Ada dua jenis motif Batik Gumelem, yaitu tradisional dan kontemporer. Yang kontemporer mengikuti perkembangan zaman, seperti contohnya motif gambar kuil jepang. Sedangkan motif tradisional lebih menggambarkan budaya atau kedaerahan tentang Indonesia, seperti ikan, bunga, bambu dan lain-lain. Ciri khas Gatik Gumelem aslinya bermotif udan liris dan rujak senthe. Untuk warnanya cenderung gelap seperti coklat, hitam, kuning dengan karakter bunga-bunga. Dalam perkembangannya muncul pula motif lain seperti semen klewer, dawet uket, parang kembang, sekar bumi, dan kopi banjar. Pada zaman baheula, seni batik disana mendapat pengaruh dari Keratonan Surakarta.
 
Peserta famtrip berpose menggunakan Batik Gumelem
Harga sehelai kain batik tulis Gumelem berkisar antara 150k - 300k. Harga yang cukup murah sekali bukan. Harga tersebut pula masih boleh ditawar. Sungguh disayangkan, pemasaran batik ini masih terbatas penjualan di sekitar Banjarnegara dan marketing word of mouth (promosi dari mulut ke mulut). Kebanyakan pembelinya adalah mereka yang interest seni batik. Sehingga pasarnya masih cukup terbatas. Padahal menurut saya, kualitas Batik Gumelen tidak kalah dengan batik-batik lainnya yang sudah terkenal seperti Batik Pekalongan, Lasem, ataupun lainnya. 

Menjelang siang, kami diajak mampir ke SMP N 2 Susukan. Disana untuk melihat para siswanya praktek membatik yang termasuk dalam pelajaran muatan lokal di beberapa  sekolah di Banjarnegara. Sangat bagus sekali bukan. Budaya membatik yang memang harus dipelajari oleh generasi mudanya. Berharap sekali generasi muda Indonesia dapat mencintai budaya kedaerahan dari hal yang diajarkan seperti ini.
 
Mencanting kain batik setengah jadi
Beberapa siswa sedang praktek mencanting dengan menggunakan melem. Kemudian ada yang mewaranai kain dasarnya. Ada yang menggambar motif di kelas sebelum digambarkan ke kain batik setengah jadinya. Ternyata proses membatik tulis sangat rumit sekali. Bisa-bisa pengerjaannya memakan waktu lebih dari seminggu. Memang sekarang membatik bisa menggunakan teknologi seperti cap (press). Tetapi batik tulis itu rasa seninya berbeda. Intuisi seninya dapet lah bisa dibilang. Berbeda kalo dicap dengan motif yang terlihat biasa saja. Maka itu, membatik sudah sepantasnya harus dijaga dan diletarikan. Saya saja pengen belajar mbatik tulis. Masa iya generasi muda Indonesia gak bisa mbatik, kan payah. Padahal batik sudah diakui UNESCO sebagai warisan dunia dari Indonesia. Maka itu, yuk bangga dan mulai belajar membatik.

Praktek membuat motif yang selanjutnya digambarkan ke kain batik

Gumbeng Alat Musik Penolak Bala

Sore harinya, ada lagi satu tentang budaya Indonesia dari Desa Pagak, Kecamatan Susukan, Banjarnegara. Jujur saja, aku baru tahu pertama kali ketika mengikuti famtrip kemarin. Namanya Gumbeng. Ada yang tahu gak? Jadi Gumbeng adalah alat musik tradisional masyarakat Desa Pagak yang terbuat dari bambu. Alat musik ini hampir sama seperti calung, tetapi ada bagian kulit bambunya yang disayat lalu dikaitkan bagian tertentu. Seperti senar untuk dapat menghasilkan suara ketika dipukul dengan sebilah bambu jua. Sangat unik sekali bukan? Indonesia memang kaya warisan budayanya ya. Makin bangga deh jadi Indonesia. Saya Indonesia. Saya Pancasila.
 
Ini loh gumbeng itu, dipukul untuk menghasilkan suara.
Jenis gumbeng itu ada dua macam yaitu gumbeng dan lindu (sepitan). Bahan baku utamanya adalah bambu wuluh dan bambu petung. Pada zaman dahulu, seni gumbeng ini dijadikan hiburan para petani setelah masa panen. Selain itu dianggap sebagai satu hal yang sakral untuk menghormati sekaligus mengantar Dewi Sri ke kahyangan karena dipercaya telah menjaga dan memelihara tanaman padi petani.
 
Pemain Gumbeng
Kegunaan lain Gumbeng adalah sebagai alat pengusir hama penyakit tanaman maupun penyakit anak-anak kecil (tolak bala). Ada upacara khusus dalam rangka menolak bala dengan kidung jawa. Alat musik ini biasanya ditampilkan khusus hanya alat gumbengnya saja namun perkembangan masa kini warga Desa Pagak mengkombinasikan dengan alat musik lain sebagai pengiring.
 
Diiringi bermacam alat musik dan sinden yang menyanyikan kidung jawa
Di pelataran pendopo, lagu pertama yang ditampilkan tentang Tolak Bala. Arti dari alunan musik tradisional tersebut bukan lain tentang mengusir hama dan penyakit yang ada di dunia ini. Syair mengandung makna permintaan kepada Allah agar tanaman dan penyakit dijauhkan dari masyarakat. Pada lagu yang kedua, kami didengarkan lagu khas para petani yang biasa didengarkan untuk saran hiburan setelah masa panen.

Ketika saya perhatikan, alat musik gumbeng dipukul dengan mengikuti irama kidung yang dinyanyikan. Dengan ketukan yang sama polanya. Sangat menarik sekali. Mendengar musik Gumbeng seketika saya berada di masa entah berantah. Dengan tradisi jawa masa lampau yang masih terjaga. Oh ya alat musik ini dimainkan oleh kebanyakan orang tua (sesepuh) Desa Pagak yang masih menjaga tradisi leluhur mereka agar tidak punah termakan zaman. Semoga warisan ini juga tetap lestari.
Indonesia kaya budaya
 
Share:

Instagram